PURWOKERTO, nubanyumas.com — Sebuah kalimat sederhana namun mengundang renungan mengemuka saat pelantikan Pengurus MWCNU Purwokerto Selatan masa khidmat 2026–2031 di SMP Ma’arif NU 3 Purwokerto, Ahad (26/7/2026). Ketua PCNU Banyumas Drs. KH. Imam Hidayat, MPdI mengingatkan agar pengurus NU tidak hanya hadir saat pelantikan atau menjelang pergantian kepengurusan.
Menurut Imam, menjadi pengurus Nahdlatul Ulama berarti siap mewakafkan sebagian hidup untuk organisasi. Amanah itu tidak cukup ditunaikan melalui jabatan, tetapi harus diwujudkan dengan kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Ada pengurus bulanan, ada pengurus tahunan, bahkan ada pengurus lima tahunan. Jangan sampai kita seperti itu. Ketika dilantik, berarti siap mewakafkan waktu, tenaga, bahkan biaya untuk berkhidmah kepada NU,” katanya.
Pesan tersebut disampaikan usai melantik jajaran MWCNU Purwokerto Selatan yang dipimpin K. Abdul Fattah sebagai Ketua Tanfidziyah dan K. Nururrohman sebagai Rais Syuriyah untuk masa khidmat 2026–2031. Pelantikan lenagkap pengurus harian dari jajaran sekretaris dan bendahara. Dilanjutkan juga pelantikan PAC GP Ansor Purwokerto Selatand dan Istighosah untuk kesuksesan Mukhtamar NU ke 35, Agustus mendatang di Tambakberas.
Di hadapan ratusan kader NU, Imam juga mengapresiasi kiprah MWCNU Purwokerto Selatan yang berhasil menempati posisi kedua perolehan Koin NU tingkat Kabupaten Banyumas. Baginya, capaian itu bukan sekadar angka, tetapi bukti tumbuhnya kepercayaan jamaah terhadap gerakan jam’iyah.
Namun menurutnya, tantangan NU ke depan jauh lebih besar. Dengan mayoritas masyarakat Banyumas mengidentifikasi diri sebagai warga NU, organisasi harus semakin mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kita harus menguatkan jamaah sekaligus jam’iyah. MWCNU harus menjadi solusi masyarakat, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun persoalan sosial lainnya,” ujar Imam.
Ia mencontohkan Purwokerto Selatan sebagai wilayah yang berkembang pesat. Di balik kemajuan tersebut, terdapat tantangan dakwah yang tidak ringan, termasuk tingginya kasus HIV/AIDS yang membutuhkan perhatian bersama melalui pendekatan keagamaan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Pelantikan MWCNU Purwokerto Selatan bukan sekadar pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan dalam NU adalah amanah untuk terus hadir, melayani, dan memberikan solusi bagi umat, bukan sekadar nama yang tercantum dalam susunan pengurus.












