Beranda Warta

Kisah Pilu Petani Desa Panusupan: Dihantam La Nina dan El Nino, Tiga Kali Beruntun Gagal Panen

Kisah Pilu Petani Desa Panusupan: Dihantam La Nina dan El Nino, Tiga Kali Beruntun Gagal Panen

CILONGOK, nubanyumas.com – Ratusan petani di Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas mengalami gagal panen sebanyak tiga kali berturut-turut sejak tahun 2025 hingga awal tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh hantaman dua fenomena cuaca ekstrem secara bergantian, yakni La Nina dan El Nino.

Hingga saat ini, para petani menyatakan belum menerima intervensi teknis maupun bantuan modal dari pemerintah daerah setempat terkait penanganan kerusakan lahan pertanian tersebut.

Bahrudin, salah seorang petani terdampak, menceritakan bahwa seluruh modal yang ia pinjam untuk musim tanam telah habis tanpa hasil. Menurutnya, situasi kali ini merupakan yang terburuk yang pernah dihadapi para petani setempat.

“Gagal panen sekali saja kami sudah kelimpangan, ini sudah tiga kali berturut-turut. Sawah yang harusnya menghijau malah memerah lalu kering. Kami seperti dihukum mati, bingung besok mau memberi makan anak istri pakai apa,” ungkap Bahrudin, Kamis (28/5/2026).

Bahrudin menambahkan, tidak adanya petugas lapangan membuat petani terpaksa mencari solusi sendiri tanpa panduan teknis. “Kami cuma bisa meraba-raba sendiri, Mas. Tidak ada petugas penyuluh yang datang memeriksa tanah atau memberi tahu harus pakai pupuk apa. Kami merasa dibiarkan berjuang sendirian,” lanjutnya.

Merespons kondisi tersebut, generasi muda dan warga desa sepakat untuk mengambil jalur alternatif melalui pendekatan adat dan spiritual pada bulan Asyura mendatang. Warga berencana menggelar ritual Ruwatan, Sedekah Bumi, serta Pawai Obor massal yang dilanjutkan dengan pembakaran jerami sisa panen yang gagal.

Tokoh pemuda Desa Panusupan, Novi Aji, menilai langkah ini diambil sebagai bentuk respons atas belum adanya penanganan dari pihak terkait.

“Kami melihat para orang tua kami sudah kehabisan cara dan modal. Negara seolah absen di sini. Karena itu, kami pemuda bersama warga sepakat bergerak mengetuk pintu langit lewat Ruwatan dan Pawai Obor di bulan Asyura nanti,” kata Novi Aji.

Novi menegaskan, nyala api obor dan pembakaran jerami massal tersebut ditujukan sebagai simbol tuntutan perhatian dari publik serta pemangku kebijakan di Kabupaten Banyumas.

“Ini adalah tamparan halus. Kami mendesak Pemkab Banyumas dan pihak akademisi untuk segera turun tangan secara ilmiah. Periksa keasaman tanah kami, bantu benih yang cocok dengan cuaca ekstrem. Jangan biarkan petani kami berjalan sendirian,” tegas Novi.

Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Panusupan menyatakan masih menunggu langkah nyata dari Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, seperti pemeriksaan laboratorium tanah, perbaikan sistem irigasi, dan pendampingan penyuluh secara intensif di lapangan.

(H Ahyar)