Ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan, melainkan sebuah proklamasi tauhid dan pembuktian cinta terdalam seorang hamba kepada Sang Pencipta. Khutbah Jumat bertajuk “Mengetuk Pintu Langit dengan Pengorbanan” ini mengajak kita untuk merenungi kembali hakikat pengorbanan melalui teladan para Nabi dan sahabat, sekaligus menjadi pengingat agar kita tidak terjebak dalam sifat kikir di tengah kelapangan rezeki.
Khutbah Jumat: Mengetuk Pintu Langit dengan Pengorbanan
Oleh: Gus M. Sa’dullah
(Ketua PC LDNU Kab. Banyumas & Pengasuh PP Ath-Thohiriyyah 2, Purwokerto)
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَضْحَى عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْن، وَمَوْسِمًا لِذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ فِي كُلِّ حِيْنٍ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ، اَلَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَأَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْمَسَاكِيْنِ وَالْجِيْرَانِ .أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَدَّخِرُهَا لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَنَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ وَالسَّلَامَةَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَأُسْوَةً لِلْمُتَّقِيْنَ، وَقُدْوَةً لِلْمُضَحِّيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ، وَأَصْحَابِهِ الْمَيَامِيْنِ، اَلَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُمُ الْيَقِيْنُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ الرَّاكِعُوْنَ السَّاجِدُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّ التَّقْوَى مَلَاذُ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَزَادُ الْمُسَافِرِيْنَ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى، وَخَابَ مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita haturkan syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt., yang detak jantung dan embusan napas kita masih berada dalam genggaman-Nya. Takwa adalah sebaik-baik bekal, maka marilah kita tingkatkan kualitas ketaatan kita kepada-Nya, terutama sesaat lagi kita berada di ambang pintu bulan Zulhijah—sebuah momentum di mana cinta kita kepada Sang Pencipta akan diuji melalui ritual pengorbanan.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ibadah kurban bukanlah sekadar ritual tahunan menyembelih hewan. Ia adalah sebuah proklamasi tauhid; sebuah bukti nyata apakah di dalam hati kita, Allah menduduki kasta tertinggi, ataukah rasa cinta pada harta dunia masih menjadi “tuhan” yang kita sembah secara diam-diam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Kausar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Artinya: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah!”
Ayat ini adalah perintah pendek yang sarat makna. Imam Qatadah menjelaskan bahwa kurban adalah wujud syukur paling purna atas aliran nikmat Allah yang tak pernah putus. Bayangkan, jika Allah mampu memberi kita rezeki sepanjang tahun, memberikan kesehatan, dan mencukupi kebutuhan keluarga kita, lantas pantaskah tangan kita menjadi kikir saat Allah meminta “sedikit” dari harta itu untuk dikembalikan kepada-Nya melalui hewan kurban?
Jemaah Jumat yang berbahagia,
Mari kita renungkan peringatan keras dari kekasih kita, Rasulullah saw., bagi mereka yang mampu secara finansial namun hatinya tertutup untuk berkurban:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
Artinya: “Barang siapa yang memiliki kelapangan rezeki namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad & Ibnu Majah).
Ini adalah “sentilan” yang menusuk kalbu. Seolah Nabi Muhammad saw. ingin berpesan kepada kita: “Jika engkau begitu memuja hartamu hingga enggan berbagi di jalan Allah, lalu untuk apa engkau berdiri bersujud di hadapan-Nya?”
Keteladanan ini pun tercermin dalam dinamika para sahabat. Lihatlah sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ada kalanya mereka sengaja tidak berkurban semata-mata untuk mendidik umat bahwa kurban itu sunah muakkadah (sangat dianjurkan), bukan wajib yang jika ditinggalkan berdosa. Namun, di tahun-tahun lain saat mereka berkurban, mereka mempersembahkan hewan yang paling gagah, paling gemuk, dan paling sempurna. Sementara sahabat Abu Hurairah tak henti mengingatkan bahwa kurban adalah “paspor” syukur bagi mereka yang mampu.
Jemaah Jumat yang berbahagia,
Allah tidak butuh dagingnya, Allah tidak butuh darahnya, tetapi ketakwaan kita. Allah Swt. berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37).
Mari kita jujur pada diri sendiri. Mari kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam. Kadang, kita begitu mudah menyisihkan rezeki demi kenyamanan hidup yang bersifat sementara—memperbaiki hiasan rumah, mengganti perlengkapan harian yang sebenarnya masih layak, atau memenuhi hobi dan keinginan kecil kita tanpa banyak pertimbangan.
Namun, mengapa ketika panggilan berkurban itu datang, jemari kita mendadak sibuk menghitung angka dan logika? Mengapa kita begitu teliti menghitung “biaya”, padahal yang sedang kita siapkan bukanlah pengeluaran, melainkan investasi abadi yang akan menjemput kita di alam keabadian?
Ketahuilah, setiap helai bulu hewan kurban itu akan menjadi saksi pembela di padang Mahsyar. Ia adalah kendaraan yang akan membawamu melintasi shirath. Jangan biarkan kendaraan akhiratmu ringkih karena kau terlalu pelit di dunia.
Semoga Allah Swt. mengetuk pintu hati kita, melembutkan kekakuan jiwa kita, dan memberikan keberanian untuk berkurban tahun ini sebagai bukti cinta yang jujur kepada-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلدَّاعِى إِلىَ رِضْوَانِهِ اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَلَّلهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاء ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Klik ikon printer di bawah teks ini untuk mencetak atau download naskah khutbah nya.
BACA JUGA: Naskah khutbah lainnya di kolom KHUTBAH.












