Beranda Keislaman

Panduan Meraih Malam Lailatul Qadar

Keutamaan Sholat Tarawih Malam ke 7

Sudah sangat masyhur sekali bahwasanya malam Lailatul Qadar itu bertepatan dengan 10 hari terakhir Ramadhan. Pada malam ini, segala ibadah setara dengan 1.000 bulan ibadah (sekitar 83 tahun 4 bulan).

​Malam ini penuh keberkahan, ampunan, dan turunnya malaikat, menjadikannya waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah seperti salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an.

​Jadi, apa saja keutamaan dan kiat “mencari” Lailatul Qadar ini?

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

​Selain mendapatkan pahala ibadah selama 1.000 bulan, pada malam ini terdapat pengampunan dosa-dosa yang sudah berlalu.

​Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

​مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

​”Barangsiapa yang mendirikan salat (beribadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

​Pada kata “iimanan“, maksudnya adalah membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ dari Allah Swt. mengenai kewajiban puasa bagi setiap mukalaf (orang yang terbebani syariat).

​Dan “ihtisaban” (mengharap pahala) maksudnya adalah menganggap segala kesulitan (masyaqqah) yang menimpanya saat menahan diri dari kelezatan nafsu dan syahwat—seperti makan, minum, dan hubungan intim—sebagai tabungan pahala di sisi Allah. (Madarikul Maram, hal 130-131)

Kapan Terjadinya Lailatul Qadar Ini?

​Para ulama berbeda pendapat tentang kapan malam Lailatul Qadar ini terjadi. Berikut adalah pendapat-pendapatnya:

  1. ​Ada yang berpendapat: (Lailatul Qadar) jatuh pada malam ke-21.
  2. ​Ada yang berpendapat: Pada malam ke-23. Bahkan, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah bersumpah tanpa ragu (tanpa pengecualian) bahwa malam itu adalah malam ke-23.
  3. ​Ada yang berpendapat: (Lailatul Qadar jatuh pada) malam ke-24.
  4. ​Ada pula yang berpendapat: Malam ke-25.

Kemuliaan dan Banyak Riwayat tentang Malam Ke-27

​Ubay bin Ka’ab berargumen dengan dua alasan:

  • Pertama: Firman Allah Ta’ala: “Hiya/هي” (Dia/Malam itu) dalam surat Al-Qadr. Sesungguhnya kata tersebut adalah kata ke-27 dalam urutan kata-kata di surat tersebut.
  • Kedua: Bahwa dalam surat tersebut, lafal “Al-Qadr” diulang sebanyak tiga kali. Sedangkan lafal “Lailatul Qadr” (ليلة القدر) terdiri dari 9 huruf. Maka 9 huruf dikali 3 (pengulangan) hasilnya adalah 27. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

​Bahkan, Sayyidina Umar bin Khattab takjub dan sepakat bahwa Lailatul Qadar itu jatuh di malam ke-27. Hal ini dikarenakan pendapat Ibnu Abbas:

​(Ibnu Abbas) menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla itu Witir (Ganjil/Esa) dan Dia mencintai yang ganjil.”

​”Maka Allah menjadikan hari-hari di dunia berputar pada angka tujuh (seminggu), menciptakan manusia dari tujuh fase (tanah, nutfah, dst.), menciptakan di atas kita tujuh lapis langit, dan di bawah kita tujuh lapis bumi.”

​”Allah memberi kita Sab’ul Matsani (tujuh ayat Al-Fatihah), dan dalam Kitab-Nya yang mulia Ia melarang menikahi kerabat dekat sebanyak tujuh golongan (ibu, anak perempuan, dst.).”

​”Sujud kita dilakukan di atas tujuh anggota badan. Rasulullah ﷺ pun tawaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali, sa’i antara Shafa dan Marwah tujuh kali, serta melempar jumrah dengan tujuh kerikil.”

​”Maka aku berpendapat bahwa Lailatul Qadar berada pada malam ketujuh yang terakhir (malam ke-27) dari bulan Ramadhan.”

​Maka Sayyidina Umar pun merasa takjub dan berkata: “Tidak ada seorang pun yang pendapatnya sejalan denganku (berdasarkan apa yang kudengar) dari Rasulullah ﷺ selain anak muda ini.” (Madarikul Maram, hal 134-136)

​Bahkan, ada perkataan dari salah satu guru kami, Syekh Mahmud Abdul Hamid Ali Yasin Al-Azhary:

​”Kami di Al-Azhar pun sangat memuliakan malam 27 Ramadhan. Dikarenakan banyaknya pendapat ulama yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar bertepatan dengan 27 Ramadhan.”

​Akan tetapi, alangkah baiknya untuk menjalankan ibadah-ibadah tersebut di sepanjang 10 malam terakhir Ramadhan. Syekh Ibnu Qasthalani berkata:

​وَيَتَطَلَّبُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْآخِيرِ وَلَا سِيمَا فِي لَيَالِي الْوِتْرِ مِنْهُ

​”Dan hendaknya seseorang mencari (berupaya sungguh-sungguh menemukan) Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir (bulan Ramadhan), dan lebih ditekankan lagi (utamanya) pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir tersebut.”

Amalan yang Dikerjakan pada 10 Malam Terakhir Ramadhan

​Syekh Mahmud Abdul Hamid Ali Yasin Al-Azhary berpesan pada kami untuk memperbanyak ibadah di malam-malam tersebut. Beliau bahkan bercerita tentang pengalamannya ketika kuliah di Universitas Al-Azhar saat masih sanah 4 (semester 7-8).

​Syekh Mahmud berkata: “Ketika itu saya dan empat teman saya sedang beriktikaf di masjid yang bertepatan dengan 10 malam terakhir Ramadhan. Kami semua berandai-andai, akan menjadi apa kelak?”

​Di antara kami ada yang ingin:

  1. ​Menjadi orang yang kaya
  2. ​Menjadi dokter
  3. ​Nilainya bagus (jayyid)
  4. ​Mengabdi dan mengajar di Al-Azhar

​Alangkah menakjubkannya bahwa semua perandaian mereka (yang bertepatan dengan 10 malam terakhir Ramadhan) terkabulkan semua.

​Allahu a’lam bish-shawab.