Mbah Nachrowi Pamijen-Sokaraja & Pencuri

460

SUATU hari, mbah Nachrowi kedatangan tamu tak dikenal. Tamu tersebut memperkenalkan diri sebagai seorang pencuri yang sudah berusaha mencuri rumah mbah Nachrowi empat kali, tetapi selalu gagal.

Singkat cerita pencuri itu bertanya amalan apa yg dimiliki Mbah Nachrowi hingga rumah Beliau tidak bisa dibobol oleh pencuri tersebut, bahkan sampai empat kali.

Mendengar pengakuan pencuri tersebut, mbah Nachrowi dengan santai menjawab dengan candaan, “mau untuk apa? Malah nanti rumah saya jadi kemalingan.” Si pencuri tartawa dan berjanji untuk tidak mencuri dirumah Beliau. Pencuri itu datang bertanya karena rasa penasaran saja.

Setelah kejadian itu pencuri tersebut menjadi sering datang ke ndalem dengan membawa hasil kebun. Ketika ditanya Mbah Nachrowi hasil kebun tersebut hasil mencuri atau bukan. Dia menjawab yang dibawa adalah hasil dari kebunnya.

Dengan rasa bahagia dan bangga, si pencuri itu bercerita kalau anaknya sudah dipesantrenkan, lalu mbah Nachrowi bertanya, “kamu masih mencuri?”.

Jawaban si pencuri ini cukup menarik, katanya dia masih tetap mencuri walaupun berharap anaknya jangan jadi pencuri. Anaknya dipesantrenkan dengan uang yang dihasilkan bukan dari mencuri, tambahnya.

Inilah sedikit kisah Kyai Nachrowi dengan Pencuri. Dua individu yang punya kehidupan saling bertentangan, tetapi bisa tetap bersahabat.

Mbah Nachrowi mengajarkan kepada kita untuk memanusiakan manusia, seperti apapun dia. Sikapnya yang “ngemong” terhadap masyarakat sangat terasa oleh mereka yang pernah bertemu dan berkomunikasi dengan beliau.

Sekarang nama beliau diabadikan menjadi salah satu nama jalan di desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja, Banyumas-Jawa Tengah.

Muhammad Syafiq Najmuddin, M.Pd.
Guru di SMK Diponegoro 3 Kedungbanteng dan Ketua PAC Pagar Nusa Cilongok

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here