Beranda Warta

Ini Makna Li-Qo-Na-Ba-Ya-Ri-To yang Diajarkan Rais Syuriyah MWC NU Kedungbanteng

Ini Makna Li-Qo-Na-Ba-Ya-Ri-To yang Diajarkan Rais Syuriyah MWC NU Kedungbanteng
Ini Makna Li-Qo-Na-Ba-Ya-Ri-To yang Diajarkan Rais Syuriyah MWC NU Kedungbanteng

KEDUNGBANTENG, nubanyumas.com — Apa itu Li-Qo-Na-Ba-Ya-Ri-To? Ketujuh suku kata ini menjadi pesan yang disampaikan KH Tafsir Wahyudin, Rais Syuriyah MWC NU Kedungbanteng, kepada para kader muda NU di kediamannya, Sabtu (28/3/2026).

Saat itu, pimpinan PAC GP Ansor, PAC Fatayat NU, serta PAC IPNU dan IPPNU Kedungbanteng tengah menggelar rangkaian silaturahmi ke kediaman para kiai dan tokoh MWC NU, mulai dari Mustasyar, Syuriyah, hingga Tanfidziyah. Kediaman KH Tafsir Wahyudin menjadi rure terakhir sekaligus puncak dari rangkaian hari itu.

Di situlah Rais Syuriyah MWC NU Kedungbanteng itu menyampaikan Li-Qo-Na-Ba-Ya-Ri-To, bukan sekadar akronim melainkan panduan bagi kader NU dalam menjaga anggota tubuh dan perilaku sehari-hari.

“Kader NU itu harus bisa menjaga tujuh hal. Lisannya dijaga, hatinya dijaga, matanya dijaga, perutnya dijaga, tangannya dijaga, kakinya dijaga. Kalau semuanya sudah terjaga, maka yang muncul adalah ketaatan kepada Allah,” kata Kiai Tafsir.

Li adalah lisan, jaga ucapan agar tidak menyakiti dan tidak sia-sia. Qo adalah qolbun, jaga hati agar tetap bersih dan ikhlas. Na adalah nadrun, jaga pandangan mata dari hal yang tidak baik. Ba adalah batnun, jaga perut agar hanya diisi makanan halal. Ya adalah yadun, jaga tangan agar digunakan untuk menolong. Ri adalah rijlun, jaga kaki agar melangkah ke tempat yang diridhai Allah. Dan To adalah toat, muara dari semuanya, ketaatan kepada Allah SWT.

Kiai Tafsir menegaskan bahwa ajaran ini bukan hal baru karena Imam Al-Ghazali sudah menuliskannya secara lengkap dalam kitab Bidayatul Hidayah, khususnya bab tentang adab menjaga anggota tubuh sebagai syarat meraih ketakwaan.

“Ini bukan ajaran baru. Imam Al-Ghazali sudah menuliskannya dalam Bidayatul Hidayah. Kita tinggal mengamalkan,” ujarnya.

Ketua PAC GP Ansor Kedungbanteng, Happy, menegaskan bahwa silaturahmi seperti ini punya makna yang lebih dalam dari sekadar kunjungan biasa karena menjadi cara kader muda menyambung tali kasih sayang dengan para kiai.

“Silaturahmi itu menyambung tali kasih sayang. Ini cara kita sebagai kader muda memohon doa restu kepada para kiai agar langkah organisasi tetap benar,” kata Happy.

Menurutnya, kedekatan antarbanom dan pengurus MWC NU menjadi kunci agar gerakan NU di Kedungbanteng tetap solid dan satu komando.

“Dengan sering ketemu dan silaturahmi, hambatan komunikasi bisa teratasi. Gerakannya jadi satu komando,” ujarnya.

Editor: H Ahyar