Memaknai Musibah di Awal Tahun 2021

0
37

MEMASUKI awal tahun 2021, Negara kita tampaknya sedang tidak baik-baik saja. Disamping jumlah para kyai yang dipundut Allah Swt (wafat) semakin bertambah setiap harinya, sejumlah bencana alam pun terus datang silih berganti.

Seperti yang kita ketahui, ditengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda ini, kita semakin prihatin dengan terjadinya tanah longsor di Sumedang pada Sabtu (9/1/2021). Di hari yang sama, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Belum lagi, gempa bumi di Sulawesi Barat, Banjir di Kalimantan Selatan dan yang terbaru ini banjir bandang di Puncak Bogor Jawa Barat.

Sebagai manusia yang beriman, tentu saja kita wajib melakukan perenungan dan muhasabah dari sekian banyak bencana yang terjadi di awal tahun ini. Disamping itu, mungkin saja terbesit dalam pikiran kita, mereka-reka pertanyaan sebuah tegurankah, hukumankah atau pengingat atas banyaknya kelalaian dan kedzaliman kita.

Mengurai pertanyaan-pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita lebih arif dalam bersikap dan berpijak pada pemikiran positif sehingga yang dicari bukanlah ‘Kambing Hitam’, melainkan sejauh mana kita mampu mengambil hikmah di balik musibah atau bencana yang sedang melanda ini.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam kanal YouTubenya pernah memberikan sebuah analogi. Ia mengatakan cara pandang manusia umumnya masih parsial. Sepertihalnya titik hitam dalam lukisan, kalau hanya titik hitam yang dilihat, orang akan menilai titik hitam itu buruk. Kalau yang dilihat hanya sebatas tahi lalat, orang akan melihat itu buruk. Namun jika ia melihat keselurhan wajah wanita tempat tahi lalat itu berada, ia mungkin akan melihat keindahan.

Dari analogi sederhana itu, Quraish Shihab sedikit banyak menyadarkan kita bahwa dalam melihat suatu musibah atau bencana haruslah menekankan kepada kesadaran religius. Yaitu kesadaran untuk selalu berprasangka baik terhadap semua yang sudah ditakdirkan Allah Swt di alam semesta ini.

Selain sebagai bahan muhasabah bahwa musibah yang menimpa bangsa ini merupakan sebuah ujian iman dan kesabaran. Kita juga harus mengokohkan mental spiritual agar kita tetap memiliki nalar positif dan kreatif sehingga semakin bersyukur, bersabar, dan bertawakal kepada-Nya.

Dengan demikian, banyaknya musibah yang sedang melanda negara kita ini, harus menumbuhkan sikap optimisme, bahwa kehidupan ini tidak selalu dalam balutan kedukaan dan kesulitan. Allah sendiri telah menjanjikan, “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan” (QS Ash-Sharh (94):6).

Sikap optimisme itu harus ditanamkan, sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan mental spiritual, baik bagi korban langsung maupun tidak langsung. Jika kita mampu menumbuhkan dengan baik sikap optimisme tersebut, maka kita akan mudah berempati, bergandeng tangan, bersinergi, dan saling menolong untuk menyelamatkan jiwa dan meringankan beban penderitaan korban yang selamat. Terutama dari trauma dan pemulihan jiwa.

Dari sinilah dapat kita pahami, bahwa musibah haruslah selalu dimaknai positif, harus berprasangka baik kepada setiap takdir-takdir dari Yang Maha Kuasa. Sehingga kita mampu untuk selalu introspeksi diri, muhasabah, dan dzikrullah agar kita menjauhkan diri dari kesombongan dan kemaksiatan, menuju pendekatan diri dan ketaatan kepada Sang Penguasa alam semesta. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here