DELAPAN KESUNAHAN DALAM SALAT IDUL FITRI

355
Gus Sadun SAMAWI
Muhammad Sa'dullah (Gus Sa'dun), Pengajar di Ponpes Ath Thohiriyyah, Purwokerto, (istimewa)

Momen Idul Fitri sudah sangat terasa, setelah sidang itsbat usai terlaksana. Langit luruh bersama desir angin yang mengantarkan keceriaan. Kebahagiaan memancar dari setiap Muslim yang akan merayakan hari kemenangan.

Idul Fitri menjadi hari yang dinanti oleh segenap umat muslim. Idul Fitri selayaknya disambut dengan suka cita. Menyambut dengan kebahagiaan lahir batin. Menata batin dengan bening, menata jiwa dengan ceria, sekaligus menata diri guna menyempurnakan hari kemenangan.

Untuk menyempurnakan momen Idul Fitri, ada kesunahan-kesunahan yang layak untuk menambah rasa kebahagiaan saat momen hari kemenangan. Adapun kesunahan-kesunahan tersebut yaitu:

Pertama, mengakhirkan pelaksanaan salat Idul Fitri. Mengapa shalat Idul Fitri sunnah diakhirkan? Karena memberi kesempatan dan keleluasaan bagi muzakki (orang yang berzakat) untuk mengeluarkan dan mendistribusikan zakat fitrahnya kepada 8 asnaf, yaitu: fakir, miskin, amil zakat, muallaf, hamba sahaya, gharim, sabilillah dan ibnu sabil.

Selain itu, disunnahkan pula melaksanakan salat Idul Fitri saat matahari terbit dan tingginya kurang lebih 1 tombak. Ukuran 1 tombak, kurang lebih 2,5 meter, 7 hasta (dzira’) pandangan mata jarak dekat. (Kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz 1, hal. 593-594).

Dalam Kitab At-Taqrirat As Sadidah dijelaskan, bahwa qadra rumhin (1 tombak), jika dikonversi dalam ukuran jam, kurang lebih 16 menit, atau setara 4 derajat, setelah matahari terbit. Contoh; matahari terbit pukul 06:00 pagi, maka waktu dhuha 16 menit kemudian, yaitu pukul 06.16 menit. (At-Taqrirat As Sadidah, Juz 1, hal. 192).

Baca Juga : Bilal Shalat Idul Fitri

Kedua, Salat Idul Fitri dilaksanakan di Masjid. Jika masjid yang digunakan untuk pelaksanaan salat Idul Fitri sudah tidak mampu menampung jumlah jamaah yang biasanya membludak, maka salat Idul Fitri boleh dilaksanakan di tempat lainnya. Contohnya, mushala dan tanah lapang.

Meski demikian, pelaksanaan salat Idul Fitri yang paling utama (afdhal) dilaksanakan di masjid. Alasannya, karena masjid adalah sebaik-baiknya, semulia-mulianya dan sebersih-bersihnya tempat. Demikian keterangan Syaikh Kamaluddin al-Damiri, dalam kitab al-Najm al-Wahhaj, juz 6, hal. 456.

Ketiga, menghidupkan malam hari raya Idul Fitri dengan beribadah. Berbagai ragam cara untuk menghidupkan malam hari raya Idul Fitri. Seperti membaca Al-Quran, salawat, takbir, tasbih, tahmid, salat sunnah, beramal saleh, dan doa-doa baik lainnya. Termasuk juga, menghidupkan malam hari raya Idul Fitri dengan melaksanakan salat isya dan salat subuh berjamaah.

Ibnu majah berkata: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha semata-mata karena Allah, maka hatinya tidak mati di hari matinya beberapa hati”. (Ibnu Majah, No. 1782).

Imam Asbahani berkata: “Barangsiapa yang menghidupkan 5 malam, wajib baginya masuk Surga. Yaitu, malam tarwiyah, malam arafah, malam Idul fitri, malam Idul Adha dan nisfu Sya’ban”. (hadis ini riwayat dari Muadz bin Jabal).

Imam At-Thabrani berkata: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya Idul Fitri dan malam hari raya Idul Adha, hatinya tidak mati di hari matinya beberapa hati”. (HR. Imam At Tabrani: 152).

Keempat, mandi. Mandi dalam rangka menyambut Idul Fitri bisa dimulai pertengahan malam. Akan tetapi, jika tidak mampu, boleh mandi setelah terbit fajar. Bahkan wanita yang tengah haid atau nifas boleh melakukan mandi Idul Fitri (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khathib, juz 1, hal. 252).

Kelima, memakai minyak wangi dan wangi-wangian. Sangat dianjurkan untuk menyambut Idul Fitri dengan kebahagiaan lahir dan batin. Wujud secara lahir bisa ditunjukkan dengan memakai pakaian yang baru. Maka dari itu, menyiapkan pakaian yang baru saat lebaran menemukan tujuan logisnya. Tidak lupa, sekaligus memakai wewangian. Ini juga sunah dilakukan bagi yang tidak melaksanakan salat Idul Fitri.

Keenam, berjalan ke tempat salat Idul Fitri dengan jalan kaki. Adapun pulangnya melewati jalan yang berbeda. Hal tersebut bertujuan semata-mata untuk mendapat keberkahan/ pahala ibadah. Berjalan kaki ke tempat salat, pada sisi lain juga bertujuan untuk meramaikan masjid yang dekat dari rumah/ lingkungan tempat tinggal.

Ketujuh, berangkat lebih pagi/ awal ke tempat shalat Idul Fitri. Tentunya, pelaksanaan salat Idul Fitri memancing ghirah tinggi bagi siapapun untuk berduyun-duyun melaksanakan salat Idul Fitri. Umumnya, setiap muslim tidak ingin mengesampingkan momen salat Idul Fitri yang jatuh satu tahun sekali. Maka dari itu, berlomba-lomba untuk datang lebih awal menjadi kesunahan. Selain itu, agar masih ada kesempatan untuk bertakbir, tahmid, tasbih sekaligus memperbanyak doa ketika sampai di masjid.

Kedelapan, sarapan dengan kurma. Jika masih tersedia kurma, hendaklah makan kurma dalam jumlah ganjil. Jka tidak ada, dianjurkan untuk makan lebih dahulu sebelum berangkat ke masjid untuk salat Idul Fitri.

Waba’du, itulah beberapa kesunahan ketika hendak melaksanakan salat Idul Fitri. Kesunahan yang mudah untuk dilakukan.

Semoga dengan kesunahan-kesunahan tersebut, dapat menyempurnakan perayaan hari kemenangan. Wallahu’alam bis showab. Semoga bermanfaat.

M. Sa’dullah, Pengajar Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Parakanonje, Purwokerto, dan Founder Samawi. 

Berita sebelumyaMudik Nggak Mudik, Tetap Asyik [Sebuah Refleksi]
Berita berikutnyaAksi Nyata! PAC Ansor Sokaraja Berikan Bantuan Becak

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini