Pesan Ke-tiga dari Sang Habib

109

DI GRUMBUL paling ujung desa perbatasan dua kecamatan itulah, pengajian yang melibatkan belasan orang kampung penderes itu telah dilaksanakan. Tak hanya penderes, sejumlah anak muda turut serta. Ya tepatnya majelis dzikir.

Tetapi cara dzikir yang berbeda dari kebiasaan orang kampung itu menjadi sorotan warga. Sorotan itupun laun, pengajian itu menjadi buah bibir yang berujung pada kecurigaan dan prasangka. Maklum kampung itu bisa dibilang kampung ‘abangan’. Mereka mendapatkan pelajaran agama sekenanya, namun jangan salah kalau soal gotong royong mereka tidak ada tandingannya. Soal adab, unggah ungguh dan keramahan, janganlah ditanyakan.

“Kang, Jangan-jangan ini aliran sesat Kang. Masa dzikir tahlil harus bergelap-gelapan. Hitungannyapun lama sekali dan harus nyaris tengah malam, ” kata lelaki paruh baya berkumis.

Bener juga. Ini tak seperti ajaran kiai yang kita ikuti selama ini. Jangan sampai anak kita yang masih tanggung itu ikut-ikutan, ” jelasnya.

Ya, pembicaraan yang tak jelas itu makin berkembang. Ketidaktahuan, kesempitan pengetahuan, sedikitnya pengalaman sering membuat orang gampang menghakimi. Apakah ini bisa disalahkan. Tentunya tak bisa disalahkan, apalagi bagi orang-orang kampung ini hidup dengan segala keterbatasan.

Setelah itulah, dari belasan pengikut majelis itu sebagian ada yang mundur. Mereka lebih memilih mundur karena khawatir, manut hingga tak mau berkonflik. Mereka juga ingin manut apa yang dikhawatirkan orang tua. Namun sebagian lain masih tetap berjalan dan musala kecil di grumpul terpencil itu masih kerap dipakai oleh mejelis dzikir itu.

Lha wong yang dibaca itu kalimah tahlil Pa, cuma itunganya sampai 313 kali. Kalau soal lampu dimatikan, memang sengaja untuk kita semakin khusyuk. Malah kita diajak ziarah Pak. Bukankah bapak juga dari dulu sering ziarah, ” kata seorang pemuda pengikut majelis dzikir kepada bapaknya.

Si Bapak yang mendengar itu cuma manggut manggut. Dengan keterbatasan pengetahuan ia tak bisa menjawab apa yang dikatakan anaknya itu. Ya, mayoritas warga di kampung itu mendapatkan ilmu agama memang secara turun temurun. Kitab yang dipelajari lebih banyak merupakan kitab Turki (pitutur si kaki) atau ilmu warisan leluhur.

Namun kini sejumlah pemuda yang mulai bersekolah hingga SMA mulai menata dan mendongrak pengetahuan mereka. Mereka mulai mencari ilmu agama dan mengikuti organisasi agama yang ada. Maka sedikit demi sedikit mereka mengetahui soal seluk beluk agama hingga alirannya. Ketika melihat kondisi yang berbeda dan aneh di kampungnya inilah mereka juga mulai kritis.

***

Ndan, ada yang curiga dan khawatir dengan majelis dzikir dan ziarah yang selama beberapa bulan ini rutin dilaksanakan di sini, ” kata seorang warga pengikut majelis dzikir itu.

“Mereka juga khawatir kalau santunan untuk anak yatim piatu dan sebagainya hanya modus belaka mencari jamaah. Apalagi entah darimana uang yang didapatkan untuk santunan itu, ” kata pengikut lainnya lagi.

“Tapi mereka tak berani bertindak karena memang tahu kalau penyelenggara majelis ini Pak Polisi, ” ujar yang lain lagi.

Mendengar keluhan itu, orang yang dipanggil ‘Ndan’ singkatan dari komandan itu hanya tersenyum. Ia memandang tiga orang yang menjadi pengikut majelis dzikir ini.

“Tenang Kang. Bismillah kita niatkan mencari ridha Gusti Alloh. Tak usah khawatir, jangan balas apapun prasangka mereka. Yakinlah becik ketitik ala ketara. Yang penting kita yakin apa yang kita lakukan ini benar, ” katanya menenangkan.

Namun isu soal majelis itu semakin santer terdengar. Namun kegiatan majelis mulai dari dzikir, ziarah berjamaah hingga ke luar kota serta kegiatan santunan anak yatim piatu tetap berjalan.

***

Di saat matahari sepenggalah, Siwan masih saja sibuk membersihkan rumput di sebuah pendapa rumah di tepi jalan kabupaten kampung penderes. Siwan sudah lama sering dimintai tolong bapak muda yang sering disebut warga kampung itu sebagai ‘Pak Pulisi Negara’ untuk membersihkan rumah dan sekitarnya.

Namun siang di saat membersihkan rumput di halaman pendapa tempat anak yatim piatu berkumpul tiap Jumat Kliwon, seorang lelaki bersarung berpeci hitam dan berjenggot datang. Telah dua kali lelaki yang diperkirakan berumur 50-an tahun itu datang, untuk menemui sang empunya rumah. Tetapi tak kunjung ketemu.

“Mas polisi, tadi lelaki bersarung berjenggot tinggi besar itu datang lagi. Katanya orang itu biasa ngisi pengajian di Grumbul Kaliwungu,” kata Siwan kepada bosnya yang baru saja pulang dinas.

Karena penasaran dengan sosok lelaki berpostur tinggi besar, sang polisi itu lalu mencari tahu sosok identitas itu. Iapun melakukan ‘lidik’ ke grumbul desa tetangga itu. Tak susah untuk menemukan siapa sosok yang biasa memberikan pengajian di saat hari Ahad. Tepatnya, Ahad Kliwon.

Ah, setelah tahu siapa sosok itu. Tetapi ia tahu soal sosok tinggi besar berjenggot putih itu dari orang-orang lain. Ia sendiri belum pernah bertemu secara langsung. Ia mengetahui kalau pengasuh pengajian Ahad Kliwon di Grumbul Kaliwungu itu punya pesantren di perbatasan kabupaten. Ia sering di panggil Abah Habib. Itu saja.

Ia makin penasaran kenapa seorang yang belum dikenalnya itu datang ke rumahnya. Kenapa tiba-tiba? Ah, kenapa harus dirinya yang dicari. Ya, sosok habib pengasuh pesantren di ujung kabupaten itu datang.

Sayang rasa penasaran itu takkunjung terjawab. Rutinitas tugas sebagai bhayangkara negara belum sempat membuatnya sowan ke sosok itu.

“Pak, tadi orang tinggi besar berjenggot putih itu datang lagi. Menanyakan panjenengan,” jelas Siwan, tukang kebun setia.

Jadi makin penasaran saja kenapa beliau datang lagi. Ada apakah gerangan. Namun sayang ia tak sempat datang ke pesantren itu.
Bahkan akhirnya di saat, ia membongkar pendapa belakang rumah yang bisa menjadi tempat majelis dzikir, sang Habib datang lagi. Sayang, ia tak lagi berada di rumah.

“Pak, tadi orang tinggi besar itu menitipkan uang ini kepada saya. Katanya untuk bantu beli semen untuk pondasi pendapa ini, ” kata Kaki Siwan menyerahkan amplop berisi uang 120 ribu.

Ya, ia memang membongkar pendapa itu. Atas perintah sang guru SMA sekaligus, yang akhirnya turut menjadi guru spiritual puluhan tahun lamanya. Kata gurunya itu, disarankan lantai pendapa itu direndahkan lagi. Entah apa maksudnya, tapi ia yakin perintah sang guru pasti baik.

***

Usai lepas dinas di markas polisi itu, ia akhirnya langsung menarik gas menuju pesantren tempat sang Habib. Yang dipikirkannya sekarang adalah semoga ia bisa menemui sang Habib.

Benarkah, ia akhirnya sampai ke ‘Ndalem’ sang Habib. Usai mengulukkan salam, ia kemudian dipersilakan masuk ke rumah pengasuh pesantren. Pintu rumah itu memang selalu terbuka, dalam arti sebenarnya ataupun lebih luas lagi.

Setelah ia dipersilakan masuk ke dalam ‘Ndalem’ sang Habib, ia duduk di ruang tamu. Lamat-lamat terdengar lantunan nadzom dan bacaan Quran dari para santri di pondok pesantren itu. Sang polisi tersenyum sendiri dan geleng geleng kepala.

“Ah, betapa… Ya betapa…., ” Ia membatin kemudian tak terduga sosok tinggi besar berjenggot putih itu datang.

“Eh Bib, ” spontan ia menyapa, dan langsung mencium tangan sang Habib di hadapannya.
Singkat cerita, ia mengucapkan terimakasih atas kedatangan sang Habib ke rumahnya termasuk soal amplop yang diberikan kepada tukang kebun di rumahnya.

Maturnuwun lho Bib, ” katanya.

“Ada ya polisi yang itu thoriqoh, ” kata sang habib dengan tenang tak terkira. Iapun mengetahui kalau Sang Habib juga tak lain merupakan sang mursyid thoriqoh.

Pernyataan itu menyentaknya. Ya, meskipun sebenarnya banyak juga polisi yang ikut thoriqoh. Namun pernyataan itu sungguh membuatnya semakin menunduk. Ia tak bisa menjawab pernyataan itu. Karena memang mungkin lebih baik tak perlu dibalas atau ditanggapi. Dan semakin jelaslah, kedatangan habib itu ke rumahnya terkait dengan keresahan warga dengan majelis dzikir yang diadakannya itu.

Mungkin ada yang memberitahu sang habib tentang kegiatan majelis dzikir kepada sang habib. Ya mungkin. Karena memang ia merasa tak perlu untuk mengklarifikasi hal itu kepada sang habib.

***

Selasa Kliwon, 24 Juli 2018 berita duka itu sungguh mengejutkan para santri, para salik pengikut thoriqoh, warga dan pecintanya. Sang Habib yang sudah bolak balik berapa bulan menjalani cuci darah ke rumah sakit itu dikabarkan meninggal dunia.

“Ndan, kebetulan ini mau bikin rute pemakamannya ke mana, ” ujar sang polisi kepada komandan Banser yang ada di dalem itu. Akhirnya setelah bermusyawarah ditentukanlah rute pemakaman sang Habib melalui depan masjid memutar kompleks pondok dan akhirnya di pemakaman keluarga yang berada di selatan asrama pondok putra.
Ribuan pelayat datang menghadiri kepulangan sang Habib menghadap Sang Kekasih Sejati.

Tak bisa diungkapkan bagaimana riuhnya prosesi pemakaman itu. Jalan nasional Purwokerto Jakarta tersendat selama prosesi pemakaman itu. Usai pemakaman itu, Sang polisi hanya bisa termenung.

Ya, hanya tiga kali ia bertemu dengan Sang Habib. Sejak mengenalnya langsung berhadapan hingga 40 hari jelang meninggalnya saat ia sowan terakhir ke pesantren. Meski hanya tiga kali, namun ia merasa mengenal Sang Habib lama sekali. Di matanya masih terlihat jelas wajah tenang sejuk Sang Habib.

“Pendapa itu sudah jadi Bib. Terimakasih Bib,” katanya membatin memandang ribuan pentakziyah hilir mudik keluar masuk ke areal makam itu.

***

“Kalau itu pesan Abah Anom, maka teruskanlah. Sekuatmu,” pernyataan dari sang habib itu membuat jantungnya langsung berdetak. Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diingatnya saat pertemuan ketiga sang habib.

Entahlah kepada pesan ketiga dari sang habib itu bisa serta merta muncul. Padahal dia tak pernah menceritakan pengalaman perjalanannya hidupnya kepada sang habib, apalagi soal pertemuan dan pembicaraanya dengan sang Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin RA sewaktu ia masih berumur 21 tahun.

Sambil mencuri-curi pandang, ia memandang wajah sang habib. Entahlah kemudian ia seperti kembali pertemuannya dengan Abah Anom saat memberi pesan kepadanya.

“Cobalah semampumu rawat anak-anak yatim desamu, carilah sumber air untuk kebutuhan sehari-hari wargamu untuk bersuci/thoharoh, dan tanamlah pohon-pohon aren di sungai-sungai desamu, lakukanlah perbuatan baik ini selama ± 24 tahun semampumu.

Nggih Bib, nyuwun pendhonganipun, ” Lagi-lagi ia membatin, mengulang pernyataannya sekaligus sebagaimana pernah dikatakan di hadapan sang mursyid itu. Ya rasanya baru kemarin. Tak terasa buliran kristal air jatuh dari sudut dua matanya. (Susanto-)

1 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.