Laqad Ja’akum: Wirid Anti Bacok!

 

Oleh: Rujito, M.Sos.*

Saya pertama kali mengenal wirid Laqad ja’akum bukan dari kitab tafsir, melainkan dari tradisi pesantren. Saat mondok dulu, kiai kami memberi ijazah sederhana namun tegas: membaca ayat Laqad ja’akum min anfusikum setelah salat maktubah, tujuh kali, rutin dan istikamah. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada dalil tambahan. Hanya satu pesan: amalkan.

Wirid itu kami baca bersama-sama, berjamaah, hampir empat tahun tanpa henti. Setiap selesai salat, ayat itu mengalir begitu saja dari lisan para santri. Kami sami’na wa atha’na. Toh, di pesantren, patuh sering kali lebih dulu daripada paham. Dan jujur saja, saat itu kami belum benar-benar mengerti apa makna dalam ayat tersebut.

Di sela-sela kehidupan pondok, beredar pula “tafsir versi santri senior”. Katanya, Laqad ja’akum itu wirid jadog. Wirid anti bacok. Kalimat yang membuat kami terkekeh, setengah percaya setengah bercanda. Tapi justru di situlah menariknya tradisi pesantren: antara laku spiritual, humor, dan keyakinan yang berjalan beriringan.

Waktu berjalan. Mondok selesai. Saya kuliah, mengaji lagi, membaca tafsir, dan mulai bertemu Laqad ja’akum dalam bingkai yang jauh lebih luas. Ayat itu ternyata bukan sekadar bacaan penolak bala, tetapi salah satu potret paling indah tentang kepribadian Rasulullah Muhammad SAW.

Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 128: “Laqad ja’akum rasulun min anfusikum, ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum, harishun ‘alaikum, bil mu’minina ra’ufur rahim.” Ayat ini menegaskan bahwa Rasul itu manusia biasa, dari jenis kita sendiri. Bukan makhluk asing. Bukan sosok jauh dari realitas hidup umatnya.

Namun pada saat yang sama, ayat ini memberi validasi karakter Nabi yang luar biasa. Beliau sangat berat melihat umatnya menderita, sangat peduli pada keselamatan manusia, dan memiliki kasih sayang serta kelembutan hati yang mendalam. Inilah keistimewaan Rasulullah: kemanusiaannya yang paripurna.

Di titik ini saya baru paham, mengapa kiai dulu tidak banyak menjelaskan. Karena ayat ini bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk dihidupi. Laqad ja’akum bukan sekadar wirid lisan, melainkan wirid karakter. Wirid untuk membentuk cara pandang, sikap, dan kepedulian sosial.

Membaca ayat ini berulang-ulang sejatinya adalah latihan batin agar kita tidak tega melihat orang tertindas, tidak ringan menyakiti, dan tidak tega membuat sesama terluka. Jika karakter Nabi ini benar-benar meresap dalam diri, maka Islam akan hadir sebagai rahmat, bukan ancaman.

Dan di sinilah saya akhirnya tersenyum sendiri mengingat guyonan lama para senior: wirid anti bacok. Ternyata mereka tidak sepenuhnya salah. Bukan karena ayat ini membuat tubuh kebal senjata, tetapi karena orang yang meneladani akhlak Nabi—lembut, peduli, manusiawi—nyaris tak punya musuh.

Sebab, mari jujur saja: kalau seseorang sudah baik pada sesama, empatik, tidak menindas, dan memanusiakan manusia, siapa pula yang tega membacoknya? Di titik itulah saya paham, Laqad ja’akum memang wirid yang dahsyat—bukan untuk kebal, tapi untuk beradab.

*) Penulis tercatat sebagai dosen tamu di UIN Saizu Purwokerto, Wakil Sekretaris PCNU Banyumas dan Pengurus MUI Kabupaten Banyumas.