Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Perbandingan antara Novel dan Film

Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Perbandingan antara Novel dan Film
Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Perbandingan antara Novel dan Film

Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur adalah novel karangan Muhidin M. Dahlan yang pertama kali terbit pada 2003.

Novel ini pernah ramai diperbincangkan, khususnya pada 2006, karena dianggap kontroversial.

Novel ini bercerita tentang seorang mahasiswi konservatif bernama Nidah Kirani atau Kiran yang kecewa dengan gerakan pembentukan negara Islam yang ia ikuti.

Luka dihatinya bertambah lebar setelah jatuh hati pada Daarul yang ternyata mentelantarkannya. Lantas ia berubah 180 derajat.

Ia menempuh jalan sebagai pelacur dalam rangka memprotes takdir Tuhan.

Novel ini banyak bercerita mengenai gejolak pemikiran tokoh utamanya, Kiran setelah merasa dikecewakan oleh Tuhan.

Pada 2023, novel ini diadaptasi menjadi film dengan judul Tuhan Izinkan Aku Berdosa yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Film yang telah ditonton oleh 648.055 pasang mata ini dibintangi oleh Aghniny Haque (sebagai Nidah Kirani atau Kiran), Donny Damara (Tomo), Djenar Maesa Ayu (sebagai Aminatun Rohayah atau Mbak Ami), Andri Mashadi (sebagai Daarul Fauzi atau Daarul), Nugie ‘The Dance Company’ (sebagai Alim Suganda), dll.

Tidak adil rasanya menentukan mana yang lebih bagus di antara keduanya.

Hal ini didasari karena keduanya punya wahana yang berbeda. Namun, penulis akan memaparkan perbedaan dua versi ini tanpa menentukan mana yang lebih baik.

Tokoh Daarul Fauzi

Tokoh Daarul Fauzi atau Darul menjadi salah satu kunci dalam perubahan sikap Kiran.

Kiran yang awalnya adalah mahasiswi yang agamis dan punya semangat tinggi dalam mendirikan negara Islam, berbalik menjadi ‘ayam kampus,’ dan bahkan nantinya menjadi PSK profesional.

Salah satu hal yang melatarbelakangi hal ini adalah kekecewaan Kiran atas Darul yang terkesan sebagai lelaki yang memanfaatkan kepandaiannya hanya untuk mendapatkan keperawanan Kiran.

Dalam versi novel, Darul ditampilkan sebagai mahasiswa aktivis progresif kiri yang vokal dalam melawan ORBA, khususnya kebijakan dalam pemberangusan buku-buku kiri.

Dalam versi film, Darul ditampilkan begitu berbeda. Ia ditampilkan sebagai mahasiswa kanan yang berpenampilan religius.

Ia adalah kawan sehalaqah Kiran yang sama-sama punya trust-issue kepada pemimpin gerakan negara Islam yang mereka ikuti.

Kendati digambarkan dalam spektrum pemikiran yang saling bertolakbelakang, namun kedua versi Daarul sama-sama menjadi lelaki mokondo.

Keduanya sama-sama memanfaatkan kondisi Kiran yang tengah rapuh dengan tampil sebagai tempat berteduh Kiran.

Pada akhirnya, mereka hanya mengambil keperawanan Kiran dan kemudian pergi tanpa jejak.

Kejadian inilah yang menjadi salah satu faktor yang secara drastis mengubah pribadi Kiran.

Pengambangan plot

Kendati memodifikasi judul versi novel dengan mengganti “… Menjadi Pelacur” menjadi “… Berdosa,” versi film lebih menggambarkan banyak sepak terjang Kiran menjadi pelacur daripada versi novelnya.

Pada versi film, Kiran digambarkan sebagai kupu-kupu malam kelas atas yang menjadi langganan bagi pejabat-pejabat munafik.

Mereka menampilkan diri sebagai figur yang religius di depan publik namun mereka sebenarnya mereka juga berkecimpung di dunia pelacuran.

Dalam versi novelnya, plot hanya terbatas hingga perenungan Kiran yang akan terjun ke dunia pelacuran.

Baca juga: Kritik Pembangunan Dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

Sebelumnya, ia adalah petualang ranjang yang terkenal gonta-ganti pasangan di kampus.

Hal ini ia perbuat dalam rangka balas dendam terhadap lelaki, sebagai pelampiasan atas luka yang digoreskan Darul.

Ia akan membuat lelaki yang menggaulinya bertekuk lutut di hadapannya, sereligius apapun ia.

Jika ditilik lebih dalam, perbedaan yang demikian merupakan proses saling melengkapi.

Adegan dominan dalam film adalah tindak-tanduk Kiran sebagai pelacur kelas atas.

Ini merupakan perwujudan manifesto Kiran setelah melalui perenungan penuh gejolak, cerita dominan pada versi novel.

Penokohan Kiran

Dalam novel, penokohan Kiran secara dominan digambarkan melalui penjabaran isi pikiran Kiran yang kritis, penuh penolakan akan pemikiran arus-utama, bahkan cenderung liar.

Ia banyak mempertanyakan doktrin-doktrin mapan tentang kuasa Tuhan dan posisi perempuan di dalam kacamata agama.

Membacanya seperti membaca pemikiran-pemikiran alternatif dalam diskusi progresif yang liberal.

Dalam film, penokohan Kiran (Aghniny Haque) banyak digambarkan melalui tindak-tanduknya yang mencerminkan sifat cerdas, kritis, dan pantang menyerah.

Yang paling epik tentu adalah runtutan adegan di mana ia menjebak korbannya, Alim Suganda (Nugie).

Tokoh Alim adalah politikus pengguna jasa Kiran yang mencitrakan diri sebagai sosok yang family-man dan religius.

Citranya yang begitu positif buyar seketika setelah Kiran membuka kedoknya dalam suatu gelar wicara.

Alur

Dalam novel, alur cenderung stagnan. Novel diawali pertemuan tokoh yang sepertinya adalah penulis novel sendiri dengan tokoh yang sepertinya adalah Kiran.

Cerita dilanjutkan dengan alur maju. Di situ diceritakan bagaimana pikiran Kiran berproses dan pada akhirnya memilih jalan menjadi pelacur.

Penulis banyak menceritakan dialektika yang berkembang di pikiran Kiran.

Berawal dari Kiran yang punys idealis masalah ibadah dan pemikiran, ikut bergabung dalam gerakan Negara Islam, meragukan semangat dan integritas pengurus gerakan, merasa kecewa dengan keadaan dan takluk di pelukan Darul, dan akhirnya ‘bangkit dan melawan takdir.’

Alur dalam film lebih berjalan variatif dengan kombinasi kilas balik dan alur progresif.

Metode ini menjadikan penonton mafhum akan latar belakang atas apa yang terjadi di alur progresif.

Ketika penonton bertanya-tanya mengapa tokoh a melakukan ini pada alur progresif, akan adegan kilas balik akan menjawabnya.

Penonton juga akan dimanjakan dengan transisi antaradegan yang begitu halus, bahkan seakan tersambung. Ketersambungan ini dapat berwujud dialog maupun adegan.

Tuhan Izinkan Aku Berdosa (film) mempunya akhiran tertutup.

Versi film memberi gambaran lebih tuntas mengenai pencarian jatidiri Kiran.

Hal ini berbeda dengan Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (novel) yang menyuguhkan akhir mengambang.

Penonton versi film akan paham bagaimana akhir sepak-terjang Kiran sebagai PSK bagi tokoh-tokoh yang terkesan religius namun munafik.

Semantara versi novel hanya akan disuguhkan dasar pemikiran mengapa Kiran terjun menjadi PSK bagi untuk kriteria tersebut tanpa diberi gambaran bagaimana sepak terjang Kiran dalam mewujudkan manifesto ganjilnya.

Tulisan sebelumnyaLho Kok Cuma Kiai, Nggak Ada Habibnya?
Tulisan berikutnyaSah! Dudiyono Ketua Pergunu Banyumas, Guru Diminta Hilangkan Mindset Apatis

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini