PURWOKERTO, nubanyumas.com — Menyambut hari jadi ke-76, Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Banyumas tengah menyiapkan perhelatan besar bertajuk Fatayat Fest 2026. Acara kolaboratif ini rencananya akan digelar selama dua hari, yakni 24–25 April 2026, di kawasan ikonik Menara Pandang Teratai, Purwokerto.
Ketua Fatayat NU Banyumas, Tati Irawati, menyampaikan bahwa festival ini dirancang sebagai ajang kolaboratif yang memadukan unsur hiburan modern, pelestarian seni budaya, dan nilai-nilai keagamaan. Konsep ini sengaja dipilih untuk memberikan ruang ekspresi bagi kader perempuan di ruang publik.
“Fatayat Fest 2026 hadir sebagai ruang ekspresi kader perempuan Nahdlatul Ulama sekaligus upaya mendekatkan organisasi dengan masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ungkap Tati saat melakukan audiensi di hadapan Bupati Banyumas, Senin (6/4/2026).
Tati menambahkan, momen Harlah ke-76 ini menjadi ajang aktualisasi diri bagi perempuan NU dalam berbagai bidang. Oleh karena itu, rundown acara disusun sangat beragam, mulai dari Fatayat Fun Walk, olahraga poundfit, bazar UMKM, hingga kegiatan religi seperti Semakan Al-Qur’an dan Pengajian.
Daya tarik utama festival ini juga terletak pada sisi pertunjukan. Selain musik hadroh dan kenthongan, pengunjung akan disuguhkan penampilan musik dari bintang tamu nasional, Ghea Indrawari, serta pagelaran Sendratari oleh Jagabaya Nuswantara.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyambut hangat inisiatif ini. Ia menilai penyelenggaraan festival di pusat keramaian kota seperti Menara Pandang adalah langkah strategis untuk memperkuat soliditas kader sekaligus berkontribusi pada kemeriahan daerah.
“Kami mengapresiasi rencana ini. Semoga festival berjalan lancar dan mampu menyatukan seluruh kader Fatayat untuk terus berkolaborasi membangun Banyumas,” ujar Sadewo.
Masyarakat dapat menyaksikan rangkaian acara ini dengan mendapatkan tiket yang telah disediakan melalui platform digital Ziggs. Melalui Fatayat Fest 2026, PC Fatayat NU Banyumas berharap dapat menunjukkan wajah organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi Nahdliyin.












