Jelang Muktamar NU, Lesbumi Diusulkan Jadi Badan Otonom

SECARA substansial, NU didirikan bukan semata untuk menjawab problematika umat yang terkait dengan masalah keagamaan tapi lebih luas dari itu, NU hadir untuk menjawab persoalan umat dalam konteks kebudayaan.

Ketika disebut sebagai penerus dakwah Wali Sanga, konsekuensinya NU mustahil alergi apalagi menafikan kebudayaan sebagai jalan dakwah. Idealnya, NU berada di garda depan dalam menghimpun dan mengonsolidasi ragam gerakan adat istiadat, tradisi dan budaya yang berbasis ketauhidan di Nusantara.

Satu-satunya aset dari identitas bangsa ini yang secara efektif dapat digunakan untuk melawan arus penetrasi global adalah kebudayaan. Dalam hal ini kebudayaan yang berasal dari sinaran tauhid. Dengan demikian, NU secara jama’ah dan jam’iyyah adalah Jalan Kebudayaan yang berbasis Ketauhidan.

Dalam kurun 5 tahun, Lesbumi mengalami perkembangan yang pesat. Lesbumi bagai cendawan di musim hujan tumbuh di berbagai daerah secara swadaya. Tercatat saat ini terdapat 8 (delapan) Pengurus Wilayah Lesbumi NU, 116 Pengurus Cabang, 256 Pengurus MWC, 303 pengurus Anak ranting, 4 PCI Lesbumi NU di Rusia, Belanda, Riyadh, dan di Western Australia (Perth).

Tak hanya itu, sejumlah pondok pesantren, berbagai lembaga pendidikan dan komunitas seni memperlihatkan sikap simpati dan tertarik untuk berkolaborasi bahkan bergabung dengan Lesbumi
NU.

Hal ini mengindikasikan, gerakan Lesbumi efektif dan efisien dalam mengartikulasikan pesan-pesan keagamaan kepada semua pihak.

Dalam rangka membekali wawasan kebudayaan berbasis tauhid kepada pengurus dan anggota, Lesbumi NU sejak Rakornas III telah memiliki wahana kaderisasi. Secara prinsip, wahana kaderisasi diselenggarakan untuk menjelaskan Tujuh Prinsip Kebijaksanaan Kebudayaan (Saptawikrama).

Wahana kaderisasi itu bernama Asrama Saptawikrama yang disingkat Astawikrama untuk seluruh tingkatan pengurus, dan Pesantren Ramadhan Islam Nusantara (PRAMISTARA) untuk santri di pondok pesantren.

Rakornas IV di Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, Kamis-Jumat (28-29/10/2021). Hampir seluruh perwakilan Lesbumi NU hadir dalam gelaran tersebut, PC Lesbumi NU Banyumas salah satunya.

Harapan agar Lesbumi NU kembali menjadi Banom sebagaimana ketika Lesbumi didirikan. Sesungguhnya menjadi aspirasi kuat yang muncul dari anak ranting, ranting dan cabang. Juga termasuk wilayah (PWM NU) yang membutuhkan garis koordinasi, instruksi dan komunikasi yang lebih efektif dan efisien.

Keinginan Lesbumi hasil rakor ke IV Kaliopak itu penting. Namun bagi jiwa otonom juga hal yang tak kalah pentingnya. Apabila memang para Kyai di Cabang, Wilayah, maupun PB merestui Lesbumi NU menjadi Banom Alhamdulillah. Namun jika belum merestui pun kami tetap Alhamdulillah.

Selain semangat kuat dari semua lapisan pengurus, secara teknis Lesbumi juga sudah memenuhi syarat untuk menjadi badan otonom (Banom). Ketersediaan dan penyebaran Lesbumi di berbagai daerah di dalam dan luar negeri. Didukung pula anggota Lesbumi NU di setiap tingkatan dimana 70 persen lebih telah mengikuti program Madrasah Kader NU.

Karena hal tersebut maka pada Rakornas IV Lesbumi di Pesantren Kaliopak, Yogyakarta merekomendasikan kepada Muktamar 34 untuk mengabulkan Lesbumi kembali menjadi Badan Otonom NU.

Selanjutnya, rekomendasi ini menjadi bahasan di dalam komisi organisasi, bahtsul masail maudhuiyyah, dan komisi program kerja pada Muktamar NU 34 di Lampung.

Syaikhul Irfan,
Ketua PC Lesbumi NU Banyumas

Tulisan sebelumnyaIkut Fatayat Dengan Riang Gembira
Tulisan berikutnyaAlhamdulillah! 22 Penghafal Al Qur’an Ponpes At Thohiriyyah Diwisuda

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini