PENGAJIAN rutin Griya INH Purwokerto kembali menghadirkan kajian penuh hikmah dari Kitab Nashoihul ‘Ibad yang dibacakan oleh KH Irchamni. Pada kesempatan tersebut, pembahasan berfokus pada maqalah ke-21 yang menjelaskan perbedaan mendasar antara sikap Iblis dan Nabi Adam AS setelah melakukan kesalahan.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Iblis menjadi celaka karena lima perkara. Pertama, tidak mengakui dosanya. Kedua, tidak pernah menyesali kesalahannya. Ketiga, tidak mencela dirinya sendiri atas dosa yang dilakukan. Keempat, tidak memiliki niat untuk bertaubat. Dan kelima, berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Sebaliknya, Nabi Adam AS justru mendapatkan kemuliaan dan ampunan Allah karena memiliki sikap yang berlawanan. Nabi Adam mengakui kesalahannya di hadapan Allah, menyesali perbuatannya, merendahkan dirinya, memiliki keinginan kuat untuk bertaubat, serta tetap berharap penuh pada rahmat Allah SWT.
Dalam pengajian tersebut, KH Irchamni menekankan bahwa manusia sejatinya tidak luput dari dosa dan kesalahan. Namun yang membedakan antara hamba yang selamat dan yang celaka bukan sekadar dosanya, melainkan bagaimana sikap seseorang setelah melakukan kesalahan tersebut.
Gus Ircham, juga menjelaskan bahwa banyak orang sulit bertaubat bukan karena besarnya dosa, tetapi karena gengsi mengakui kesalahan. Padahal inti taubat justru dimulai dari keberanian mengakui dosa di hadapan Allah dan kesediaan memperbaiki diri.
Pengajian semakin menyentuh ketika dibacakan doa Nabi Adam AS sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:
“Robbanaa dzholamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin.”
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)
KH Irchamni menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Selama manusia masih mau kembali kepada Allah, pintu taubat selalu terbuka. Bahkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Allah mencintai hamba yang mengakui dosanya lalu bertaubat.
Melalui kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad ini, jamaah diajak untuk lebih introspektif dalam menjalani kehidupan. Kesalahan bukan akhir dari segalanya, asalkan diiringi kesadaran, penyesalan, dan kesungguhan untuk kembali kepada Allah SWT.
editor : djito el fateh












