
Oleh: Hisyam Abdullah
Mahasantri Ma’had Aly Andalusia
Ramadhan 1447 H di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia Banyumas kembali menjadi bulan yang tidak biasa. Di bawah asuhan KH Zuhrul Anam Hisyam, atau yang akrab kami panggil Gus Anam, 20 hari pertama Ramadhan diisi dengan program Balagh Ramadhan—sebuah tradisi mengkaji dan menuntaskan kitab-kitab turats secara intensif dari pagi hingga larut malam.
Balagh Ramadhan bukan sekadar pengajian rutin. Ia adalah maraton keilmuan. Sejak pukul 07.00 WIB, para santri sudah duduk rapi di Aula Putri untuk mengkaji Al-Fawā’id al-Makkiyyah karya Sayyid ‘Alawi as-Saqqaf al-Makki. Kitab ini menjadi fondasi fikih mazhab Syafi’i, membedah persoalan ibadah sehari-hari dengan penjelasan yang ringkas namun padat. Di tangan Gus Anam, pembahasan fikih terasa hidup, aplikatif, dan dekat dengan realitas santri.
Selepas itu, suasana langsung bergeser ke kajian hadis. Mukhtashar Shahih Muslim karya al-Mundziri dibaca secara intensif hingga tiga sesi dalam sehari: pagi, siang, dan malam. Hadis-hadis pilihan tentang akidah, ibadah, akhlak, hingga muamalah dikupas tuntas. Bagi kami, ini bukan hanya membaca ringkasan Shahih Muslim, tetapi belajar cara memahami hadis secara sistematis dan bertanggung jawab.
Yang menarik, Gus Anam tidak hanya membacakan teks, tetapi mengaitkannya dengan konteks kekinian. Setiap hadis dibingkai dengan penjelasan sanad keilmuan, makna bahasa, serta relevansinya dalam kehidupan modern. Di sinilah terasa kapasitas beliau sebagai pengajar yang matang—menggabungkan kedalaman turats dengan kepekaan sosial.
Memasuki waktu ba’da Ashar dan selepas Tarawih, suasana berubah lebih hening. Kitab Al-Arba‘ūn fī at-Tashawwuf karya Imam as-Sulami menjadi santapan ruhani. Empat puluh hadis dan atsar tentang penyucian jiwa dibahas perlahan, menyentuh dimensi batin santri dan jamaah umum yang hadir. Fikih dan hadis yang rasional berpadu dengan tasawuf yang menenangkan.
Tidak berhenti di situ, Gus Anam juga mengkaji Ma‘ālim al-Mujtama‘ an-Nisā’ī fil Islām karya Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim. Kitab ini membedah peran perempuan dalam masyarakat Islam, menghadirkan perspektif sosial yang progresif namun tetap berpijak pada nilai syariat. Kajian ini terbuka untuk umum, menunjukkan bahwa Balagh Ramadhan tidak hanya untuk kalangan santri, tetapi juga masyarakat luas.
Yang terasa kuat dari seluruh rangkaian ini adalah sinergi keilmuan. Fikih sebagai panduan praktik, hadis sebagai dasar normatif, tasawuf sebagai pembersih hati, dan kajian sosial sebagai respons terhadap realitas umat. Gus Anam seolah sedang menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dipahami secara parsial—ia harus utuh.
Menariknya lagi, seluruh rangkaian kajian disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Andalusia Hibbana. Dengan demikian, alumni dan masyarakat di luar Banyumas tetap bisa mengikuti denyut Balagh Ramadhan ini. Tradisi talaqqi tetap dijaga, tetapi teknologi dimanfaatkan untuk memperluas manfaat.
Bagi kami para santri, Balagh Ramadhan bukan hanya agenda tahunan. Ia adalah latihan kesungguhan, kedisiplinan, dan kecintaan pada ilmu. Dari pagi hingga hampir tengah malam, kami menyaksikan langsung bagaimana seorang kiai menuntun kitab demi kitab dengan ketekunan dan kedalaman.
Ramadhan tahun ini kembali menegaskan kapasitas Gus Anam: bukan hanya sebagai pengasuh pesantren, tetapi sebagai penjaga tradisi turats yang mampu merangkai fikih, hadis, tasawuf, dan kajian sosial dalam satu tarikan napas keilmuan. Di Andalusia, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah—ia adalah bulan ilmu yang menyala.












