
Oleh : Hisyam Maulana
Mahasantri, Ma’had Aly Andalusia
Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah
Ramadhan di pesantren selalu punya suasana yang berbeda. Lebih khusyuk, lebih hangat, dan lebih sarat makna. Itulah yang terasa di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia ketika tradisi pengaosan puasanan kembali digelar bersama Rodliyah Ghorro’ Maimun Zubair. Bukan sekadar rutinitas tahunan, kegiatan ini menjelma menjadi ruang hidup bagi sanad keilmuan yang terus menyala dari generasi ke generasi.
Di tengah arus digitalisasi dan serbacepatnya informasi, tradisi membaca dan mengkaji kitab kuning justru terasa semakin relevan. Pesantren membuktikan bahwa kedalaman ilmu tidak bisa digantikan oleh ringkasan instan. Ramadhan menjadi momen istimewa untuk memperlambat langkah, menekuni teks klasik, dan menyerap hikmah langsung dari guru yang memiliki mata rantai keilmuan yang jelas.
Program ini menjadi bagian dari Balagh Ramadhan, sebuah ikhtiar mengisi 20 hari terakhir sebelum santri pulang ke rumah. Di masa-masa inilah, khataman kitab bukan hanya target akademik, tetapi juga laku spiritual. Ada disiplin waktu, ada adab majelis, dan ada rasa hormat yang tumbuh dari duduk bersila mendengarkan penjelasan demi penjelasan.
Salah satu kitab yang dikaji adalah Tarajim Masyayikh al-Ma’ahid ad-Diniyyah bi Sarang al-Qudama. Kitab ini bukan sekadar kumpulan biografi, melainkan rekaman perjuangan para masyayikh Sarang terdahulu. Membaca tarajim berarti membaca jejak ketekunan, kesederhanaan, dan dedikasi ulama dalam membangun tradisi ilmiah. Santri tidak hanya mengenal nama, tetapi juga meneladani semangatnya.
Kajian lain yang tak kalah penting adalah Risalah al-Haid, yang mengupas tuntas fiqih perempuan dalam mazhab Syafi’i. Di sini, pesantren menunjukkan keberpihakan pada kedalaman pemahaman hukum-hukum ibadah perempuan—mulai dari haid, nifas, hingga istihadhah—agar dapat diamalkan dengan penuh keyakinan. Fiqih tidak dibiarkan samar; ia dibedah dengan teliti dan disampaikan dengan bahasa yang membumi.
Untuk tingkat lanjut, dikaji pula Anwar al-Masalik, syarah atas karya Ahmad ibn Naqib al-Misri yang kemudian disyarahi dan dinisbatkan kepada Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar Syafi’iyyah dan Mufti Makkah pada masanya. Kitab ini membentangkan fiqih ibadah hingga muamalah secara sistematis, memperlihatkan bagaimana mazhab dibangun di atas metodologi dan dalil yang kokoh.
Menariknya, seluruh kajian disusun proporsional sesuai jenjang santri. Ada yang diperuntukkan bagi pengurus dan mutakhorijat, ada yang khusus untuk kelas Tsanawi, dan ada pula yang eksklusif untuk Ma’had Aly. Ini menunjukkan bahwa tradisi kitab kuning bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi sistem pembelajaran yang terstruktur dan visioner.
Pada akhirnya, pengaosan Ramadhan ini mengajarkan satu hal penting: ilmu adalah cahaya yang diwariskan, bukan diputus. Di ruang-ruang sederhana, dari pagi hingga ba’da tarawih, para santri belajar bahwa menjaga tradisi bukan berarti anti-perubahan. Justru dari akar tradisi itulah, lahir generasi yang kokoh, matang dalam fiqih, dan siap merawat estafet keilmuan ulama di masa depan.












