Jika Anda sempat melintas di sekitaran Ruko Pasar Wage saat hari mulai gelap, suasananya kini sudah mulai berbeda dibandingkan dengan beberapa waktu ke belakang. Di sela-sela deru suara kendaraan yang berlalu-lalang, tercium aroma kopi dari sebuah lapak sederhana bernama Warung Do-Pink.
Di sana, tampak anak-anak muda duduk beralaskan kursi seadanya, berbincang santai tentang banyak hal yang bisa jadi lebih dari sekadar guyonan belaka.
Purwokerto belakangan memang menjadi pusat perhatian nasional. Banyak orang menyebut kota di kaki Gunung Slamet ini sebagai tempat yang ideal untuk menjalani ritme hidup yang santai, atau bahasa kerennya slow living.
Namun, di balik ketenangannya tersebut, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian kita, yakni bagaimana semangat generasi mudanya tumbuh pesat menggerakkan roda perekonomian kota. Mereka yang kerap disepelekan itu nyatanya justru menjadi yang paling gigih dalam mewujudkan ide kreatifnya.
Fenomena tren street coffee atau kopi pinggir jalan ini menjadi salah satu bukti bahwa sebuah bisnis tidak harus selalu memiliki modal besar. Warung Do-Pink adalah satu dari sekian banyak contoh nyata. Dengan memanfaatkan lokasi di ruko pasar, mereka membuktikan bahwa sudut kota yang lama pun bisa diubah menjadi ruang interaksi yang menarik sekaligus menghasilkan cuan.
Refando Adhitya, salah seorang penikmat kopi yang aktif mengamati perkembangan kota, mengaku kagum dengan kondisi ini. Saat ini, ke mana pun mata memandang, dari pusat kota hingga ke wilayah pinggiran, pilihan street coffee semakin beragam.
Menurutnya, ini adalah pesan bagi kita semua agar tidak takut memulai usaha sesuai dengan minat yang dimiliki. “Mereka membuktikan bahwa berkumpul bersama teman tidak hanya membuang waktu, tetapi bisa menjadi peluang keuntungan jika dikelola dengan serius,” katanya.
Dahulu, pusat bisnis di Purwokerto tampak jelas hanya terpusat di jalan-jalan besar saja. Namun sekarang, kondisi tersebut sepertinya kian bergeser. Gang-gang kecil yang dulu sepi, hingga trotoar jalan yang tak terurus oleh Pemda, kini perlahan berubah menjadi tempat yang estetik sekaligus lahan yang produktif.
Irfan Bahtiar, pengelola Hetero Space Purwokerto sekaligus anggota HIPMI, melihat hal ini sebagai fenomena yang positif. Menurutnya, anak muda Purwokerto memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyesuaikan diri dengan keterbatasan.
”Walaupun terlihat santai, sebenarnya mereka sedang perlahan membangun jaringan bisnis yang kuat,” katanya.
Irfan menekankan bahwa anak muda kita itu sulit ditebak; terlihat hanya sekadar berkumpul, padahal sebenarnya sedang membangun ekosistem bisnis. Ini adalah cara mereka berkarya dengan gaya mereka sendiri. Baginya, bisnis kuliner di Purwokerto saat ini lebih mengutamakan kejujuran rasa dan kedekatan dengan pelanggan dibandingkan sekadar menonjolkan kemewahan fisik belaka.
Biaya hidup yang terjangkau serta aksesibilitas yang mudah membuat Purwokerto bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan baru di Jawa Tengah. Kehadiran wadah kreativitas seperti Hetero Space turut membantu merek-merek lokal untuk semakin berkembang.
Lapak kopi pinggir jalan di Purwokerto menjadi simbol bahwa ekonomi kreatif bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari emperan toko. Di tangan para cah enom ini, Purwokerto bukan lagi sekadar kota persinggahan.
Segelas kopi di pinggir jalan bisa jadi awal dari cerita tentang perubahan; mungkin tak langsung besar, tapi pelan dan pasti. Seperti kata penyair Joko Pinurbo, “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”
Jadi, kapan kita ngopi bersama?












