Munajat Al Hallaj

Munajat Al Hallaj
Gambar diambil dari senimannu.com

Abu Mughits al-Husain bin Mansur Al hallaj, seorang tokoh sufi yang lahir pada tahun 866 Masehi di Iran. Kita lebih mengenal beliau dengan nama Al-Hallaj.

Banyak umat Islam mengenal Al-Hallaj karena ucapan kontroversialnya “Ana al-Haqqu”, akulah kebenaran. Ucapan Al-Hallaj ini kemudian oleh para Ulama Fiqh dipahami sebagai ucapan yang menyimpang, bahwa Al-Hallaj mengaku dirinya sebagai Sang Kebenaran, Allah.

Tapi apakah benar Al Hallaj adalah seorang sufi yang menyimpang? Ataukah kita yang belum bisa memahami apa yang dimaksud Al-Hallaj?

Seorang penyair sufi, Syekh Fariduddin Attar mengisahkan secara puitik kehidupan Al-Hallaj dalam kitabnya Tadzkiratul Auliya. Syekh Attar menggambarkan Husain Al-Mansur sebagai seorang yang zuhud semenjak remaja.

Husain Al-Mansur semasa remaja menghabiskan waktunya untuk bekerja memisahkan biji kapas sambil membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Sebutan Al-Hallaj juga berawal dari sini, yang secara harfiah mempunyai arti si pemisah biji kapas.

Al-Hallaj sebagaimana wali lainnya, sangat ketat dan berpegang teguh pada syariat. Al-Hallaj pernah ditanya oleh seseorang tentang madzhabnya dalam Fiqh, beliau menjawab “Aku mengambil pendapat tersulit dari setiap madzhab dalam setiap urusan”.

Al-Hallaj sangat dihormati oleh semua generasi sufi setelahnya. Tidak ada satu kitab mengenai kesufian yang tidak menuliskan nama Al-Hallaj sebagai salah satu sufi berpengaruh. Dalam salah satu riwayat Akhbarul Baghdad, Al-Hallaj dituliskan sebagai seorang sufi yang banyak melakukan sholat sunnah dalam sehari semalam, sering bersedekah, melakukan puasa dawam, dan beberapa kali melakukan perjalanan haji ke Makkah dengan berjalan kaki.

Fatawwalul Haqqu, ini merupakan salah satu pandangan rohani dari Al Hallaj yang artinya adalah “Allah telah mengambil alih kehidupan hamba dengan Cinta-NYA”. Ajaran cinta dari Al-Hallaj ini sangat jarang sekali diketahui oleh kita saat ini.

Al-Hallaj menjelaskan bahwa kondisi Fatawwalul Haqqu adalah ketika seorang hamba sudah sangat dekat dengan Tuhan, maka segala dimensi kemanusiaan dari seorang hamba kemudian diambil alih oleh dimensi keilahian.

Seorang hamba bisa mencapai kedekatan dengan Tuhan apabila seluruh aktifitas ibadahnya bukan karena kewajiban, melainkan sebuah sarana pemenuhan kerinduan.

Apabila hati seorang hamba penuh cinta kepada Tuhannya, maka Tuhan akan melingkupi diri hamba dengan Kasih SayangNya. Sebagaimana hadits qudsi yang sangat masyhur di kalangan para sufi.

Allah berfirman  “Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”

Baca Juga : Wasilah dengan Seekor Belalang

Dalam sebuah buku “Tafsir Al-Hallaj” yang diterbitkan oleh alif.id, mencantumkan sebuah munajat yang konon merupakan doa Al-Hallaj seusai sholat dua rakaat sebelum naik ke tiang gantungan atas tuduhan sesat dari para fuqaha dan diamini oleh Khalifah Al-Muqtadir Billah pada masa kekhalifahan Abbasiyah.

“Ya Allah, dengan hak pemenuhanMU terhadap hakku, dan dengan hak pemenuhanku terhadap hakMU. Sedang pemenuhanku terhadap hakMU bertentangan dengan pemenuhanMU terhadap hakku karena pemenuhanku terhadap hakMU bersifat kemanusiaan sedangkan pemenuhanMU terhadap hakku bersifat ketuhanan.

Sedangkan kemanusiaanku sirna di dalam ketuhananMU, tidak berbaur dengannya, dan ketuhananMU menguasai kemanusiaanku yang tiada apapun menyerupainya.

Aku memohon kepadaMU agar merestuiku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, lantaran Engkau telah menyingkapkan untukku pandangan – pandangan wajahMU.

Dan Engkau telah memperkenankan kepada selainku mengenai apa yang Engkau perbolehkan bagiku berupa pemandangan terhadap hal-hal yang tersembunyi dalam rahasiaMU.

Dan mereka itu adalah hamba-hambaMU yang telah berkumpul untuk membunuhku lantaran agamaMU.

Maka ampunilah mereka, karena sesungguhnya jika Engkau menyingkapkan mereka apa-apa yang Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak melakukannya.

Dan seandainya Engkau menutupi dariku apa-apa yang Engkau tutupi dari mereka, niscata Engkau tidak akan mengujiku dengan ujian yang Engkau berikan kepadaku.

BagiMU segala puji atas apa-apa yang Engkau lakukan, dan bagiMU segala puji atas apa-apa yang Engkau kehendaki.”

Munajat ini merupakan ringkasan dari ajaran dan pemahaman Al-Hallaj terhadap rasa Cinta mendalam kepada Tuhan dan kemanusiaan seorang Al-Hallaj yang telah dikuasai oleh sifat ketuhanan dari Allah.

Tidak ada ekspresi tentang penyatuan atau pengakuan bahwa Al-Hallaj adalah Tuhan, yang ada hanyalah kerendahan hati seorang hamba yang dilingkupi oleh kasih sayang Allah. (*)

Tulisan sebelumnyaWasilah dengan Seekor Belalang
Tulisan berikutnyaTernyata Mengurusi NU itu Menyehatkan

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini