Oleh: Mujiburrohman
Mahasantri Ma’had Aly Andalusia, Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas
Al-Qur’an tidak pernah memilih lafaz secara kebetulan. Setiap huruf, harakat, dan susunan kalimatnya tersusun dengan ketelitian maknawi yang tinggi. Di antara bentuk ketelitian tersebut adalah penggunaan satu huruf kecil, yakni huruf wāw (و), dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah ayat 36 yang mengisahkan peristiwa monumental dalam sejarah manusia: turunnya Nabi Adam ‘alaihissalām dari surga ke bumi.
Allah SWT berfirman:
﴿فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّیۡطَـٰنُ عَنۡهَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِیهِۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُوا۟ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوࣱّۖ وَلَكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرࣱّ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِینࣲ﴾
(QS. Al-Baqarah: 36)
Ayat ini menjelaskan bagaimana setan berhasil memperdaya Nabi Adam dan Siti Hawa sehingga keduanya tergelincir dari ketaatan dan dikeluarkan dari kenikmatan surga. Namun perhatian para ulama tafsir tidak berhenti pada aspek naratif peristiwa tersebut, melainkan juga tertuju pada redaksi perintah ilahi setelahnya, yakni lafaz:
ٱهۡبِطُوا۟
“Turunlah kalian.”
Secara kaidah bahasa Arab, apabila suatu perintah hanya ditujukan kepada dua orang, maka bentuk yang digunakan adalah ihbiṭā (اهبطا). Akan tetapi, Al-Qur’an justru menggunakan bentuk jamak dengan wāw al-jamā‘ah, yang menunjukkan bahwa subjek perintah tersebut lebih dari dua. Dari sinilah lahir pertanyaan ilmiah yang penting: siapakah yang sebenarnya tercakup dalam perintah “turunlah kalian” tersebut?
Imam asy-Syāwī dalam Ḥāsyiyah asy-Syāwī ‘alā Tafsīr al-Jalālain menjelaskan bahwa penggunaan bentuk jamak pada lafaz ihbiṭū mengandung hikmah yang mendalam. Bentuk jamak tersebut dapat dipahami dengan mempertimbangkan keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa yang kelak akan memenuhi bumi. Selain itu, perintah tersebut juga berpotensi mencakup makhluk lain yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Imam asy-Syāwī menyatakan:
أشار بذلك إلى حكمة الإتيان بالواو في اهبطوا أي الجمع، باعتبار ما اشتملا عليه من الذرية، ويحتمل أن الأمر لآدم وحواء وإبليس والحية
Dengan demikian, perintah “turunlah kalian” tidak hanya ditujukan kepada Nabi Adam dan Siti Hawa, tetapi juga mencakup Iblis dan ular yang menjadi perantara tipu daya setan.
Sebagian riwayat tafsir klasik juga menyebutkan rincian tempat turunnya masing-masing makhluk tersebut:
1. Nabi Adam ‘alaihissalām diriwayatkan diturunkan di India, di sebuah tempat yang dikenal dengan Sarandīb.
2. Siti Hawa diturunkan di wilayah Jeddah, tepatnya di Jabal Rahmah.
3. Iblis diturunkan di al-Ubullah, kawasan pelabuhan di Irak,
4. ular diturunkan di Isfahan, wilayah yang kini termasuk Iran.
Riwayat-riwayat ini banyak ditemukan dalam literatur tafsir klasik dan menjadi bagian dari khazanah penjelasan para mufassir, meskipun tidak bersifat pasti.
Dalam konteks lafaz fa-azallahumā, Imam ath-Thabari dalam Jāmi‘ al-Bayān memberikan perhatian khusus terhadap perbedaan qirā’ah. Menurut beliau, bacaan yang paling kuat adalah dengan tasydid pada huruf lām, sehingga bermakna istazallahumā, yaitu menjadikan keduanya tergelincir dan terjerumus ke dalam kesalahan. Ath-Thabari menegaskan bahwa penyandaran keluarnya Adam dan Hawa dari surga kepada Iblis bukan berarti Iblis memiliki kekuasaan independen, melainkan karena ia menjadi sebab terjadinya pelanggaran yang berujung pada konsekuensi tersebut.
Ath-Thabari juga meriwayatkan kisah panjang dari Wahb bin Munabbih tentang bagaimana Iblis menipu Nabi Adam dan Siti Hawa melalui perantara ular. Riwayat ini tergolong isrā’īliyyāt, yakni kisah-kisah yang bersumber dari tradisi Ahlul Kitab dan masuk ke dalam literatur tafsir Islam. Para ulama telah menetapkan kaidah dalam menyikapi riwayat semacam ini, yaitu boleh diriwayatkan sebagai bahan penjelasan, namun tidak dibenarkan untuk diyakini secara pasti kecuali jika dikuatkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Kaidah tersebut dikenal dengan ungkapan:
نروي ولا نصدق ولا نكذب
Dari satu huruf wāw dalam lafaz ihbiṭū, para ulama tafsir membuka cakrawala pemahaman yang luas tentang awal ujian kemanusiaan di bumi, hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, serta dimulainya perjalanan panjang manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hal ini menegaskan bahwa ketelitian dalam membaca Al-Qur’an dengan perangkat ilmu bahasa dan tafsir bukanlah perkara sepele, melainkan pintu menuju pemahaman wahyu Ilahi yang mendalam dan proporsional. Tidak jarang, makna yang besar justru tersembunyi di balik detail yang tampak kecil.













