Beranda Warta

Sebelum Mendampingi Siswa, Guru Diajak Belajar Mengelola Diri

AJIBARANG, nubanyumas.com – Guru dan aktivis GP Ansor Ajibarang diajak belajar mengelola diri sebelum mendampingi siswa dalam menghadapi berbagai persoalan melalui Training of Trainers (ToT) Coaching “Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf untuk Menangani Kenakalan Remaja”.

Kegiatan yang digelar di Embung Kanoman, Ajibarang, Banyumas, Senin (21/9/2026), pukul 09.00–13.00 WIB, tersebut diikuti kepala sekolah dan guru di lingkungan LP Ma’arif Ajibarang serta aktivis GP Ansor Ajibarang.

ToT tersebut merupakan kolaborasi GP Ansor Ajibarang, LP Ma’arif Ajibarang, LP2M Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, dan Tim Pengabdian Fakultas Filsafat UGM.

Ketua MWC Ma’arif NU Ajibarang Slamet Ibnu Ansori mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap persoalan yang dihadapi anak-anak muda di Ajibarang. Menurutnya, LP Ma’arif yang bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan mengambil peran melalui upaya pencegahan dan edukasi.

“ToT ini diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan atas ‘prestasi yang kurang baik’ yang dilekatkan pada anak-anak muda Ajibarang. LP Ma’arif yang bergerak di dunia pendidikan dan keagamaan mengambil inisiatif untuk berkontribusi mencegah dan mengedukasi anak-anak muda agar tidak terjerumus ke dalam berbagai persoalan,” ujar Slamet.

Ketua panitia Kukuh Rustiadi mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan jargon GP Ansor Ajibarang, yakni “aksi dan edukasi”. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Ansor untuk hadir dalam memberikan edukasi.

“Sesuai visi Ketua GP Ansor Ajibarang Sahabat Muhammad Ridwan bahwa jargon Ansor Ajibarang adalah aksi dan edukasi. Inilah saatnya Ansor Ajibarang hadir untuk mengedukasi,” katanya.

Kepala LP2M UNUGHA Cilacap Fahrur Rozi yang juga menjadi salah satu trainer menyampaikan materi mengenai pendekatan spiritual dalam menghadapi persoalan kehidupan. Ia mengaitkannya dengan praktik yang telah diajarkan para ulama, guru, dan orang tua dalam tradisi NU.

“Para ulama, guru-guru dan orang tua kita, dalam tradisi NU telah mengajarkan dan mempraktikkan bahwa Al-Fatihah, Al-Qur’an, Asmaul Husna dan hati nurani bisa dijadikan solusi atas berbagai masalah kehidupan kita,” ujarnya.

Sementara itu, Heri Santoso dari Fakultas Filsafat UGM menyampaikan Coaching Jiwa Merdeka berbasis filsafat dan tasawuf. Ia menjelaskan coaching bukan sekadar memberikan nasihat, tetapi membantu seseorang mengenali persoalan, menemukan akar masalah, dan mencari solusi.

Dalam pelaksanaannya, materi disampaikan melalui cerita, permainan, kuis, refleksi, dan pemberian umpan balik. Peserta juga diajak memahami kondisi diri sebelum nantinya mendampingi siswa yang menghadapi berbagai persoalan.

Salah seorang peserta mengatakan kegiatan tersebut memberinya ruang untuk melakukan refleksi terhadap persoalan pribadi sebelum mendampingi orang lain.

“Alhamdulillah setelah mengikuti TOT hari ini saya lebih merasa lega, tenang dan merasa cukup dengan segala hal yang saya miliki hari ini. Walaupun di balik semua masalah pribadi kami masing-masing, setidaknya sebelum kita membantu siswa untuk menyelesaikan masalah, alangkah lebih baik diri kita yang lebih dulu mengelola semua permasalahan dengan baik agar nantinya dapat mendampingi siswa dengan lebih optimal dan tentunya semua hal dimudahkan oleh Allah SWT,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Rais Syuriah NU Ajibarang KH. Zulfa Mohamad Nur, Ketua Tanfidziyah NU Ajibarang KH. Slamet Ibnu Ansori, Ketua LP Ma’arif Ajibarang H. Hartoyo, serta jajaran PAC GP Ansor Ajibarang.

(H Ahyar)