LANGIT pagi Griya Asri Karangsalam Kidul mengiringi langkah jamaah Majelis Ta’lim Al Fattah yang mengikuti kegiatan Ziarah dan Rihlah Syaban, Sabtu (24/1/2026). Perjalanan ini bukan sekadar wisata religi, melainkan ikhtiar ruhani untuk mengisi bulan Syaban dengan amal saleh, doa, dan napak tilas sanad keilmuan Al-Qur’an yang hidup dalam tradisi ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Pengasuh Majelis Ta’lim Al Fattah, Siti Nurhayati Alhafidzoh, menjelaskan bahwa ziarah sengaja diarahkan ke makam dan pesantren para ulama yang memiliki jalur sanad ilmu Al-Qur’an yang jelas dan bersambung. “Mayoritas makam yang kami ziarahi adalah para masyayikh Qur’ani, pewaris sanad tilawah dan tahfidz. Ini penting agar jamaah memahami bahwa Al-Qur’an kita terima melalui mata rantai keilmuan yang terjaga,” tuturnya.
Rangkaian ziarah diawali ke makam KH Attabik Yusuf Zuhdi di lingkungan Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an 2 Ciwarak, Karanggintung, Sumbang. Perjalanan dilanjutkan ke makam Abuya KH Toha Alawiy Al Hafidz di Pondok Pesantren Ath Thohiriyyah, Pakarenje, Karangsalam Kidul, sosok ulama Al-Qur’an yang memiliki kedudukan khusus dalam perjalanan keilmuan Siti Nurhayati.
“Abuya KH Toha Alawiy adalah guru kami dalam sanad Al-Qur’an. Ziarah ke beliau bukan hanya bentuk takzim, tetapi juga penguatan batin agar kami dan jamaah istiqamah menjaga adab terhadap Al-Qur’an dan guru,” ungkap Siti Nurhayati dengan nada reflektif. Baginya, Syaban adalah bulan menyambung kembali hati murid kepada guru, dan guru kepada sumber ilmu.
Ziarah kemudian berlanjut ke makam KH Ma’mun Al Kahfi Al Hafidz di Pondok Pesantren Al Husaini II, Rejasari, Purwokerto Barat, dilanjutkan ke maqam Syaikh Makhdum Wali di Pasir, Karanglewas, Banyumas. Setiap titik ziarah menjadi ruang tafakur, mengingat bahwa kejayaan ilmu Al-Qur’an lahir dari kesabaran, riyadlah, dan pengabdian panjang para ulama.
Perjalanan ditutup dengan ziarah ke makam KH Ridwan Sururi Al Hafidz di Pondok Pesantren An Nur, Kedungbanteng. Di sepanjang rute, jamaah tidak hanya melantunkan doa, tetapi juga diajak merenungi jejak hidup para alim yang mewakafkan usia mereka untuk Al-Qur’an, jauh dari sorotan namun dekat dengan keberkahan.
Menurut Siti Nurhayati, rihlah yang menyertai ziarah menjadi sarana menyeimbangkan ruh dan rasa. Kebersamaan dalam perjalanan, rehat sederhana, dan dialog ringan antarjamaah justru memperkuat ikatan batin. “Syaban bukan bulan yang kosong. Ia harus diisi dengan amal, adab, dan cinta pada Al-Qur’an agar Ramadhan kita benar-benar hidup,” ujarnya.
Melalui Ziarah dan Rihlah Syaban ini, Majelis Ta’lim Al Fattah berharap jamaah pulang dengan kesadaran baru: bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah personal, melainkan amanah sanad yang harus dijaga dengan akhlak, keistiqamahan, dan penghormatan kepada para pewaris ilmu. Di bulan Syaban, mereka memilih berjalan menyusuri jejak ulama—menyiapkan hati sebelum Ramadhan tiba.












