Beranda Warta Obituari

Habib Muhammad Al-Habsyi: Sosok yang Jago Berorganisasi dan Mentor Kader Tangguh

Habib Muhammad Al-Habsyi: Sosok yang Jago Berorganisasi dan Mentor Kader Tangguh
Habib Muhammad Al-Habsyi: Sosok yang Jago Berorganisasi dan Mentor Kader Tangguh

PEKUNCEN, nubanyumas.com – Kesaksian mendalam mengiringi kepergian Mustasyar PCNU Banyumas, Habib Muhammad bin Ja’far Al-Habsyi, Kamis (29/1/2026). Salah satunya disampaikan KH Faturrohman Rudi Ariwibowo, mantan Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banyumas, yang menuturkan jejak panjang dedikasi almarhum yang ia saksikan sejak masa muda.

Kiai Faturrohman mengisahkan, kebersamaannya dengan almarhum telah terjalin sejak keduanya masih bujangan dan aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada masa itu, mereka bergerak bersama sejumlah tokoh penting NU Banyumas, di antaranya Ir. Suarso yang saat itu menjabat Ketua PCNU Banyumas, serta Ketua IPNU Banyumas, Khoirul Fuadi.

Dalam kesaksiannya, Kiai Faturrohman menegaskan bahwa Habib Muhammad dikenal sebagai sosok yang paling gigih menjaga marwah dan prinsip organisasi, khususnya melalui upaya pengamanan aset-aset NU.

“Saya saksi sejak zaman IPNU. Bersama Ir. Suarso dan rekan-rekan lain, beliau sangat ‘ngotot’ melakukan penertiban aset-aset NU. Beliau ingin semua masjid NU memiliki surat resmi agar aman secara hukum. Dua periode saya bersama beliau di MWC NU, beliau juga sangat gigih memperjuangkan berdirinya MI di wilayah ini,” kenang Kiai Faturrohman.

Kesaksian serupa juga disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy Leler, KH Zuhrul Anam Hisyam atau yang akrab disapa Gus Anam. Menurutnya, selama bergaul dengan almarhum, yang paling menonjol dari diri Habib Muhammad adalah kebaikan pribadi dan perhatian besarnya terhadap jam’iyah NU.

“Saya bergaul dengan beliau, tidak ada yang saya lihat selain kebaikan. Beliau sangat perhatian dengan NU. Beliau adalah habib yang betul-betul paham tata kelola organisasi,” ujar Gus Anam.

Selain soal aset dan manajemen organisasi, almarhum juga dikenal memiliki pola kaderisasi yang disiplin dan tegas. Menurut Kiai Faturrohman, gaya tersebut merupakan warisan langsung dari sang ayah, Habib Ja’far, yang sengaja diterapkan untuk membentuk mental kader NU agar tangguh dan berani tampil di ruang publik.

“Kaderisasinya mirip Habib Ja’far. Saya sendiri pernah dimarahi karena menolak jadwal kultum Ramadan. Beliau tidak ingin kader NU lembek, beliau ingin kita berani tampil. Berkat kegigihan beliau pula, NU kini mendapatkan tempat yang sangat terhormat di masyarakat,” tambahnya.

Totalitas pengabdian Habib Muhammad, lanjut Kiai Faturrohman, bahkan terlihat hingga detik-detik terakhir hayatnya. Di tengah kondisi kesehatan yang menurun, almarhum masih memaksakan diri menghadiri rapat organisasi pada Sabtu siang, sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit pada malam harinya. Pertemuan terakhir secara organisasi terjadi dalam rutinan malam Senin Pahing.

Kini, warisan perjuangan almarhum,mulai dari tradisi rutinan malam Senin Pon di tingkat MWC hingga Pondok Pesantren Roudlotul Ilmi,menjadi amanah besar bagi generasi penerus.

“Tinggalannya banyak sekali untuk umat. Semoga kita semua kuat menjalankan wasiat-wasiat beliau dan terus menjaga eksistensi pondok pesantren yang beliau asuh,” pungkas mantan Ketua PC GP Ansor Banyumas tersebut.

editor: ahyar