Beranda Tokoh

Manaqib Syekh Husain Zamahsyari Parid

Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, berdiri kokoh sebuah masjid yang dibangun pada 1917 Masehi. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Cilacap. Di balik bangunannya, tersimpan pusara seorang waliyullah yang kisah karamahnya belum banyak diketahui masyarakat. Beliau adalah Syekh Husain Zamahsyari, seorang mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang turut membangun peradaban di Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap.

Syekh Husain lahir di Kebumen, Jawa Tengah, sekitar tahun 1820 Masehi dan wafat pada 1948, tiga tahun setelah Indonesia merdeka. Sepanjang hidupnya, beliau banyak mencurahkan waktu untuk menyebarkan ilmu agama, khususnya dalam bidang ketarekatan. Dakwahnya berkembang pesat, sebagaimana terlihat dari para muridnya yang tersebar di berbagai daerah. Di antara murid-murid tersebut adalah Syekh Abdullah bin Husain, putra beliau yang meneruskan ajaran tarekat di daerah Parid. Selain itu, terdapat Syekh Ghozali, adik beliau, yang menyebarkan tarekat di wilayah Gombong dan Kuwarasan, Kebumen; Syekh Sanusi yang berdakwah di daerah Langgen, Jawa Barat; serta Syekh Bustam yang menyebarkan tarekat di Purwosari, Lampung.

Kegigihan Syekh Husain dalam menuntut ilmu telah membawanya hingga ke Makkah. Di sana, beliau berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang berpusat di Jabal Qubais. Selama berada di Jabal Qubais, Syekh Husain dipercaya menjadi guru sekaligus khalifah yang membantu gurunya, terutama dalam urusan ketarekatan, termasuk membimbing para murid.

Selain menimba ilmu di Makkah, Syekh Husain juga berguru kepada Syekh Siraj, mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di Johor Bahru, Malaysia. Perjalanan beliau untuk berguru kepada Syekh Siraj berawal dari sebuah mimpi. Dalam mimpi tersebut, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani datang dan memerintahkannya untuk mencari seorang guru guna memperdalam serta meningkatkan keilmuannya dalam Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Atas petunjuk tersebut, Syekh Husain kembali ke Jawa dan menemui Syekh Zarkasyi di Berjan, Purworejo. Setelah mendengar maksud kedatangannya, Syekh Zarkasyi mengarahkan beliau untuk berguru kepada Syekh Siraj. Syekh Husain kemudian menimba ilmu kepada Syekh Siraj selama kurang lebih tujuh tahun. Setelah itu, beliau diangkat menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Beliau selanjutnya kembali ke Jawa dan mendapat arahan dari Syekh Zarkasyi untuk menyebarkan tarekat tersebut ke wilayah selatan Pulau Jawa, tepatnya di daerah Cilacap.

Ketika pertama kali memasuki wilayah Cilacap, Syekh Husain sempat bermukim selama beberapa waktu di daerah yang kini dikenal sebagai Donan. Dari sana, beliau berpindah ke Alas Malang, Kutawaru, sebelum akhirnya menetap di daerah yang sekarang dikenal sebagai Parid, Desa Ujungmanik.

Pada awal 1917, kawasan tersebut masih berupa hutan lebat dan rawa-rawa belantara yang sunyi. Konon, siapa pun yang memasuki wilayah itu sulit untuk keluar kembali. Kawasan tersebut dikenal memiliki banyak buaya dan binatang buas. Selain itu, berkembang pula cerita tentang banaspati tanah liat yang dipercaya dapat menarik seseorang masuk ke dalam tanah. Sebelum kedatangan Syekh Husain, empat orang telah mencoba membuka hutan tersebut, tetapi semuanya dikisahkan hilang tanpa jejak.

Syekh Husain menjadi orang kelima yang datang untuk membuka kawasan itu. Beliaulah yang merintis pembukaan lahan rawa hingga akhirnya berkembang menjadi area permukiman. Di tempat terpencil inilah Syekh Husain mulai menetap, mengajarkan ilmu agama, dan membimbing masyarakat setempat.

Salah satu peninggalan Syekh Husain yang masih dapat disaksikan hingga sekarang adalah Masjid Agung Darussalam. Terdapat sejumlah kisah di luar nalar manusia yang berkembang seputar masjid ini. Bahkan, proses pembangunannya pun menyimpan cerita yang diyakini sebagai salah satu karamah beliau.

Pada mulanya, Syekh Husain berniat mendirikan sebuah masjid. Namun, kawasan yang hendak digunakan untuk pembangunan masih berupa rawa-rawa. Kondisi tersebut membuat seseorang bertanya-tanya, bahkan mengira Syekh Husain hendak membangun masjid di atas rawa. Menanggapi pertanyaan itu, sang Syekh hanya menjawab bahwa kelak masjid tersebut akan berdiri.

Pada malam harinya, ada seseorang yang tidak tidur dan menyaksikan peristiwa luar biasa. Ia melihat banyak orang berjubah putih sedang menguruk kawasan rawa tersebut. Keesokan harinya, lahan yang semula berupa rawa telah tertimbun tanah dan siap digunakan untuk pembangunan masjid. Peristiwa ini diyakini sebagai salah satu karamah Syekh Husain, yakni adanya bantuan makhluk gaib dalam proses pembangunan masjid.

Setelah masjid selesai dibangun, kawasan di sekitarnya ternyata masih kerap dilanda banjir akibat pasang surut air laut dan hujan deras. Melihat kondisi tersebut, Syekh Husain memohon pertolongan kepada Allah Swt. serta bertawasul kepada gurunya, Syekh Siraj. Setelah melakukan mujahadah, beliau kemudian menyeret tongkatnya dari tepi masjid ke arah laut.

Keesokan harinya, bekas lintasan tongkat tersebut dipercaya telah berubah menjadi parit atau sungai yang berfungsi mengalirkan air sehingga genangan dapat teratasi. Dari peristiwa inilah, konon, nama “Parid” berasal. Nama tersebut kemudian menjadi penanda sekaligus bentuk penghormatan terhadap karamah Syekh Husain.

Perjalanan dakwah Syekh Husain juga tidak selalu berjalan mulus. Beliau pernah dipenjara di Pulau Nusakambangan oleh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap melanggar batas kekuasaan kolonial. Namun, masa penahanan tersebut justru diiringi kisah yang oleh masyarakat dipandang sebagai salah satu karamah beliau.

Dikisahkan, selama menjalani masa penahanan, setiap hari Jumat Syekh Husain tetap hadir untuk menjadi imam salat Jumat di Masjid Agung Darussalam. Peristiwa tersebut disaksikan oleh orang-orang yang hadir di masjid. Kejadian itu terus berlangsung selama lima tahun, hingga akhirnya beliau dibebaskan.

Penulis: Khuriyah, S.SA
Alumni Ma’had Aly Andalusia, Kebasen, Banyumas