Oleh: Kifayatul Ahyar
Perkara hilal di Republik ini memang sungguh ajaib. Ia bukan sekadar urusan astronomi atau perdebatan fikih yang pelik di ruang-ruang gelap pesantren, tapi sudah menjelma jadi semacam ritual tahunan yang memicu keriuhan massal. Ramadhan 2026 ini pun setali tiga uang. Kita kembali disuguhi diskusi klasik yang seolah enggan usang: ‘Kapan tepatnya kita mulai menahan lapar-dahaga, dan kapan saatnya menyantap ketupat?’
Bagi mereka yang memandang agama dengan kacamata hitam-putih, perbedaan ini mungkin dianggap sebagai kebingungan yang sengaja dipelihara. Tapi, mari kita tarik napas sejenak. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kerukunan dalam berbagai aspek kehidupan, perbedaan ijtihad soal awal Ramadhan seharusnya tidak perlu dijadikan drama yang menguras energi bangsa.
Kita semua mafhum bahwa perbedaan metode -entah itu hisab yang presisi atau rukyatul hilal yang puitis – bukanlah alasan sahih untuk merobek ukhuwah yang sudah dijahit rapi selama berabad-abad lamanya di surau-surau dan pesantren-pesantren.
Kita baru saja tuntas melintasi marathon spiritual selama sebulan penuh. Kita semua barangkali sempat terjaga di malam-malam ganjil, merapalkan doa dengan harapan bisa mengetuk pintu Lailatul Qadar. Esensi dari semua latihan ruhani itu tak lain tak bukan adalah untuk pengendalian diri. Maka, menjadi sangat ironis -bahkan cenderung konyol – jika setelah sebulan penuh kita sukses menahan lapar dan amarah, kita justru terjebak dalam debat kusir yang berbusa-busa di grup WhatsApp hanya karena urusan beda hari lebaran.
Mari kita jujur pada diri sendiri: ibadah sholat Idul Fitri adalah simbol kemenangan. Tapi menang melawan siapa? Musuh terbesarnya bukanlah setan yang kabarnya dibelenggu itu, melainkan ego kita sendiri. Ego yang merasa paling benar, paling sunnah, atau paling otoritatif. Jika saudara kita ada yang berlebaran lebih awal, ya silakan, kita hormati dengan lapang dada. Jika kita memilih untuk menggenapkan atau istikmal sesuai tuntunan, mari jalani dengan khidmat tanpa perlu merasa lebih suci.
Dunia yang kita tinggali adalah rumah bagi keragaman yang otentik. Kita sudah terbiasa hidup berdampingan tanpa perlu saling sikut. Sudah saatnya kita menjaga lisan – dan yang lebih penting di zaman sekarang, menjaga jempol – dari narasi yang memicu perpecahan. Kita memang punya pegangan yang jelas, dan mari kita ikuti dengan keyakinan penuh tanpa harus memandang sinis pihak lain.
Lebaran itu sejatinya adalah soal menyambung yang putus, bukan memutus yang sudah nyambung. Jangan sampai perbedaan hari menghalangi kita untuk saling mengunjungi, berjabat tangan, dan saling memaafkan.
Apapun metodenya, muaranya tetap satu: mencari ridha Allah SWT. Mari jadikan Lebaran 2026 ini sebagai bukti sahih bahwa kita adalah masyarakat yang literat, dewasa, dan punya stok kasih sayang yang melimpah. Selamat menyongsong hari kemenangan. Semoga amal ibadah kita di bulan ramadhan diterima, dan kita semua kembali kepada fitrah yang suci.
Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.












