Beranda Sosok

Hari Santri di Rusia: Menemukan Jejak Santri di Negeri Bersalju

Direktur Pascasarjana UIN Saizu dan Pengasuh Pesma An Najah, Prof. Dr. Roqib (tiga dari kiri) saat berada di Rusia dalam kunjungan bertepatan dengan HSN 2026

Oleh: Prof. Dr. Moh. Roqib
Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto dan
Pengasuh Pesma An Najah, Purwokerto

Peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober tahun ini, terasa berbeda bagiku. Bukan di Indonesia, bukan pula di lingkungan pesantren yang akrab dengan lantunan doa dan kitab kuning. Kali ini, Saya merayakannya di negara Federal Rusia, sebuah negeri yang selama ini di Indonesia kerap dikenal sebagai negara ateis.

Perjalanan ini diawali dengan pertemuan yang cukup menarik: berjumpa dengan seorang santri Kiai Asep dari Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya. Santri asal Tuban, Jawa Timur, itu sedang menempuh studi program IT di Irkutsk, Rusia.

Namanya Sirojut Tholibin. Bersama dua kawannya dari Papua, Waipo Wenda dan Sadrakh Jekuwa, Ibin—sapaan yang kugunakan dalam perbincangan kami—menemani kami melihat sekilas Kota Irkutsk.

Kami menyusuri kota, mampir makan di rumah makan milik orang Uzbekistan, lalu melanjutkan perjalanan ke masjid, satu-satunya masjid di kota ini. Ada pemandangan yang cukup menantang sepanjang perjalanan: salju yang tersisa di sana-sini, termasuk di jalanan. Aku bahkan hampir terjatuh karenanya. Rupanya, berjalan di tengah suasana seperti ini membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Di sela perjalanan itu, pikiranku melayang pada sosok Ibin. Betapa jauh jarak yang ditempuh seorang santri untuk menuntut ilmu. Dari Tuban, Jawa Timur, hingga Irkutsk, Rusia. Jarak ribuan kilometer, cuaca yang sangat dingin, lingkungan yang berbeda, dan kehidupan yang tentu tidak sama dengan suasana di tanah air.

Apa yang sebenarnya mendorong seorang santri pergi sejauh itu?

Bagiku, jawabannya tak jauh dari semangat menuntut ilmu yang diwariskan para kiai. Ada dorongan untuk belajar, membuka cakrawala, dan menyerap pengetahuan baru. Semangat itu dibawa dari pesantren di Jawa hingga ke negeri yang jauh, bahkan melintasi perbedaan budaya dan kebiasaan.

Saya sempat berpikir, tentu tidak mudah bagi seorang santri menjalani kehidupan di negeri dengan musim dingin yang ekstrem. Apalagi, menurut cerita Ibin, beribadah tidak semudah ketika berada di Indonesia. Ada tantangan tersendiri untuk menjaga rutinitas ibadah dan mempertahankan tradisi kesantrian di tengah lingkungan yang berbeda.

Namun, nyatanya Ibin merasa kerasan dan nyaman tinggal di Rusia.

Di situlah Saya menemukan sesuatu yang menarik. Menjadi santri ternyata tidak selalu berarti tinggal di lingkungan pesantren, mengenakan sarung setiap hari, atau berada di tengah masyarakat yang akrab dengan tradisi keislaman. Nilai-nilai kesantrian bisa dibawa ke mana saja, termasuk ke negeri yang jauh dan bersalju.

Santri tetap bisa tumbuh, belajar, dan menjaga jati dirinya di tengah perbedaan. Tradisi yang ditanamkan para kiai tidak berhenti di gerbang pesantren. Ia ikut berjalan bersama para santri, menyeberangi batas negara, dan menemani mereka menjalani kehidupan di tempat yang baru.

Perbincangan dengan Ibin akhirnya juga menyinggung anak kami, Muhammad Nailul Muna, yang sedang menempuh studi S-3 di Birmingham University, Inggris. Percakapan itu terasa seperti menghubungkan dua perjalanan anak bangsa yang sama-sama sedang berjuang menimba ilmu di negeri orang.

Ada rasa haru sekaligus bangga membayangkan anak-anak muda yang menempuh perjalanan akademik jauh dari rumah. Mereka berhadapan dengan tantangan bahasa, budaya, cuaca, dan lingkungan sosial yang berbeda. Namun, di balik semua itu, ada kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan menyiapkan diri agar kelak dapat memberikan manfaat yang lebih besar.

Hari Santri tahun ini pun memberiku bahan renungan yang sederhana, tetapi bermakna. Perjuangan santri tidak selesai ketika mereka meninggalkan pesantren. Justru, di mana pun berada, mereka menghadapi tantangan baru untuk menjaga nilai-nilai yang telah dipelajari sekaligus mengembangkan kemampuan diri.

Ilmu yang diperoleh bukan semata-mata untuk kebanggaan pribadi atau gelar akademik. Lebih dari itu, ilmu perlu menjadi bekal untuk mengabdi, menghadirkan manfaat, dan menjawab kebutuhan kehidupan yang semakin luas.

Santri, hari perjuanganmu diperingati. Jaga kualitas diri agar mampu mengabdi di alam semesta ini. Salam dari Irkutsk, Rusia. Di tengah dinginnya salju, semangat belajar dan pengabdian itu semoga tetap hangat menyala.