Beranda Warta

Lima Tahun Berjuang Tanpa Lelah di Panggung MTQ Nasional, Halya Nur Ajilla Akhirnya Raih Juara II

PURWOKERTO, nubanyumas.com – Lima tahun menjadi bagian dari panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional bukan perjalanan singkat bagi Halya Nur Ajilla. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto itu akhirnya menembus podium setelah meraih Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) 30 Juz Putri pada MTQ Nasional XXXI 2026.

Halya tampil sebagai bagian dari Kafilah Provinsi Jawa Tengah dalam ajang MTQ Nasional XXXI. Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting setelah lima tahun berturut-turut ia mengikuti kompetisi MTQ tingkat nasional. Perjalanan Halya bersama Al-Qur’an sendiri telah dimulai jauh sebelum tampil di panggung nasional. Dia mulai menghafal Al-Qur’an pada 2014 hingga 2018 di Pondok Pesantren Al Falah, Bobosan.

Dari proses tersebut, hafalan 30 juz menjadi bekal yang terus ia jaga sekaligus kembangkan melalui berbagai kompetisi. Kesempatan Halya tampil dalam kompetisi MTQ datang pada 2022. Saat itu, ia mengikuti cabang tahfiz 30 juz dalam MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang.

Halya berhasil meraih Juara I. Prestasi tersebut mengantarkannya menjadi wakil Jawa Tengah pada MTQ tingkat nasional yang saat itu berlangsung di Kalimantan Selatan. Sejak itu, panggung MTQ nasional menjadi bagian dari perjalanan Halya. Ia kembali mewakili Jawa Tengah pada MTQ Nasional di Jambi pada 2023, Kalimantan Timur pada 2024, dan Sulawesi Tenggara pada 2025.

Tahun 2026 menjadi momentum yang berbeda. Kembali memperkuat Kafilah Jawa Tengah dalam MTQ Nasional XXXI, Halya berhasil masuk babak final dan mengakhiri kompetisi dengan Juara II MHQ 30 Juz Putri.

“Alhamdulillah sepanjang ikut MTQ, di tahun ini Allah izinkan masuk final dan alhamdulillah meraih juara 2,” ungkap Halya.

Capaian tersebut sekaligus menjadi podium nasional pertama yang berhasil diraihnya setelah lima tahun berkompetisi. “Alhamdulillah tentunya bersyukur dan sangat terharu, sebab setelah lima tahun berlaga di nasional, baru tahun ini bisa masuk 3 besar,” tuturnya.

Menjadi mahasiswa sekaligus menjaga hafalan Al-Qur’an 30 juz membutuhkan kedisiplinan dan pengaturan waktu. Halya memilih membagi fokus berdasarkan aktivitas yang sedang dijalani. “Kalau lagi di kampus ya fokus kuliah, kalau lagi di pondok ya fokus ngaji,” katanya.

Di balik pembagian waktu tersebut, Halya tetap menghadapi tantangan. Rasa malas, bosan, dan jenuh terkadang muncul dalam proses menjaga hafalan. Kondisi tersebut semakin terasa ketika tugas perkuliahan sedang padat. Namun, ia berusaha kembali mengingat tanggung jawab untuk menjaga kualitas hafalan sekaligus bacaan Al-Qur’an.

Persiapan menghadapi MTQ juga dilakukan secara konsisten. Halya melakukan murajaah dengan tartil serta memberikan perhatian khusus terhadap ayat-ayat yang memiliki kemiripan atau mutasyabihat. Dia juga menjaga pola makan, waktu tidur, serta melakukan olahraga untuk menjaga kondisi fisik selama menjalani persiapan.

Selain latihan mandiri, Halya mengikuti pembinaan dari LPTQ Provinsi Jawa Tengah setiap bulan sejak Februari hingga September. Pembinaan dilakukan secara daring maupun luring dengan bimbingan pembina dari Jakarta dan Jawa Tengah.

Kompetisi tingkat nasional menghadirkan pengalaman emosional tersendiri bagi Halya. Menjelang tampil, terutama saat berada di ruang tunggu peserta, ia merasakan campuran ketegangan dan ketenangan. “Rasanya panas adem, apalagi ketika udah di tempat tunggu peserta,” ujarnya.

Namun, ketegangan tersebut tidak menghilangkan rasa syukur atas kesempatan yang diperolehnya. Salah satu momen yang paling berkesan bagi Halya adalah ketika tampil dan menyadari bahwa bacaannya disimak langsung oleh para guru besar serta dewan hakim yang ia hormati karena kapasitas keilmuannya.

Di balik prestasi tersebut, Halya tidak lupa menyebut dukungan orang tua dan para guru yang telah mendampingi perjalanannya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang turut memberikan dukungan.

Namun, bagi Halya, pencapaian di MTQ bukan sekadar persoalan gelar juara. Dia berharap perjalanan di dunia MTQ dapat menjadi wasilah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Perjalanan lima tahun Halya akhirnya berujung di podium nasional. Di balik Juara II MHQ 30 Juz Putri MTQ Nasional XXXI, ada proses panjang menjaga hafalan, melawan kejenuhan, membagi waktu dengan perkuliahan, menjalani pembinaan, dan terus berlatih.

Bagi Halya, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, podium nasional menjadi pengingat bahwa proses menjaga Al-Qur’an jauh lebih panjang daripada sebuah kompetisi. Lima tahun berlaga membawanya ke podium. Namun, bagi mahasiswa UIN Saizu tersebut, kemenangan yang lebih bermakna adalah ketika Al-Qur’an tetap menjadi teman dalam setiap langkah kehidupan.

Sumber: Humas UIN Saizu