BANYUMAS, nubanyumas.com – Di bawah terik matahari yang menyengat, aroma cabai rawit yang diulek beradu dengan wangi rempah, seketika menerbitkan selera. Namun, ada yang tak lazim dari deretan sajian di Desa Panusupan siang itu. Di antara puluhan piring hidangan, ‘Pecak Lembing’ sukses mencuri perhatian pengunjung pada hari kedua “Festival Budaya Wong Tani #2”, Selasa (30/6/2026).
Bagi kaum tani, urusan perut di tengah sawah tidak membutuhkan kemewahan. Makanan harus sederhana, bahannya mudah didapat di sekitar lahan, dan cepat mengusir lapar. Inilah filosofi dasar ‘Pecak’, sajian tradisional yang seolah menjadi napas kehidupan para petani.
Pada festival tersebut, semangat ibu-ibu PKK dari setiap RT di Desa Panusupan patut diacungi jempol. Mereka menghadirkan 46 olahan pecak kreasi warga. Pengunjung dimanjakan dengan pecak tahu, tempe, terong, petai cina, hingga ikan air tawar seperti mujair dan melem. Bahkan, bahan eksotis seperti lenca dan oncom turut memperkaya khazanah rasa.
Dari Hama Merusak Menjadi Nutrisi
Sorotan utama justru jatuh pada Pecak Lembing. Bagi petani, serangga lembing adalah musuh bebuyutan yang kerap merusak tanaman padi. Namun, di tangan kreatif ibu-ibu PKK, hama yang menjengkelkan itu disulap menjadi santapan istimewa dengan cita rasa yang tak terduga.
Olahan ini menjadi simbol perlawanan sekaligus harmonisasi antara manusia dan alam, mengubah hama perusak menjadi sumber nutrisi yang gurih.
Baca Juga: Kisah Pilu Petani Desa Panusupan: Dihantam La Nina dan El Nino, Tiga Kali Beruntun Gagal Panen
Rahasia kelezatannya terletak pada kesederhanaan dan ketulusan proses pengolahannya. Salah satu kader PKK Desa Panusupan menuturkan bahwa pecak membawa memori dan nuansa tersendiri.
“Pecak sangat nikmat, kalau kita nikmati di sawah, apalagi kalau dengan nasi hangat. Rasanya pedas, manis, wangi, sungguh nagih,” ujarnya sambil tersenyum, menggambarkan kehangatan suasana menyantap pecak di tengah hamparan padi yang mulai menguning.
Penguatan Jati Diri Masyarakat Desa
Bagi warga Panusupan, acara ini bukan sekadar festival kuliner biasa, melainkan perayaan atas ketangguhan hidup. Di tengah kerasnya kehidupan bertani, selalu ada ruang untuk mensyukuri hidup lewat cara-cara yang otentik.
Ketua Panitia Festival Budaya Wong Tani #2, Noviaji, menegaskan bahwa kehadiran tradisi masakan pecak memiliki visi besar untuk pelestarian budaya dan penguatan jati diri warga desa.
“Ini adalah cara kami menghormati akar budaya, di mana setiap bahan di sekitar kita adalah berkah. Jika diolah dengan tangan yang tepat, akan menjadi hidangan kelas dunia bagi perut-perut yang lapar,” tegas Noviaji.
Kemeriahan Festival Budaya Wong Tani #2 belum berakhir. Berbagai rangkaian acara masih akan terus berjalan hingga 5 Juli mendatang. Sebagai penutup, panitia telah menyiapkan Pagelaran Wayang pada hari terakhir yang siap menghibur masyarakat Desa Panusupan dan sekitarnya.
(Khafid S)















