Menyingkirkan Jagung Dari Jalan

256
Gus Sadun SAMAWI
Muhammad Sa'dullah (Gus Sa'dun), Pengajar di Ponpes Ath Thohiriyyah, Purwokerto, (istimewa)

DICERITAKAN bahwa Abu Mansur bin Dzukair adalah orang yang zuhud lagi shalih. Ketika menjelang wafatnya, beliau banyak menangis.

Dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau banyak menangis, wahai Abu Mansur?”

Abu Mansur menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, aku berjalan di jalan yang tidak biasa aku lalui”.

Ketika Abu Mansur wafat, anaknya bertemu Abu Mansur dalam mimpi, pada malam ke-empat.

Anaknya bertanya, “Apa yang dilakukan Allah kepadamu, wahai Bapakku?”

Abu Mansur menjawab, “Wahai anakku, urusanku lebih sulit ketimbang sesuatu yang engkau bayangkan. Kau berperasangka bahwa saya ketemu dengan malaikat yang adil, bahkan melebihi adilnya orang yang sangat adil. Aku melihat orang yang saling bertengkar dan saling berdebat”.

Tuhanku berkata kepadaku, “Wahai Aba Mansur, Aku telah memberimu umur 70 (tujuh puluh) tahun, lalu apa yang ada pada dirimu?”

Abu Mansur menjawab, “Wahai Tuhanku, aku menunakan haji 30 tahun.”

Allah berkata: “Aku tidak menerimamu.”

Abu Mansur menjawab, “Aku bersedekah 40 ribu dirham dengan tanganku sendiri.”

Allah berkata: “Aku tidak menerimamu”.

Abu Mansur menjawab, “Aku berpuasa di siang hari dan qiyamulail di malam hari, 60 tahun.”

Allah berkata: “Aku tidak menerimamu”.

Abu Mansur menjawab, “Aku ikut berperang, 40 perang.”

Allah berkata, “Aku tidak menerimamu”

Abu Mansur menjawab, “Ketika amalku tidak diterima, sia-sialah amalku.”

Allah berkata: “Bukan dari kedermawananku, aku menyiksa seperti itu, wahai Abu Mansur. Apakah kau tidak ingat, suatu hari, kau menyingkirkan biji jagung dari jalan, supaya orang Muslim yang lewat tidak tergelincir. Yang demikian itu, menjadi sebab Aku menurunkan kasih-sayangku untukmu. Bahwasanya aku tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.”

****

Dari cerita ini menjadi jelas bahwa, menyingkirkan sesuatu di jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan, menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan.

Oleh karenanya, siapa pun yang menghilangkan sesuatu yang menyakitkan pada diri manusia, hal tersebut akan bermanfaat baginya kelak pada hari digiringnya manusia.

Lebih-lebih, tidak menyakiti orang-orang mukmin, terlebih lagi tidak menyakiti keluarga. Orang muslim itu adalah orang yang selamat dari lisan, dan tangannya.

Wahai Tuhanku, jadikan kami orang-orang yang bermanfaat, bukan orang yang berbuat madharat. Amin. (Tafsir Haqqi, Juz 3, hal. 112).

Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.

Muhammad Sa’dullah
Pengajar di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Parakanonje, Purwokerto, dan Founder Samawi

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here