Beranda Keislaman

Khutbah Jumat: Hari Santri Nasional 2026: Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri

Khutbah Jumat : Merawat Sabar di Tengah Bencana Kekeringan
Khutbah Jumat : Merawat Sabar di Tengah Bencana Kekeringan

Khutbah Jumat: Hari Santri Nasional 2026:
Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَفَعَ دَرَجَاتِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، وَجَعَلَ طَلَبَ الْعِلْمَِ سَبِيلًا إِلَى رِضْوَانِهِ وَالْجِنَانِ، وَجَعَلَ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةَ الْأَنْبِيَاءِ، وَحَمَلَةَ الشَّرِيعَةِ وَمَصَابِيحَ الْهُدَى لِلْإِنْسَانِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْعِلْمِ وَالْعِرْفَانِ، وَنَسْتَعِيْنُهُ عَلَى طَاعَتِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ فِي السِّرِّ وَالْإِعْلَانِ .أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الْحِسَابِ وَالْمِيزَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَلْمُعَلِّمُ الْأَعْظَمُ، وَالْمُرَبِّيُ الْأَكْرَمُ، وَإِمَامُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَاقْتَفَى أَثَرَهُ، وَحَمَلَ رَايَةَ الْعِلْمِ وَالدِّيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْآخِرَةِ، وَأَفْضَلُ سَبِيْلٍ لِلسَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ .قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ :يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak berhenti pada ucapan lisan, tetapi menjelma dalam ketaatan, keluhuran akhlak, kepedulian terhadap sesama, serta kesungguhan kita dalam menjaga agama dan keutuhan bangsa. Semoga Allah Swt senantiasa membimbing kita agar menjadi hamba yang saleh sekaligus warga negara yang bertanggung jawab.

Setiap bulan Oktober, bangsa Indonesia mengenang sebuah peristiwa bersejarah yang menunjukkan betapa erat hubungan antara perjuangan ulama, santri, agama, dan tanah air. Pada tanggal 22 Oktober 1945, para ulama yang dipimpin Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan. Seruan tersebut membangkitkan semangat perjuangan umat Islam, yang kemudian menjadi salah satu kekuatan penting dalam perlawanan rakyat, termasuk dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Dari pesantren, para kiai mengajarkan bahwa cinta agama tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab terhadap tanah air. Santri tidak hanya dididik untuk memahami kitab, memperbanyak ibadah, dan memperhalus akhlak, tetapi juga untuk mengabdikan ilmu dan kehidupannya bagi kemaslahatan umat. Semangat itulah yang kita hidupkan kembali dalam momentum Hari Santri Nasional 2026 melalui tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.”
Tema ini mengandung pesan penting: kita boleh bergerak maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan akar yang membentuk jati diri kita. Kita boleh menguasai teknologi, tetapi jangan meninggalkan adab. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan merusak persaudaraan.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Ada dua amanah besar yang terkandung dalam tema tersebut. Pertama, menguatkan akar tradisi. Kedua, menjaga keutuhan negeri.

Menguatkan akar tradisi berarti merawat warisan keilmuan pesantren yang telah diwariskan para ulama dari generasi ke generasi. Di pesantren, ilmu tidak hanya dipelajari melalui bacaan, tetapi juga ditanamkan melalui keteladanan. Santri belajar kepada guru, mendengarkan penjelasan kiai, menghormati perbedaan pendapat, dan memahami bahwa ilmu harus melahirkan kebijaksanaan.

Tradisi sanad keilmuan yang bersambung atau muttashil menjadi salah satu kekuatan pesantren. Melalui metode talaqqi dan bimbingan guru, ilmu dipelajari dengan tanggung jawab, tidak sekadar dipahami secara sepotong-sepotong. Sebab, ilmu yang tidak disertai bimbingan dan adab dapat kehilangan arah, bahkan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Allah Swt berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 122:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

Ayat ini mengajarkan bahwa memperdalam ilmu agama merupakan tugas mulia yang manfaatnya harus kembali kepada masyarakat. Santri tidak cukup menjadi orang yang pandai membaca kitab, tetapi harus mampu menghadirkan ilmu sebagai petunjuk, nasihat, dan jalan keluar bagi persoalan umat.

Oleh karena itu, tradisi pesantren harus senantiasa menjaga adab, tawadlu’, penghormatan kepada guru, serta akhlakul karimah. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, santri dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Namun, kemajuan tersebut tidak boleh membuat mereka tercerabut dari akar tradisinya.

Santri masa kini harus mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan kecakapan teknologi, keluasan wawasan dengan keluhuran akhlak, serta keberanian menyampaikan kebenaran dengan kebijaksanaan dalam bertutur. Inilah wajah santri yang dibutuhkan zaman: teguh dalam prinsip, santun dalam sikap, dan terbuka terhadap kemajuan.

Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Amanah kedua adalah menjaga keutuhan negeri. Bagi para ulama dan santri, mencintai tanah air diwujudkan melalui ikhtiar menjaga keamanan, persaudaraan, keadilan, dan kemaslahatan bersama. Kemerdekaan yang diwariskan para pejuang harus kita rawat dengan tanggung jawab, bukan dirusak oleh kebencian dan perpecahan.

Jika dahulu para ulama dan santri mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga, maka pada zaman sekarang perjuangan itu harus diteruskan melalui pendidikan, pengabdian sosial, dakwah yang menyejukkan, dan keteladanan akhlak.

Jihad santri hari ini adalah perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, penyebaran hoaks, radikalisme, serta segala bentuk perundungan yang merendahkan martabat manusia. Pesantren harus menjadi tempat yang aman untuk belajar, tumbuh, dan membentuk kepribadian; tempat kasih sayang lebih kuat daripada kekerasan, dan nasihat lebih diutamakan daripada penghinaan.

Menjaga negeri juga berarti menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, lingkungan, dan berbagai persoalan bangsa. Santri harus hadir sebagai teladan dalam menebarkan kasih sayang, membantu masyarakat, menjaga kerukunan, serta memperjuangkan keadilan dan kemaslahatan bersama. Sebab, keutuhan negeri tidak hanya dijaga dengan kekuatan, tetapi juga dengan persaudaraan, kepedulian, dan akhlak mulia. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Artinya, “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk menjadi penggerak kebaikan dan penjaga persatuan demi terwujudnya negeri yang damai, sejahtera, dan bermartabat.

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, bukan pula hanya seremoni mengenakan baju putih, sarung batik dan peci hitam. Hari Santri adalah panggilan sejarah, amanah perjuangan, dan pengingat bahwa tugas santri tidak berhenti di ruang-ruang pesantren. Perjuangan itu harus terus hidup melalui ilmu yang mencerahkan, akhlak yang memuliakan, serta pengabdian yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Mari kita kuatkan akar tradisi agar tidak tercerabut dari nilai-nilai luhur para ulama, dan kita jaga keutuhan negeri agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan, serta keberagaman tetap menjadi kekuatan.

Jangan biarkan api perjuangan para ulama padam di tangan generasi penerus. Rawatlah warisan mereka dengan ilmu, hidupkanlah keteladanan mereka dengan akhlak, dan lanjutkanlah perjuangan mereka dengan pengabdian nyata.

Semoga Allah Swt menjadikan kita generasi yang teguh memegang tradisi, luas dalam berpikir, luhur dalam berakhlak, dan tulus dalam mengabdi. Semoga Allah membimbing langkah para santri untuk meneruskan perjuangan para ulama, menjaga persaudaraan sesama anak bangsa, serta merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيدنامُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِى إِلىَ رِضْوَانِهِ اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيآ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَلَّلهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.