Kang Jalal: Antara NU, Syiah dan Tasawuf

In-Memoriam Jalaluddin Rakhmat

BAGI aktifis mahasiswa (Islam) era tahun 1990-an dapat dipastikan mengenal sosok cendekiawan Muslim Indonesia bernama Jalaluddin Rahmat. Pemikiran-pemikiran Kang Jalal, begitu dia akrab dipanggil, sering menjadi bahan kajian dan diskusi di kampus maupun forum diskusi mahasiswa di luar kampus.

Selain Kang Jalal, di era itu, tokoh inteletual lain adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid (Cak Nur), serta KH. Quraih Shihab. Tokoh-tokoh tersebut pemikirannya sangat mewarnai khasanah para inteletual muda. Namun masyarakat banyak menilai pemikiran tokoh-tokoh tersebut penuh kontroversial.

Hasil pemikiran keempat tokoh tersebut selalu aktual dan relevan hingga saat ini, serta kita pun akan mendapat solusi cerdas dan tidak lepas dari rel-rel agama. Karena mereka ini disamping populer juga memiliki ilmu yang dalam. Bukan sebaliknya populer, tapi memiliki ilmu yang dangkal.

Mereka pun dapat kita sebut dengan guru bangsa, walaupun Gusdur dan Cak Nur sudah terlebih dahulu disebut sebagai guru bangsa oleh sebagian masyarakat.Mereka pemersatu ummat dan pemersatu bangsa. Mereka memperkenalkan agama tidak dengan kegarangan, kebencian, tidak dengan pedang, tidak dengan permusuhan, tapi dengan kedamaian, dengan keramahan dan dengan penuh persahabatan serta sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Kang Jalal dan Gus Dur

Kang Jalal dan Gus Dur dikenal sangat akrab. Selain sama-sama tokoh kontroversial keduanya juga memiliki selera humor yang tinggi. Mereka gemar mengeluarkan guyonan-guyonan khas tingkat tinggi ala pesantren. Pada suatu cerita, Gus Dur pernah membuat Kang Jalal sangat jengkel.

Seperti pernah dikisahkan KH Mustofa Bisri (Gus Mus), bahwa Kang Jalal dibuat jengkel oleh kebiasaan Gus Dur tertidur, baik saat tengah duduk di kursi tamu undangan pada suatu hajatan, di kendaraan, di sidang paripurna DPR, dan di banyak momentum penting lainnya, kebiasaan itu nyaris tak pernah ketinggalan.

“Karena kebiasaannya ini, banyak orang yang kerap jengkel. Termasuk Kang Jalal. Bagaimana tidak? Wong salah seorang pemimpin negara Islam Iran mau bicara dan berdialog, Gus Dur justru tidur. Ngorok lagi,” ujar Gus Mus Gus Mus, seperti dilansir Kompas.com, Kamis (7/9/2017).

Setelah jengkel, Gus Dur justru membuat Kang Jalal heran, Gus Dur tertidur di tengah pidato pemimpin Iran itu, malah mengangkat tangan terlebih dahulu untuk meresponnya setelah pidato presiden Iran usai.

“Itu menunjukkan bahwa dirinya sangat memahami isi pidato pemimpin Iran itu,” terang Gus Mus kembali.

Belakangan, Kang Jalal yang sebelumnya jengkel dengan kebiasaan Gus Dur pun justru menjadikan sosok Gus Dur sebagai idolanya. Sesudah pengalaman itu, orang yang tidak disukainya itu berubah menjadi sahabatnya. Bahkan Kang Jalal mengagumi, menghormati, dan mencintainya. Bahkan, ada yang menyangka Kang Jalal adalah ‘asli’ tokoh NU.

Syiah dan Tasawuf

Tumbuh dalam keluarga Islam tradisional, Kang Jalal sempat aktif di Muhammadiyah, sebelum terjun total ke tasawuf dan akhirnya menganut Syiah. Sejak era pertengahan 1980-an hingga 1990-an, namanya selalu dilekatkan dengan mazhab Islam Syiah, sehingga dia pernah ‘diadili’ oleh sebagian ulama Sunni di Bandung. Sampai Kang Jalal dilarang berceramah di wilayah itu, tetapi dia selalu menolak disebut penganut Syiah, saat itu.

Pria kelahiran 29 Agustus 1949 ini juga dikenal karena aktivitasnya pada kajian tasawuf – yang mampu menjaring kalangan perkotaan, serta sering disebut sebagai salah-seorang cendekiawan Muslim Indonesia terkemuka.
Seiring keterbukaan politik, persisnya saat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden Indonesia, akhirnya secara terbuka mengaku sebagai penganut Islam Syiah.

Penulis sendiri pernah bertemu Kang Jalal pada sebuah diskusi di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) dan mendengar sendiri pengakuannya itu.
“Saya memang syiah. Secara fikih dan akidah, saya memang Syiah,” aku Kang Jalal.

Diperkuat dengan fakta Kang Jalal membidani dan memimpin salah-satu organisasi resmi kaum Syiah di Indonesia, yaitu Ikatan Jamaah Alhulbait Indonesia, atau Ijabi, pada awal Juli 2000.
Lantas, bagaimana awalnya penulis buku Islam Aktual (1994) dan Psikologi Komunikasi (1994) ini akhirnya menganut Islam Syiah, walaupun sebelumnya dia mengaku dibesarkan dalam tradisi NU dan sempat mencicipi ajaran Muhammadiyah.

“Dalam tasawuf, bukan hanya seluruh mazhab, tetapi seluruh agama di dunia bertemu,” tegas Kang Jalal yang mengaku menganut Syiah melalui ‘jalan’ tasawuf.

Pada Senin, 15 Februari 2021, kita menerima kabar, Allah SWT memanggil Kang Jalal pukul 15:45 WIB di ICU RS Santosa Internasional Bandung. Selamat berpulang, Kang. Semoga amal-amal jariyahmu akan melapang alam kuburmu. Lahul Fatihah.

(Muhamad Saefullah,- diolah dari berbagai sumber)

Tulisan sebelumnyaPelantikan Pengurus NU kok ‘Dompleng’
Tulisan berikutnyaNU Purwojati Gerak Cepat Sukseskan SISNU

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini