Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja*
Ramadhan selalu datang dengan kemeriahan yang khas. Masjid penuh. Ayat-ayat suci dilantunkan dari mimbar dan layar gawai. Tradisi disiapkan jauh hari: janur dianyam, kupat digantung, opor mulai dimasak. Kita menyebutnya ibadah dan budaya. Dan memang keduanya menyatu indah dalam kehidupan umat Islam di Indonesia.
Namun setiap tahun pula, pertanyaan yang sama diam-diam mengetuk: apakah Ramadhan sungguh mengubah kita, atau hanya menggerakkan rutinitas kita? Di negeri yang religius ini, agama tidak pernah sepi. Tetapi sering kali ia lebih ramai di simbol daripada di substansi.
Secara ritual, Ramadhan adalah bulan paling hidup. Tarawih memadati masjid. Sedekah meningkat. Media sosial penuh nasihat. Tetapi realitas sosial tidak selalu seromantis suasana ibadah. Harga kebutuhan pokok naik. Lapangan kerja sempit. Kebijakan publik tak jarang terasa jauh dari denyut nadi rakyat.
Ada paradoks yang menggelitik: di bulan pengendalian diri, sebagian orang justru sulit mengendalikan ambisi. Di bulan empati, masih ada keputusan yang minim empati. Ritual berjalan khusyuk. Tetapi realitas sosial tak otomatis berubah teduh. Ramadhan seakan menjadi panggung simbol yang megah, sementara transformasi batin dan sosial berjalan tertatih.
Makna Puasa: Menguatkan Keadilan
Tujuan puasa ditegaskan dalam Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 183: la‘allakum tattaqūn — agar kamu bertakwa. Takwa bukan hanya takut melanggar aturan ibadah. Ia adalah kesadaran etis. Ia menyentuh cara kita memperlakukan orang lain.
Jika lapar yang kita rasakan sebulan penuh tidak membuat kita peka pada yang lapar sepanjang tahun, maka puasa berhenti di perut. Jika haus yang kita tahan tidak melahirkan keberanian memperjuangkan keadilan, maka puasa belum menyentuh nurani. Puasa mestinya menguatkan keadilan. Menguatkan amanah. Menguatkan tanggung jawab sosial. Sebab takwa bukan sekadar urusan sajadah. Ia adalah keberanian menghadirkan ketenteraman bagi yang dipimpin dan dilayani.
Simbolisasi Kupat
Kupat bukan sekadar kuliner Lebaran. Ia adalah teks budaya—tafsir sosial atas puasa. Kupat dimaknai sebagai laku papat: Labur – membersihkan diri, bukan hanya rumah yang dicat ulang, tetapi karakter yang diperbarui. Lebur – melebur kesombongan dan ego, termasuk ego kekuasaan. Luber – kebaikan yang melimpah, empati tanpa pilih kasih. Lebar – membuka hati selebar-lebarnya untuk maaf dan koreksi. Jika laku papat dijalankan, Lebaran menjadi momentum perubahan. Jika tidak, ia hanya seremoni tahunan.
Kupat juga dimaknai sebagai “ngaku lepat” — mengakui kesalahan. Lebaran sejatinya bukan sekadar saling memaafkan, tetapi keberanian berkata dalam hati: aku salah. Bukan selalu salah orang lain. Bukan semata salah sistem. Bayangkan jika semangat ini hadir di ruang publik. Jika pemimpin berani mengakui kekeliruan kebijakan. Jika institusi berani mengoreksi diri. Kupat adalah pelajaran kerendahan hati yang paling sederhana—tetapi paling sulit dijalani.
Kupat selalu berdampingan dengan opor bersantan. Dalam tafsir lisan Jawa, opor dihubungkan dengan kata apura — maaf, pangapunten. Santan yang putih dan lembut melambangkan hati yang dilunakkan oleh puasa. Namun pangapunten bukan formalitas tahunan. Ia bukan sekadar pesan serentak di grup WhatsApp. Maaf yang sejati adalah keberanian memperbaiki. Menghentikan kebijakan yang menyakiti. Mengubah keputusan yang memberatkan. Tanpa itu, opor hanya kuah gurih tanpa makna sosial.
Kupat dibungkus janur kuning. Ia lentur, saling menyilang, membentuk anyaman yang kokoh. Janur melambangkan nur—cahaya kejernihan. Sistem sosial pun seharusnya seperti anyaman janur: saling menguatkan oleh nilai kejujuran dan amanah. Jika satu simpul longgar, bentuknya rusak. Di dalamnya ada nasi putih. Sederhana. Bersih. Ia simbol hati yang telah digosok oleh lapar dan dibasuh oleh doa. Namun jika setelah Ramadhan hati tetap keruh oleh dengki dan keserakahan, mungkin yang putih hanya nasinya—bukan batinnya.
Filosofi Wadah Makanan: Rantang, Runtung & Renteng
Dulu, makanan Lebaran diantar menggunakan rantang. Wadah bertingkat yang dibawa dari rumah ke rumah. Ia bukan hanya alat. Ia simbol berbagi yang sunyi. Memberi tanpa kamera. Mengantar tanpa publikasi. Dari tradisi itu lahir ungkapan: Runtung-runtung rerentengan. Renteng-renteng rerantangan. Runtung berarti untung,selamat dan berkah.Reruntungan artinya guyub rukun, aplikasi sholat jamaah dalam aksi sosial. Renteng berarti bergandengan. Rerentengan berarti saling terhubung, bergandengan, silaturahmi. Kebaikan harus tersambung, berantai, mengalir dari satu tangan ke tangan lain.
Rantang, wadah makanan yang bersusun naik,tertutup, higienis. Rerantangan berarti saling berbagi, mengantar dan menopang cinta, saling memberi hadiah. Inilah gambaran masyarakat ideal yang diimpikan saat dan pasca Ramadhan: tidak tercerai oleh hoaks, tidak terpecah oleh politik identitas, tidak saling curiga karena perbedaan.
Tetapi hari ini kita sering lebih mudah tersulut daripada tersambung. Lebih cepat menyebar kabar panas daripada mengantar rantang hangat. Puasa seharusnya membuat kita runtung-runtung—hidup dalam keberkahan yang saling terhubung. Puasa meningkatkan kepedulian dan berbagi, saling menjaga jangan sampai ada saudara yang kelaparan. Aplikasi sosial dari konsep zakat harus berkesinambungan.
Ayat Sosial Wajib Dibaca Ulang
Dalam QS. Al-Ma’un, Al-Qur’an menegur orang yang rajin ibadah tetapi lalai pada anak yatim dan orang miskin. Surat pendek itu seperti sindiran abadi bagi religiusitas yang egois. Jangan-jangan kita khusyuk tarawih, tetapi abai pada penderitaan sosial. Jangan-jangan kita lantang bertakbir, tetapi pelan dalam membela keadilan.
Ayat-ayat sosial ini wajib dibaca ulang—bukan hanya dilantunkan, tetapi diterjemahkan dalam kebijakan, perilaku, dan keberanian moral. Kupat, opor, janur, rantang—semuanya bukan sekadar tradisi Lebaran. Ia adalah tafsir sosial atas puasa. Kritik budaya yang lembut namun tajam. Takwa bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan. Ia harus menjelma menjadi keadilan horizontal di tengah masyarakat. Jika puasa berhasil, negeri ikut teduh. Jika puasa hanya seremoni, kupat tinggal anyaman kosong.
Di tengah gema takbir, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: Sudahkah kita menjadi masyarakat yang runtung-runtung rerentengan, renteng-renteng rerantangan? Atau kita hanya semakin kenyang oleh simbol—sementara makna kembali tertunda? Wallahu ‘alam bi sawab
*Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Guru SMP 2 Ajibarang, tekun menulis esai budaya dan sains.












