Lho Kok Cuma Kiai, Nggak Ada Habibnya?

Lho Kok Cuma Kiai, Nggak Ada Habibnya?
Lho Kok Cuma Kiai, Nggak Ada Habibnya?

“Lho kok cuma kiai, nggak ada habibnya?” begitu celetukan mbok suryani yang sedang menghadiri majelis pengajian bersama ibu-ibu lain.

Menghadiri majelis pengajian merupakan salah satu rutinitas, sebagian menjadi hobi, bagi sebagian besar anggota ormas Islam besar di Indonesia.

Hampir setiap minggu, ada saja majelis pengajian yang diselenggarakan oleh berbagai level kepengurusan ormas seperti Ranting, Anak Cabang, atau Cabang.

Badan otonom (Banom) ormas Islam ini juga turut berlomba mengadakan majelis pengajian, baik itu Banom untuk pelajar, pemuda, dan perempuan muda.

Bahkan organisasi mahasiswa yang interdependen terhadap ormas Islam tersebut juga tidak mau ketinggalan eksistensi sebagai penyelenggara majelis pengajian.

Dalam beberapa tahun ini, majelis pengajian yang diselenggarakan oleh ormas Islam tersebut kerap menghadirkan pelantun sholawat yang diiringi dengan tabuhan seperangkat rebana lengkap.

Mbok Suryani dan ibu-ibu desa menyebut pelantun sholawat ini dengan panggilan “Habib”. Majelis pengajian pun perlahan berubah menjadi majelis sholawat.

Tentu bukan sembarang pelantun sholawat dipanggil habib, kebanyakan mereka adalah yang memiliki paras kearab-araban.

Paras menyerupai pria Arab ini dilengkapi dengan hidung mancung, jambang tipis melingkar dari telinga hingga dagu, dan sorban menutupi kepala.

Meski ada juga Habib yang cukup memakai baju putih, jas, dan peci hitam agar penampilan mereka tampak setara dengan jamaah yang berada di bawah panggung.

Namun sebagaimanapun mereka mencoba tampil setara, ada rasa superioritas yang melingkupi pribadi seorang pelantun sholawat.

Bagaimana tidak, banyak orang seperti Mbok Suryani dan anggota ormas Islam ini menganggap mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Tanpa peduli perdebatan antara Imaduddin dan Rumail Abbas mengenai keabsahan nasab sebagian Habib, sebagian anggota ormas Islam ini tetap tetap rajin menghadiri majelis sholawat.

Berbekal hafalan lirik syair yang mereka tidak mengerti artinya, mbok Suryani dan kawan-kawan tetap ceria mengikuti lantunan vokal para Habib.

Dari majelis ke majelis, orang – orang seperti mbok Suryani setia menghadiri majelis sholawat yang lama kelamaan menyerupai konser band indie.

Panggung megah, sound sistem menggelegar, lampu sorot warna – warni, konon menurut mereka menambah keasyikan dalam bersholawat.

Kesetiaan mbok Suryani dan anggota ormas Islam besar ini turut dipupuk dengan keutamaan dalil membaca sholawat.

Tentu dalil ini disampaikan oleh pelantun sholawat yang disebut habib itu, tidak lupa dengan anjuran mencintai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Tampaknya mereka lupa, mencintai Nabi Muhammad SAW itu bukan sekedar membaca sholawat. Lebih penting dari itu, adalah meniru perilaku nabi yang mencintai kaum dhuafa, menyayangi anak yatim, membela mereka yang tertindas, dan mencari ilmu.

Namun tampaknya, menyelenggarakan majelis sholawat megah lebih disukai oleh pengurus ormas Islam ini, dan tentu dianjurkan oleh para Habib.

Bagaimana tidak, dalam satu kali manggung seorang pelantun sholawat bisa mengantongi paling tidak satu juta rupiah.

Kalau dia memiliki suara yang bagus dan barisan penggemar yang melimpah, tarifnya bahkan bisa lebih mahal hingga puluhan juta rupiah.

Andai saja puluhan juta ini bisa dikelola sebagai basis pemberdayaan ekonomi anggota ormas Islam yang ternyata masih banyak di bawah garis kemiskinan, tentu akan lebih bermanfaat.

Baca juga: Adakah Muhammad Abad 21?

Hal ini juga bentuk mencintai nabi Muhammad SAW, yang mencintai kaum dhuafa.

Mencintai kaum dhuafa jangan hanya dilakukan dengan memberi bantuan beras, namun juga upaya untuk mengangkat derajat ekonomi mereka dari situasi kemiskinan.

Banyak Lagu, Minim Ilmu

Pada sebuah acara pengajian sederhana di desa, mbok Suryani merasa gusar.

Pasalnya, pengajian sedderhana di level pengurus Ranting hanya bisa menghadirkan seorang kiai dari kampung sebelah.

Mbok Suryani yang biasa menghadiri majelis sholawat megah pun hanya bisa menggerutu.

“Lho kok cuma kiai, nggak ada Habibnya”, begitu celetuk mbok Suryani kepada seorang pemuda yang merupakan salah satu panitia pengajian.

Pemuda yang merupakan lulusan perguruan tinggi Islam kemudian menjawab, “Mbok, ngaji sama Kiai ini lebih banyak ilmunya. Beliau ini ngisi pengajian mengutip dari kitab Ihya’ Ulumuddin lho bu. Kalau sholawatan itu kan lebih banyak lagu-lagunya.”

“Oooo begitu ya mas, tapi kira-kira kapan desa kita ini bisa menghadirkan sholawatan sama Habib – Habib itu?” Mbok Suryani bertanya dengan polos.

“Nanti ya bu, kalau pengurus Ranting dapat pembagian keuntungan dari tambang batubara.”, jawab pemuda tersebut sambil menyalakan rokok yang tinggal sebatang kara.

Tulisan sebelumnyaMahasiswa UIN Saizu Purwokerto, KKN Moderasi Beragama di Kuningan
Tulisan berikutnyaTuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Perbandingan antara Novel dan Film

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini