Beranda Pustaka

Qalam Hawa Goes To Purwokerto, Menjemput Inspirasi Literasi di ‘Selaras Purwokerto’

JARUM jam baru menunjukkan sekitar pukul 05.00 ketika rombongan Komunitas Literasi Qalam Hawa Karangpucung mulai bergerak meninggalkan wilayahnya. Tujuannya Purwokerto. Bukan sekadar untuk berkunjung, tetapi mengejar sebuah agenda yang sudah mereka nantikan: Selaras, Festival Ekonomi Syariah x Festival Literasi Bank Indonesia KPw Purwokerto, yang berlangsung 4–6 September 2026 di Taman Retensi Purwokerto.

Perjalanan dari Karangpucung menjadi bagian tersendiri dari cerita kunjungan tersebut. Rombongan harus berangkat pagi karena memiliki agenda yang tidak boleh terlewat, yakni mengikuti talkshow parenting bersama Dr. Aisyah Dahlan, salah satu tokoh yang dikenal luas melalui pendekatan parenting yang komunikatif dan memiliki banyak penggemar. Waktu perjalanan harus diperhitungkan agar mereka bisa tiba sebelum acara dimulai.

Bagi Qalam Hawa, perjalanan itu bukan sekadar soal menghadiri satu talkshow. Ada semangat yang lebih besar yang ingin dibawa pulang: menambah pengetahuan, membuka wawasan, bertemu dengan orang-orang baru, dan menemukan gagasan yang bisa dihidupkan kembali di Karangpucung.

Ketua Qalam Hawa, Sindi Abdulloh, yang memimpin langsung rombongan, mengatakan kehadiran komunitasnya di Selaras merupakan bagian dari upaya untuk terus belajar. Menurutnya, sebuah komunitas literasi tidak cukup hanya menjalankan kegiatan di lingkungannya sendiri, tetapi juga perlu keluar, melihat perkembangan, membangun jejaring, dan mencari referensi baru.

“Kami sengaja datang karena ingin belajar dan mendapatkan pengalaman baru. Talkshow bersama Dr. Aisyah Dahlan menjadi salah satu agenda yang kami prioritaskan, tetapi sebenarnya yang kami cari lebih luas. Kami ingin melihat, membaca, berdiskusi, dan menemukan banyak hal yang bisa menjadi inspirasi untuk Qalam Hawa,” ujar Sindi.

Talkshow parenting menjadi salah satu pengalaman penting bagi anggota Qalam Hawa. Bagi komunitas yang anggotanya banyak bersentuhan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat, isu pengasuhan menjadi bagian yang relevan dengan gerakan literasi. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada catatan pribadi, tetapi diharapkan dapat menjadi bahan untuk mengembangkan diskusi maupun kegiatan komunitas berikutnya.

Namun, perjalanan Qalam Hawa tidak berhenti di panggung talkshow. Karena Selaras juga menghadirkan Festival Literasi, rombongan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkeliling dan melihat berbagai ekosistem perbukuan. Mereka berkunjung ke sejumlah stand, di antaranya Gramedia GOR Purwokerto, Oemera Pustaka, SIP Publishing, dan Mizan.

Kunjungan ke stand-stand tersebut membuka ruang percakapan baru bagi Qalam Hawa. Buku, penerbitan, kegiatan literasi, hingga kemungkinan kolaborasi menjadi bagian dari referensi yang mereka bawa pulang. Bagi komunitas yang sedang menghidupkan gerakan literasi di Karangpucung, bertemu langsung dengan pelaku industri buku dan penerbit menjadi pengalaman yang penting.

“Bagi kami, ini menambah referensi sekaligus semangat. Kami jadi bisa melihat lebih luas bagaimana dunia literasi bergerak, bagaimana buku dan penerbitan berkembang, dan bagaimana komunitas seperti kami bisa membangun kerja sama ke depan,” kata Sindi.

Qalam Hawa juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Rujito, M.Sos., yang menjadi penasihat komunitas. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan sekaligus ruang untuk berbagi perkembangan dan gagasan tentang arah gerakan literasi Qalam Hawa di Karangpucung.

Bagi Sindi, seluruh rangkaian perjalanan ke Purwokerto tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: effort untuk menghidupi literasi. Menurutnya, literasi tidak cukup dibicarakan sebagai jargon. Ia membutuhkan komunitas yang mau bergerak, meluangkan waktu, mencari pengetahuan, membangun jejaring, dan kemudian mengolahnya menjadi kegiatan yang memberi manfaat.

“Literasi itu harus dihidupi. Ada effort di dalamnya. Kami harus mau bergerak, mencari referensi, bertemu banyak orang, dan membawa pulang sesuatu yang bisa dikembangkan di Karangpucung. Mudah-mudahan dari kunjungan ini akan lahir kegiatan-kegiatan baru dan kerja sama yang berkelanjutan,” tuturnya.

Kunjungan Qalam Hawa ke Selaras akhirnya bukan sekadar perjalanan dari Karangpucung menuju Purwokerto. Ia menjadi bagian dari proses sebuah komunitas untuk memperluas cakrawala. Dari keberangkatan pukul 05.00, berpacu dengan waktu mengejar talkshow, hingga berkeliling di ruang-ruang literasi, semuanya menjadi investasi kecil untuk cita-cita yang lebih besar: menjaga agar literasi tetap hidup, tumbuh, dan memiliki dampak nyata di Karangpucung.

editor: H Ahyar