Oleh: Riswo Mulyadi
(Guru Madrasah yang gemar membaca dan menulis)
Masyarakat desa di Jawa memiliki kekayaan ungkapan tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium pewarisan nilai-nilai kehidupan. Salah satu ungkapan yang hidup dalam masyarakat Banyumas adalah “Ora Ongkek, Ora Nyekek.” Dalam bahasa Indonesia, ungkapan ini berarti “tidak bekerja, tidak makan.”
Pada pandangan pertama, ungkapan tersebut tampak sederhana dan pragmatis. Namun jika ditelaah lebih dalam, ia menyimpan pandangan hidup masyarakat desa Jawa tentang hubungan antara manusia, kerja, dan martabat. Dalam masyarakat agraris, kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari keberadaan manusia itu sendiri.
Ungkapan ini lahir dari pengalaman kolektif masyarakat pedesaan yang hidup dalam keterbatasan alam dan ekonomi. Sawah, ladang, ternak, dan hutan membentuk kesadaran bahwa kehidupan hanya dapat dipertahankan melalui gerak dan usaha. Karena itu, kerja dipandang sebagai laku moral sekaligus bentuk penghormatan terhadap kehidupan.
Kerja sebagai Laku Kehidupan
Dalam tradisi masyarakat desa Jawa, khususnya di wilayah Banyumas, bekerja tidak semata-mata dimaknai sebagai cara memperoleh penghasilan. Kerja dipahami sebagai bagian dari laku urip atau jalan menjalani kehidupan.
Petani yang berangkat ke sawah sebelum matahari terbit tidak hanya sedang mencari nafkah, tetapi juga sedang menjaga ritme hidup yang diwariskan turun-temurun. Aktivitas mencangkul, menanam, atau membersihkan pematang sawah memiliki dimensi spiritual dan sosial. Tubuh manusia dipandang harus terus bergerak agar kehidupan tetap seimbang.
Karena itu, kemalasan dalam budaya desa sering dianggap bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan moral. Orang yang terlalu lama berpangku tangan dianggap kehilangan semangat hidup. Dalam konteks ini, ungkapan “Ora Ongkek, Ora Nyekek” berfungsi sebagai pengingat bahwa kehidupan memerlukan kesediaan untuk bergerak dan berusaha.
Pandangan tersebut berbeda dengan sebagian kecenderungan masyarakat modern yang mulai memisahkan kerja dari makna keberadaan manusia. Di era digital, kerja sering direduksi menjadi sekadar alat memperoleh keuntungan material. Akibatnya, manusia mudah terjebak pada orientasi hasil tanpa menghargai proses.
Martabat dan Kemandirian Orang Desa
Salah satu nilai penting yang terkandung dalam falsafah “Ora Ongkek, Ora Nyekek” adalah penghormatan terhadap martabat manusia. Dalam masyarakat desa Jawa, bekerja berkaitan erat dengan harga diri.
Meskipun hidup dalam keterbatasan, masyarakat desa tradisional memiliki kebanggaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dari hasil usaha sendiri. Seorang petani yang makan singkong hasil kebunnya sendiri sering kali merasa lebih terhormat dibanding hidup bergantung sepenuhnya pada belas kasihan orang lain.
Nilai kemandirian ini membentuk karakter sosial masyarakat desa yang ulet dan tahan menghadapi kesulitan hidup. Mereka terbiasa menghadapi musim paceklik, gagal panen, atau harga hasil bumi yang tidak menentu. Namun dalam kondisi demikian, kerja tetap dipandang sebagai cara mempertahankan kehormatan diri.
Di sinilah falsafah lokal bekerja sebagai sistem etika sosial. Ungkapan sederhana menjadi alat pendidikan budaya yang diwariskan antar-generasi tanpa harus melalui institusi formal.
Relevansi dalam Kehidupan Modern
Modernisasi membawa perubahan besar terhadap pola hidup masyarakat desa. Teknologi, media sosial, dan budaya konsumtif mulai menggeser nilai-nilai tradisional yang sebelumnya hidup kuat dalam masyarakat agraris.
Generasi muda desa kini hidup dalam dunia yang menawarkan kecepatan dan kemudahan. Keberhasilan sering diukur dari popularitas dan pencapaian material instan. Dalam situasi seperti ini, falsafah “Ora Ongkek, Ora Nyekek” menjadi relevan sebagai kritik budaya.
Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan tidak dapat dibangun hanya dengan harapan tanpa usaha. Ia menegaskan pentingnya kerja keras, kesabaran, dan keberanian menghadapi proses.
Namun demikian, pemaknaan modern terhadap ungkapan ini perlu dilakukan secara lebih manusiawi. Falsafah tersebut tidak boleh dipahami sebagai legitimasi untuk merendahkan orang miskin atau mereka yang kehilangan pekerjaan akibat situasi sosial-ekonomi tertentu. Sebaliknya, nilai utama yang perlu dipertahankan adalah semangat untuk terus bergerak dan memperjuangkan kehidupan dengan bermartabat.
Ungkapan “Ora Ongkek, Ora Nyekek” merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat desa Jawa yang mengandung nilai humaniora mendalam. Ia tidak hanya berbicara tentang kerja dalam arti ekonomi, tetapi juga tentang manusia, martabat, dan makna hidup.
Di tengah modernisasi yang sering melahirkan budaya instan dan individualistik, falsafah ini menghadirkan pengingat bahwa kehidupan memerlukan proses, usaha, dan keteguhan hati. Masyarakat desa Jawa melalui ungkapan-ungkapan sederhana sesungguhnya telah membangun sistem pengetahuan budaya yang kaya dan relevan untuk dibaca kembali dalam konteks kehidupan modern.
Karena itu, kearifan lokal semacam ini layak ditempatkan sebagai bagian penting dari kajian humaniora Indonesia, bukan sekadar warisan folklor, melainkan sebagai sumber nilai dan refleksi sosial yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Karang Anjog, Mei 2026












