Beranda Keislaman

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Menjaga “Nyala” Ramadhan di Bulan Syawal

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Menjaga 'Nyala' Ramadhan di Bulan Syawal
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Menjaga 'Nyala' Ramadhan di Bulan Syawal

Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar momen perayaan kemenangan dengan mengenakan pakaian baru, melainkan titik awal untuk menguji istiqamah ibadah kita. Menyambut momen suci tahun ini, redaksi menyajikan naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H dengan tema yang sangat mendalam, yakni menjaga “nyala” semangat beribadah di bulan Syawal. Teks khutbah singkat dan padat ini mengingatkan kita bahwa kesucian hati yang telah ditempa selama sebulan penuh harus terus dirawat agar amal ibadah kita tidak berujung sia-sia.

Ditulis oleh Muhammad Shodiq Ma’mun, S.Sos, naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H khas NU ini disajikan dengan bahasa yang menyentuh hati dan sangat mudah dipahami oleh jamaah sholat Id. Mengutip dawuh ulama salaf, materi ini sangat berbobot dan durasinya pas untuk dibawakan di masjid maupun lapangan. Silakan jadikan referensi, simpan, dan bagikan teks khutbah ini sebagai pengingat bersama bahwa ujian sesungguhnya bagi seorang mukmin justru dimulai setelah bulan suci Ramadhan berlalu.

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Menjaga “Nyala” Ramadhan di Bulan Syawal

Oleh: Muhammad Shodiq Ma’mun, S.Sos

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ × ٩ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ بِالْإِفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ، وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِيْنَ جَزِيْلَ الْأُجُوْرِ، وَكَمَّلَ الضِّيَافَةَ لِعُمُوْمِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِسَعْيِهِمُ الْمَشْكُوْرِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْعَفُوُّ الْغَفُوْرُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الرَّحِيْمُ الْمَشْهُوْرُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ مُبَارَكٌ سَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامُ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامُ.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Ma’asyiral Hadirin, Jamaah Sholat Idul Fitri Rahimakumullah ..

Di pagi yang diselimuti kebahagiaan ini, marilah kita senantiasa tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan istiqomah menjalankan perintah-Nya sekaligus menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Sholat Id yang Dirahmati Allah ..

Sebulan penuh kita telah menjalani ibadah Ramadhan. Siang harinya kita berpuasa, malam harinya kita mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui sholat tarawih dan qiyamullail. Kini, di pagi yang fitri ini, kita memperbaiki hubungan dengan sesama melalui saling berlebaran. Sungguh layak kita sebut, habluminallah telah bersih di Ramadhan, dan habluminannas pun terjaga lewat saling memaafkan.

Dalam syariat Islam, Allah SWT tidak pernah memberikan ampunan secara cuma-cuma. Tidak ada air berkah yang bisa membersihkan kotoran kemaksiatan, tidak ada anggur yang menghapus dosa, dan tidak ada dupa yang menyucikan jiwa.

Membersihkan diri harus melalui ikhtiar kita sendiri. Karena agama tidak memberikannya gratis, melainkan menyediakan sebuah fasilitas. Maka, seharusnya kita lebih perhatian menjaga amal setelah Ramadhan—meskipun tak sedikit pula yang hanya rajin saat bulan suci itu tiba.

Oleh karenanya, di bulan Syawal inilah ujian sesungguhnya. Di sinilah pembuktiannya: Apakah puasa kita di bulan Ramadhan kemarin betul-betul mempunyai efek la’allakum tattaqun, ataukah biasa saja?

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Jamaah Sholat Id yang Dirahmati Allah ..

Orang yang telah bersuci di bulan Ramadhan itu ibarat orang yang sudah mandi bersih, kemudian berpakaian putih yang disetrika rapi dan beraroma parfum wangi, lalu keluar rumah. Pertanyaannya: Tidakkah orang yang sudah mandi bersih dan berpakaian suci itu akan menghindari kotoran jalanan, bukannya justru menaburkannya ke bajunya? Ia pasti menjauhi jalan becek dan tempat kotor!

Berbahagialah bagi orang yang mengindahkan Ramadhan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah, kemudian berlebaran dengan peningkatan ibadahnya serta hati yang jernih dan lapang!

Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengingatkan kita dengan dawuhnya:

جَعَلَ اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي الدُّنْيَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: عِيدَ الْجُمُعَةِ وَالْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، وَكُلُّهَا بَعْدَ إِكْمَالِ الْعِبَادَةِ وَطَاعَتِهِمْ. وَلَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ بَلْ هُوَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيدُ، وَلَا لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبْسِ وَالرَّكْبِ بَلْ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوبُ.

“Allah menjadikan tiga hari raya untuk orang beriman, yaitu hari raya Jumat, hari raya Fitri, dan Idul Adha. Ketiganya datang setelah terpenuhinya ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Hari raya bukan untuk yang memakai pakaian baru, melainkan bagi yang ketaatannya bertambah. Bukan pula untuk yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, melainkan bagi yang dosanya diampuni.”

Tidak ada larangan, bahkan dianjurkan memakai pakaian baru menyambut hari raya Idul Fitri sebagai simbol bersihnya hati dan syiar Islam. Namun, semua itu terasa sia-sia jika dalam melaksanakan ibadah Ramadhan kemarin hanya setengah hati.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Jamaah Sholat Id yang Dirahmati Allah ..

Marilah hari raya Idul Fitri ini kita jadikan momentum untuk saling melepaskan beban hati dan membuka pintu maaf dengan sesama, agar ibadah yang kita lakukan berpotensi diterima oleh Allah SWT.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kepada kita:

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا: رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

“Ada tiga kelompok yang sholatnya tidak terangkat sejengkal pun di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah): Pertama, imam yang memimpin sholat, tapi jamaahnya tidak senang kepadanya. Kedua, istri yang tidur malam, sementara suaminya masih sakit hati kepadanya. Ketiga, dua saudara yang tidak saling menyapa.”

Inilah saatnya lebaran: waktu terbaik untuk saling berbenah dan menyucikan hati, agar sholat serta ibadah kita diterima Allah SWT, dan hidup pun dipenuhi ketenangan dalam limpahan rahmat-Nya.

Mudah-mudahan Ramadhan kali ini bukanlah Ramadhan terakhir bagi kita, dan Allah SWT senantiasa mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Amin ya Rabbal Alamin.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. وَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ × ٧ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، هُوَ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَقَّ حَمْدِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ عَبْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْوَفِيُّ بِعَهْدِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَكُمْ أَمْرًا عَمِيْمًا، فَقَالَ جَلَّ جَلَالُهُ عَلِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَقُضَاتَنَا وَعُلَمَاءَنَا وَفُقَهَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا صَلَاحًا تَامًّا، وَهُدَاةَ الْمُهْتَدِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَهْلِكْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَفُكَّ أَسْرَ الْمَأْسُوْرِيْنَ، وَفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوْبِيْنَ، وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Klik ikon printer di bawah teks ini untuk mencetak atau download naskah khutbah nya.
BACA JUGA:  Naskah khutbah lainnya di kolom KHUTBAH.