
BANYUMAS, nubanymas.com – Menjadi kiai, tokoh masyarakat, atau pengasuh pondok pesantren sering kali dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan bagi seorang santri setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, pandangan ini ditepis oleh KH Ubaidillah Shodaqoh.
Dalam ceramahnya di acara Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Anwarul Falah, Jatilawang, Banyumas, Sabtu (07/02) malam, ia menekankan bahwa pengabdian santri tidak seharusnya tersekat pada status sosial atau jabatan tertentu.
”Santri tidak harus menjadi pengasuh pondok setelah lulus. Di mana pun berada, ilmunya bisa diamalkan dan memberikan manfaat,” ujar Kiai Ubaidillah di hadapan ratusan santri dan wali murid.
Menurut Kiai Ubaidillah, esensi dari pendidikan pesantren adalah tafaquh fiddin atau pendalaman ilmu agama sebagai fondasi karakter. Ia mengingatkan bahwa proses ini tidak bisa dipandang secara instan.
Ia mengkritik logika pendidikan yang sering kali disamakan dengan sistem pabrik yang hanya berorientasi pada hasil cepat atau ketersediaan lapangan kerja.
”Pendidikan anak tidak bisa disamakan seperti di pabrik. Tidak selalu anak yang disekolahkan akan langsung mendapat pekerjaan dan hidupnya menjadi mudah,” tuturnya.
Bagi pesantren, keunggulan utama terletak pada pembinaan karakter selama 24 jam melalui kedisiplinan dan keteladanan, bukan sekadar transfer materi di dalam kelas.
Selain aspek kurikulum, Kiai Ubaidillah menyoroti hal yang sering luput dari perhatian: peran orang tua dalam mendukung sisi spiritual anak. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan kehalalan biaya pendidikan yang diberikan orang tua.
Ia mengibaratkan pendidikan anak seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar berkualitas agar mesinnya dapat berjalan normal.
”Kalau sumbernya tidak halal, maka proses pendidikannya akan banyak mengalami kendala,” tegasnya.
Terakhir, ia mengajak para santri untuk tetap istiqomah dan meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Ia menegaskan bahwa tujuan utama “mondok” bukanlah untuk mengejar kepentingan duniawi atau posisi tertentu di masyarakat.
Ia menjelaskan jumlah santri masih relatif sedikit jika dibanding populasi penduduk Indonesia, karenanya kontribusi mereka dianggap krusial jika mampu menempatkan diri di berbagai bidang kehidupan.
”Mondok itu bukan untuk mencari dunia. Namun Allah menjanjikan rezeki bagi orang-orang yang menuntut ilmu atau berilmu agama,” pungkasnya.
(Ahyar)










