Khutbah Idul Adha 2026: Implementasi Nilai Kurban dalam Kehidupan
Oleh: Muhammad Shodiq Ma’mun, S.Sos.
Khutbah I
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ، وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Idul Adha merupakan momen istimewa untuk menerapkan ajaran Islam tentang kepedulian sosial dan berperan sebagai insan yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi yang berkecukupan, disyariatkan melakukan kurban sebagai ibadah kepada Allah SWT serta bentuk nyata solidaritas terhadap kaum yang membutuhkan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kurban merupakan manifestasi cinta sejati: rela memberi sebagian yang kita miliki bagi mereka yang kita cintai. Ketulusan itu tampak dalam pengorbanan orang tua untuk anak, suami untuk istri, dan sebaliknya. Sebagai ibadah, kurban menjadi pengakuan akan kebesaran Allah dan cermin ketaatan yang dilaksanakan dengan sepenuh hati, meski terkadang terasa berat. Allah SWT berfirman:
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Artinya: “Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107)
Ayat ini merujuk pada peristiwa Nabi Ibrahim yang diuji, menunjukkan bahwa pengorbanan yang tulus mendapat pengganti dan rahmat dari Allah.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Di banyak tempat, perayaan Idul Adha kerap bergeser dari makna pengorbanan menjadi ritual konsumtif: sibuk menyiapkan tusuk sate, membeli arang, dan berebut kupon. Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail tereduksi menjadi formalitas, padahal terdapat empat pelajaran penting dari kurban yang harus kita renungkan.
Pertama, ketaatan Ibrahim. Setelah bertahun-tahun menanti, kelahiran Ismail menjadi harapan baginya. Namun, Allah menguji imannya dengan perintah menyembelih anak yang paling dicintainya. Ujian itu menunjukkan hakikat pengorbanan—bukan sekadar memberi harta, melainkan rela melepaskan yang paling berharga. Sebelumnya, Ibrahim juga diperintahkan meninggalkan Ismail dan ibunya di tanah tandus, peristiwa lain yang menegaskan ketaatan beliau kepada kehendak Allah di atas segala ikatan manusia.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”” (QS. As-Saffat: 102)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kedua, kesabaran Ismail. Setelah ditinggalkan sejak bayi, Ismail kembali dan menerima ujian paling berat: perintah untuk disembelih. Ia menjawab dengan teguh kepada ayahnya, siap menjalankan perintah Allah dengan sabar. Dari kelahiran yang dinanti, pengasingan masa kecil, hingga ujian di masa remaja, Ismail menunjukkan ketabahan yang patut diteladani. Karena itu, kurban menjadi momen untuk meneladani kesabaran dan ketaatan seperti Ismail.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya: “Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan, atau rasa gelisah, sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari)
Ketiga, semangat berusaha Ibu Hajar. Saat ditinggalkan bersama bayi Ismail di padang pasir, Ibu Hajar tidak pasrah, ia bergerak mencari jalan keluar. Ketika Ismail kehausan dan ASI mengering, Ibu Hajar berlari bolak-balik tujuh kali antara Safa dan Marwa untuk mencari air. Usahanya berbuah mukjizat: munculnya air zamzam dari tempat Ismail menginjakkan kakinya. Kisah ini mengajarkan ikhtiar, berusaha sungguh-sungguh sambil bertawakal bahwa Allah melihat setiap usaha, bukan sekadar menunggu tanpa berbuat.
Keempat, kurban mengajarkan kita menspiritualkan kehidupan duniawi. Jika makan, minum, bekerja, dan aktivitas sehari-hari diniatkan sebagai ibadah, semuanya menjadi amalan bernilai ukhrawi. Dari keteladanan Ibrahim, Ismail, dan Ibu Hajar, mari kita terapkan prinsip ini: laksanakan perintah Allah dengan kepatuhan total, jalani cobaan dengan sabar, dan lakukan ikhtiar dengan gigih. Karena itu, niatkan kurban kita semata-mata untuk meraih rida-Nya dengan meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS, bukan karena status atau tradisi semata.
Semoga kurban yang kita tunaikan menjadi bukti ketaatan dan kepedulian, mempererat ukhuwah, dan diterima oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ، وَحَثَّنَا عَلَى الصَّلَاحِ، وَبَيَّنَ لَنَا سُبُلَ الْفَلَاحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَ












