Beranda Opini

IPNU, Aku Padamu…

Oleh: Rujito (Djito El Fateh),
Wakil Sekretaris PCNU Banyumas, Dosen UIN Saizu Purwokerto

Tahun ini, IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) memasuki usia ke-72 dengan tema yang kuat dan visioner: “Meneguhkan Khidmah Pelajar, Menuju Peradaban Mulia.” Tema ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan penegasan arah gerak organisasi pelajar Nahdlatul Ulama di tengah zaman yang terus berubah. Bagi saya pribadi, tema ini menghadirkan nostalgia sekaligus refleksi panjang tentang perjalanan kaderisasi yang pernah saya irisi sejak remaja.

Saya pertama kali bersentuhan dengan IPNU-IPPNU (ini dwi tunggal karena berbeda harlah tapi tidak terpisahkan) pada 1999. Saat itu berlangsung Konfercab IPNU-IPPNU di Pondok Pesantren Al Falah, Mangunsari, Tinggarjaya, Jatilawang. Saya hadir sebagai peninjau, perwakilan pesantren, masih kelas 2 SMA -dengan segala kepolosan dan rasa ingin tahu yang besar. Di forum itulah saya menyaksikan dinamika pemilihan, adu gagasan, dan semangat kader muda yang berlatih memimpin. Mungkin saat itu saya belum sepenuhnya memahami arti strategis organisasi, tetapi saya merasakan getaran energi perubahan.

Tahun demi tahun berlalu. Irisan saya dengan IPNU semakin dekat, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai sahabat perjalanan para kader yang kemudian tumbuh menjadi tokoh di Banyumas. Sebut saja Unwanussidik (Wakil Sekretaris PCNU) dari Tinggarjaya, Gus Rohman (Sekretaris PC LP Ma’arif Banyumas) dari Sirau, Rofik Kamilun (Tokoh Muda Jatilawang), Aziz Alfarisi yang kini di Baznas Banyumas, Amin Latif di Bawaslu Banyumas, Tati Irawati (Ketua PC Fatayat dan anggota DPRD Banyumas), Mas Era, Syukron Makmuri di LP Ma’arif Banyumas, Yuni Karomah dari Kedungbanteng, dan masih banyak lainnya. Mereka pernah ditempa dalam ruang kaderisasi IPNU-IPPNU.

Saya sadar sepenuhnya, penyebutan sebagian kecil tokoh kader ini bisa ‘bermasalah’. Ya, karena masih begtu banyak kader militan, pejuang, dan juga sama-sama tokoh. Jadi, saya disclaimer bahwa, penyebutan nama itu murni karena keterbatasan saya. Setidaknya, itu yang saya ada irisan, terutama refleki jika sejak 1999 kenal nama. Lebih lengkapnya, tentu tokoh-tokoh itu sekarang ada di Majelis Alumni IPNU-IPPNU Banyumas.

Di situlah saya semakin yakin, IPNU-IPPNU bukan sekadar organisasi pelajar. Ia adalah starting point. Titik awal pembentukan karakter, kepemimpinan, jejaring, dan daya juang. Di fase usia pelajar—fase paling menentukan dalam pembentukan jati diri—IPNU hadir sebagai wadah yang menanamkan nilai belajar, berjuang, dan bertakwa. Tiga kata yang sederhana, tetapi jika dihidupi, akan membentuk fondasi kokoh sepanjang hayat.

Hari ini, irisan itu masih terasa. Saya berinteraksi dengan PC IPNU-IPPNU Banyumas, bersama Fahmi Abdurrohman sebagai Ketua IPNU dan Yeni Rahmawati sebagai Ketua IPPNU. Beberapa kali saya hadir sebagai narasumber atau membuka kegiatan. Setiap kali berjumpa kader-kader muda, saya melihat semangat yang sama seperti 1999 dulu—energi yang mungkin belum sempurna, tetapi penuh potensi.

Kaderisasi di IPNU-IPPNU berada pada tahap yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Ini bukan sekadar belajar memimpin rapat atau menyusun proposal kegiatan. Ini adalah proses menempa mental, membangun keberanian berbicara, melatih berpikir sistematis, serta membiasakan diri berkhidmah untuk kepentingan yang lebih besar dari diri sendiri. Dari sinilah lahir pribadi-pribadi yang kelak siap memikul amanah di ruang sosial, politik, pendidikan, maupun keagamaan.

Kita bisa melihat pola yang berulang: mereka yang dahulu aktif di IPNU-IPPNU, hari ini mengambil peran strategis di berbagai sektor. Itu bukan kebetulan. Organisasi yang hidup dengan ruh “belajar, berjuang, bertakwa” memang sedang membangun manusia seutuhnya—bukan hanya aktivis, tetapi calon pemimpin peradaban.

Di tengah era disrupsi, ketika pelajar begitu mudah terpapar arus informasi tanpa batas, keberadaan organisasi seperti IPNU-IPPNU menjadi semakin relevan. Modernisasi menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Tanpa pendampingan nilai, generasi muda bisa tercerabut dari akar tradisi dan etika. IPNU-IPPNU hadir sebagai jangkar—menghubungkan idealisme pelajar dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah, dengan tradisi, sekaligus dengan semangat kebangsaan.

Karena itu, Harlah ke-72 ini semestinya tidak hanya dirayakan secara internal. Publik perlu menyadari betapa pentingnya organisasi pelajar dalam menjaga ekosistem sosial yang sehat. Jika kita ingin masa depan yang beradab, maka investasi terpenting adalah kaderisasi pelajar hari ini. IPNU-IPPNU adalah salah satu ladang strategisnya.

Harapan saya sederhana namun visioner: semoga IPNU-IPPNU terus meneguhkan khidmah pelajar, memperluas ruang pembinaan, dan berani berinovasi tanpa kehilangan jati diri. Dan semoga masyarakat semakin sadar bahwa membesarkan organisasi pelajar berarti sedang menanam benih peradaban mulia untuk Indonesia di masa depan.