Haul ke-16 Gus Dur di Ajibarang, Refleksi Keteladanan dan Cerita Unik Sang Guru Bangsa

Haul ke-16 Gus Dur di Ajibarang, Refleksi Keteladanan dan Cerita Unik Sang Guru Bangsa
Haul ke-16 Gus Dur di Ajibarang, Refleksi Keteladanan dan Cerita Unik Sang Guru Bangsa

AJIBARANG, nubanyumas.com – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) MWC NU Ajibarang menyelenggarakan Refleksi Akhir Tahun 2025 sekaligus peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kegiatan ini digelar di Padepokan Lingsir Wengi, Desa Ajibarang Kulon, Rabu (31/12/2025) malam.Pembacaan tahlil oleh Rais Syuriah MWC NU Ajibarang, KH Zulfa Muhammad Nur mengawali kegiatan Haul yang dihadiri oleh pengurus MWC NU Ajibarang ini.

​Ketua MWC NU Ajibarang, H. Slamet Ibnu Ansori, menegaskan bahwa peringatan Haul Gus Dur telah menjadi tradisi rutin setiap tahun di wilayahnya. Menurutnya, meneladani Gus Dur adalah upaya menjaga spirit perjuangan Nahdlatul Ulama.

​“Peringatan Haul Gus Dur di Ajibarang sudah menjadi tradisi. Bagaimanapun kondisinya dan sesederhana apa pun situasinya, kegiatan ini harus tetap dilaksanakan,” kata Slamet.

​Ia juga memberikan catatan mengenai pentingnya menjaga keikhlasan dalam berkhidmah di NU, berkaca pada keteladanan para pendiri (muassis) NU yang ditekankan dalam peringatan Haul Gus Dur tahun ini.

​Dalam sesi refleksi, terungkap sisi-sisi humanis Gus Dur yang memiliki kedekatan dengan wilayah Ajibarang. Slamet menceritakan bahwa saat melintas di wilayah Ajibarang, Gus Dur memiliki kuliner langganan, yakni sebuah warung soto di dekat lampu merah.

​Cerita unik lainnya datang dari kedekatan Kiai Zaenun dengan Gus Dur. Dikisahkan, saat Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Kiai Zaenun sempat ingin menemuinya. Untuk mengenalkan diri, Kiai Zaenun menggunakan kata kunci (password) “Manuk Emprit”.

​Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan masa muda saat Gus Dur nyantri di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang. Kala itu, Kiai Zaenun sering menemani Gus Dur memikat burung emprit. Gus Dur kecil dikenal memiliki kepedulian pada makhluk hidup; burung yang didapat akan dipelihara, dan setelah besar dilepaskan kembali oleh Gus Dur, saat buru tersebut sudah terbang, dengan satu tepukan tangan saja, burung emprit tersebut langsung kembali nggesit ke tangan Gus Dur.

​Narasumber lain, Djito el Fateh, Wakil Sekertaris PCNU Banyumas memaparkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang telah mencapai derajat Ilmu Yaqin, Ainul Yaqin, hingga Haqqul Yaqin. Ketiga prinsip spiritual tersebut tercermin nyata dalam sikap Gus Dur yang selalu berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

​”Gus Dur adalah tokoh yang dibuka betul (mata batinnya) oleh Allah. Keberpihakannya pada manusia dan kemanusiaan adalah cerminan dari keyakinan yang mendalam tersebut,” ungkap Djito.

​Sementara itu, Nisful Aji, Ketua PC IPNU Banyumas pertama turut mengenang dinamika IPNU di masa lalu saat merespons kehadiran Gus Dur dalam acara-acara besar di Banyumas, termasuk saat Harlah Muslimat di Purwokerto. Ia menceritakan bagaimana santri dan kader IPNU kala itu selalu berebut untuk sekadar berfoto dengan Gus Dur sebagai bentuk kecintaan.

​Ketua Lakpesdam NU Ajibarang, Mahbub Fuad Wibowo berharap kegiatan refleksi ini mampu memotivasi kader NU di Ajibarang untuk terus bergerak dan meneladani jejak langkah para tokoh terdahulu dalam menjaga marwah organisasi dan melayani umat.

“Semoga kita selalu bisa belajar dan mengambil pelajaran dari para ulama dan kiai terdahulu,” pungkasnya.

Tulisan sebelumnyaJambore Pelajar NU Cilongok: ‘Bukan Sekadar Kemah’, Kader NU ditantang Adaptasi Era Digital

TULIS KOMENTAR

Tuliskan komentar anda disini
Tuliskan nama anda disini