Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا .مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ .أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ . أَمَّا بَعْدُ :فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَتَعَاوَنُوا عَلَى وَالتَّقْوَى.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Sebab tidak ada bekal terbaik seorang hamba di dunia maupun di akhirat selain ketakwaan kepada Allah Swt.
Hari-hari Idul Adha perlahan mulai berlalu. Kumandang takbir yang beberapa hari lalu menggema penuh syiar kini mulai mereda. Hewan-hewan qurban telah disembelih, daging-daging telah dibagikan, dan suasana kebersamaan perlahan kembali berjalan sebagaimana biasanya.
Namun sejatinya, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan yang selesai bersamaan dengan berakhirnya hari-hari tasyrik. Lebih dari itu, Idul Adha merupakan madrasah ruhani yang mendidik umat Islam tentang makna keikhlasan, pengorbanan, kepedulian sosial, dan ketundukan total kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ
Artinya: “Daging-daging hewan qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa hakikat qurban tidak semata-mata terletak pada penyembelihan hewan, melainkan pada kesediaan seorang hamba untuk menyembelih ego, kesombongan, sifat kikir, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia. Amal yang diterima oleh Allah bukanlah semata tampilan lahiriah, tetapi ketulusan hati dan ketakwaan yang mengiringinya.
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan:
وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمُعْتَبَرَ فِي هَذِهِ الْقُرْبَةِ التَّقْوَى وَإِخْلَاصُ النِّيَّةِ، لَا صُوَرُ الْأَعْمَالِ وَظَوَاهِرُهَا
Artinya: “Yang menjadi ukuran dalam ibadah qurban ini adalah ketakwaan dan keikhlasan niat, bukan bentuk lahiriah amal dan tampak luarnya.”
Demikian pula Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an menerangkan:
أَيْ لَنْ يَصِلَ إِلَى اللهِ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا، وَلَكِنْ يَصِلُ إِلَيْهِ الْإِخْلَاصُ وَالتَّقْوَى مِنْكُمْ
Artinya: “Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah keikhlasan dan ketakwaan dari kalian.”
Dari penafsiran para ulama tersebut, kita memahami bahwa qurban bukan sekadar ritual fisik, melainkan sarana pendidikan jiwa agar tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa, ikhlas, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Idul Adha juga mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim sejati bukan hanya tekun beribadah secara pribadi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Rasulullah Saw bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Hadits-hadits tersebut memberikan pelajaran bahwa kemuliaan seorang muslim tidak hanya diukur dari panjangnya shalat, banyaknya dzikir, atau indahnya penampilan keagamaan. Kemuliaan sejati tercermin dari sejauh mana kehadirannya mampu menghadirkan ketenangan, pertolongan, dan kasih sayang bagi orang lain.
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa di antara akhlak mulia seorang mukmin ialah berusaha memenuhi kebutuhan kaum muslimin, membantu mereka, serta meringankan kesulitan yang mereka hadapi.
Sementara itu, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jāmi‘ul ‘Ulūm wal Hikam menerangkan tentang besarnya keutamaan memberi manfaat dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama mukmin.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Dari hadits-hadits Nabi dan penjelasan para ulama tersebut, kita memahami bahwa nilai seorang muslim tidak hanya tampak pada banyaknya ibadah yang ia lakukan, tetapi juga pada besarnya manfaat yang dirasakan orang lain dari kehadirannya.
Shalat yang khusyuk semestinya melahirkan akhlak yang lembut. Dzikir yang rutin semestinya menumbuhkan hati yang penuh kasih sayang. Dan semangat qurban setelah Idul Adha hendaknya menjadikan kita pribadi yang lebih peka terhadap kesulitan sesama.
Karena itu, muslim yang baik bukanlah mereka yang hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga mereka yang berusaha menebarkan kebaikan di lingkungan sekitarnya. Ringan membantu tetangga, menjaga lisan agar tidak menyakiti, mudah memaafkan, gemar menolong, serta berusaha meringankan beban orang lain.
Sering kali kita mengira bahwa menjadi manusia yang bermanfaat harus memiliki harta melimpah atau kedudukan tinggi. Padahal dalam ajaran Islam, perhatian yang tulus, ucapan yang baik, bantuan sederhana, bahkan membuat hati seorang mukmin merasa tenang dan bahagia termasuk amal yang sangat mulia di sisi Allah Swt.
Maka setelah Idul Adha ini, marilah kita belajar menjadi muslim yang kehadirannya dirindukan, bukan dihindari; yang tutur katanya menenangkan, bukan menyakitkan; yang membawa manfaat, bukan mudarat.
Sebab boleh jadi, bukan karena besarnya amal yang kita banggakan Allah mencintai kita, melainkan karena ada hati yang merasa tertolong, terhibur, dan bahagia melalui kehadiran kita.
Semoga Allah Swt menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah, lembut dalam akhlak, serta senantiasa membawa manfaat bagi sesama manusia.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَظَّمَ شَهْرَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَجَعَلَهُ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَدَعَانَا فِيْهِ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ وَالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، لِنَزْدَادَ تَقْوًى وَقُرْبًا إِلَيْهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.












