Beranda Keislaman

Khutbah Jumat: Menjemput Rezeki yang Berkah dan Menenangkan Hati

Khutbah Jumat: “Menjemput Rezeki yang Berkah dan Menenangkan Hati”
Khutbah Jumat: “Menjemput Rezeki yang Berkah dan Menenangkan Hati”

Khutbah Jumat: Menjemput Rezeki yang Berkah dan Menenangkan Hati

Oleh: Gus M. Sa’dullah
Pengasuh PP Ath-Thohiriyyah 2, Karangklesem, Purwokerto Selatan.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلَّذِي بَسَطَ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ وَقَدَرَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ طُمَأْنِينَةَ الْقُلُوبِ وَالْأَثَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، اَلْـمَلِكُ الْـحَقُّ الْـمُبِينُ، اَلرَّزَّاقُ ذُوْ الْقُوَّةِ الْـمَتِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَلصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، هَادِيْ الْأَنَامِ إِلَى الرِّزْقِ الْـحَلَالِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّاهِرِينَ عَنِ الْـحَرَامِ وَالْآثَامِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْـمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., Dzat yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang tiada pernah berhenti mengalirkan nikmat serta menguasai seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad saw., pembawa risalah kedamaian bagi semesta alam.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak diri pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk terus memupuk kualitas takwa kita. Takwa yang sejati adalah lentera hidup yang menjaga kaki kita agar tidak tergelincir ke dalam wilayah yang dimurkai Allah Swt., terutama di saat bahtera kehidupan kita sedang diuji.

Saat ini, kita sedang berdiri di tengah samudra kehidupan yang penuh dengan dinamika materi. Kita menyaksikan fluktuasi ekonomi yang tidak menentu, biaya hidup yang terus merangkak naik, sementara ruang-ruang pekerjaan terasa kian menyempit. Tekanan demi tekanan hidup ini, disadari atau tidak, kerap mengaburkan sudut pandang manusia dalam memaknai hakikat rezeki. Sebagian orang mulai kehilangan kesabaran. Iman mereka goyah, lalu terjebak pada dogma yang keliru: “yang penting bisa menyambung hidup,” tanpa lagi mengindahkan batasan-batasan syariat yang suci.

Rasulullah saw. telah memberikan alarm peringatan bagi kita semua jauh-jauh hari melalui nubuatnya 14 abad yang lalu:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لَا يُبَالِيْ اَلْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

Artinya: “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram.” (HR. Bukhari).

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Lampu kuning yang diprediksikan oleh Rasulullah saw. tersebut kini menjelma menjadi realita yang kasat mata. Demi mengejar fatamorgana kekayaan instan, menutupi gengsi status sosial, atau karena rasa putus asa yang mendalam dalam jerat ekonomi, sebagian saudara kita tergelincir ke dalam lembah kelam.

Lihatlah betapa destruktifnya wabah judi online yang hari ini meremukkan pilar-pilar keharmonisan keluarga di sekeliling kita. Lembaran uang yang seharusnya menjelma menjadi air susu dan nafkah suci untuk anak-istri, habis menguap dalam hitungan detik di meja judi digital. Ketika modalnya tandas, mereka berlari ke lingkaran pinjaman online ilegal yang menawarkan kemudahan semu, namun berujung pada intimidasi, kehancuran martabat, hingga keputusasaan yang tragis.

Tidak ketinggalan praktik korupsi, pungutan liar, penipuan berkedok investasi, dan transaksi batil lainnya yang mulai dianggap lumrah demi meraup pundi-pundi materi. Mereka keliru mengira bahwa tumpukan materi tersebut adalah oase dan jalan keluar dari kesempitan hidup. Demi Allah, itu bukan jalan keluar. Itu adalah perangkap beracun yang sengaja dihias oleh setan untuk menyeret manusia ke dalam kesengsaraan yang lebih pekat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah Swt. secara tegas menggarisbawahi aturan hidup ini dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 168:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Melalui ayat ini, Allah Swt. menuntun kita untuk tidak hanya terpaku pada status halal secara hukum, melainkan juga harus thayyib—membawa kebaikan, diproses dengan ketulusan, serta memberikan dampak positif bagi kesehatan jiwa dan raga. Sebaliknya, memburu harta dengan cara-cara yang batil disetarakan oleh Allah sebagai manifestasi nyata dari mengikuti jejak langkah setan.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Harta dari jalan yang haram menyimpan konsekuensi spiritual yang memilukan. Pertama, ia melenyapkan keberkahan dan kedamaian jiwa. Sebanyak apa pun nominalnya, harta haram akan menguap dalam kesia-siaan, memicu konflik batin, serta membentuk karakter anak yang berhati keras dan sulit menerima nasihat. Kedua, harta haram memutuskan tali doa ke langit. Rasulullah saw. menegaskan bahwa doa seorang hamba tidak akan dikabulkan—meski ia meratap dan sangat membutuhkan pertolongan—jika makanan, minuman, pakaian, dan raganya tumbuh dari sesuatu yang haram. Sungguh merugi jika saat badai ujian menerpa, Allah berpaling dan menutup pintu langit hanya karena noda haram yang kita suapkan kepada darah daging kita.

Padahal, Islam sama sekali tidak melarang umatnya menjadi kaya atau memiliki fasilitas yang nyaman. Namun, Islam menetapkan bingkai aturan bahwa prosesnya wajib legal secara syariat, dihiasi kejujuran, dan tidak merugikan orang lain. Standar kebahagiaan seorang mukmin bukanlah kuantitas angka di rekening, melainkan kualitas keberkahannya. Rezeki sedikit yang diraih dengan tetesan keringat yang halal jauh lebih mulia, teduh, dan menenangkan jiwa, daripada gelimang kemewahan yang mengundang murka Allah Swt.

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Menghadapi badai ekonomi, Islam menawarkan empat langkah nyata untuk menjaga keberkahan hidup. Langkah pertama dimulai dengan menghidupkan sifat qana’ah atau merasa cukup. Kebiasaan memaksakan gaya hidup demi gengsi adalah akar utama jeratan judi online dan pinjol ilegal. Padahal kekayaan sejati terletak pada kelapangan jiwa, sehingga kita harus bijak menyelaraskan pengeluaran dengan pendapatan.

Langkah kedua adalah menjadikan istighfar sebagai angkur spiritual saat ekonomi terasa menghimpit. Alih-alih mencari pelarian instan yang maksiat di gawai, segeralah berlari ke atas sajadah. Allah telah berjanji bahwa istighfar yang tulus akan membuka keran rezeki dari langit dan mengurai setiap jalan buntu.

Selanjutnya, kita harus menyalakan lentera saling membantu (ta’awun) untuk memperkuat ekonomi umat. Kepedulian sosial perlu diasah dengan membantu tetangga yang kesulitan melalui zakat, infak, atau pinjaman tanpa bunga. Ketika warga dan masjid saling menopang, ruang gerak lintah darat otomatis akan tertutup.

Terakhir, bagi yang terlanjur terperosok dalam lingkaran riba dan judi, solusi tunggalnya adalah berhenti total dan bertaubat. Hapus aplikasinya dan putus semua aksesnya detik ini juga karena pintu ampunan Allah selalu terbuka. Saat kita jujur berbenah, Allah akan mengganti seluruh kerugian tersebut dengan ketenangan jiwa yang jauh lebih indah.

Mari kita tundukkan kepala dan menengadahkan tangan, seraya memohon perlindungan serta keberkahan hidup kepada Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِك| عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكERِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Klik ikon printer di bawah teks ini untuk mencetak atau download naskah khutbah nya.
BACA JUGA:  Naskah khutbah lainnya di kolom KHUTBAH.