KEBASEN, nubanyumas.com – Di Kecamatan Kebasen, Banyumas, Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi, tapi sudah jadi urat nadi kehidupan warga. Di sinilah Hamam Hartono memulai pengabdian barunya sebagai Ketua MWCNU Kebasen masa khidmat 2026–2031.
Pria kelahiran 29 Maret 1983 ini melihat jabatan tersebut bukan sebagai kursi kekuasaan, melainkan tanggung jawab moral yang berat.
“Bagi saya, NU itu nggak cukup dijalankan lewat urusan administrasi saja. NU harus dihidupi dengan hati dan niat pengabdian yang benar-benar tulus,” kata Hamam saat berbincang santai mengenai rencananya ke depan dengan nubanyumas.com beberapa waktu yang lalu.
Latar belakang Hamam cukup lengkap, mulai dari bangku kuliah di UIN Sunan Kalijaga hingga kehidupan pesantren di Inayatullah Sleman dan Nurul Ummah Kotagede. Pengalaman nyantri inilah yang menurutnya jadi modal utama dalam memimpin.
“Di pesantren, saya diajarkan kalau ilmu itu harus ada adabnya. Memimpin itu ternyata nggak cuma modal pintar atau jago bicara, tapi yang paling penting bisa memberi contoh yang baik buat orang lain,” tambahnya.
Sebelum sampai di posisinya sekarang, Hamam sudah kenyang pengalaman di akar rumput. Ia pernah aktif di PAC Ansor Kebasen hingga menjabat sebagai Ketua LP Ma’arif NU Kebasen. Di luar organisasi, ia sempat menjadi Kepala MI Islamiyah Bangsa dan kini aktif sebagai Kepala Urusan Keuangan di Desa Randegan.
“Pengalaman di sekolah dan di balai desa itu sangat membantu saya. Di sana saya belajar bagaimana mengelola lembaga, mengatur keuangan dengan transparan, dan yang paling utama: menjaga kepercayaan orang banyak,” jelasnya.
Untuk periode 2026–2031 ini, Hamam punya tiga kata kunci yang jadi pegangannya: Berdedikasi, Bersinergi, dan Istimewa. Soal dedikasi, ia tidak mau ada pengurus yang bekerja setengah hati. Menurutnya, kalau sudah niat berkhidmat di NU, maka tenaga dan pikiran harus dicurahkan sepenuhnya.
Ia juga ingin semua elemen NU, mulai dari Banom hingga tingkat Ranting, bisa berjalan beriringan tanpa ada yang merasa lebih hebat sendiri. “Kita ini satu barisan, satu tujuan. Kalau nggak bareng-bareng, susah kita mau maju,” tegas Hamam.
Visi paling menarik adalah kata “Istimewa”. Bagi Hamam, ukuran istimewa itu sederhana: sejauh mana masyarakat merasakan manfaat dari adanya NU. Ia merasa keberadaan organisasi harus nyata dampaknya bagi kehidupan warga di Kebasen, bukan sekadar kumpul-kumpul rutin saja.
Menutup obrolan, Hamam mengingatkan pentingnya kaderisasi sebagai nyawa organisasi. “Kaderisasi itu napas kita. Kalau kaderisasi macet, NU bakal kehilangan masa depannya. Kita ingin NU Kebasen ke depan tidak cuma besar jumlah warganya, tapi juga istimewa manfaatnya,” tutupnya.
editor: ahyar













