Gus Anam: Perjalanan Menuju Allah itu Sulit. Tapi…

Gus Anam: Perjalanan Menuju Allah itu Sulit. Tapi...

PADA Jumat malam, dua bulan yuang lalu, di Plaza Lobby PBNU Jakarta Pusat, suasana tampak berbeda dari biasanya. Di antara riuh Ibu Kota yang tak pernah benar-benar tidur, Idarah ‘Aliyyah JATMAN menggelar Diskusi Tasawuf & Tarekat bulanan pertemuan ke-3. Dengan tema “Praktik Syariat, Hakikat, Tarekat, dan Ma‘rifat sebagai Tahapan Perjalanan Menuju Allah,” forum yang berlangsung pukul 19.00–22.00 WIB itu disiarkan langsung via kanal Youtube Televisi Nahdlatul Ulama.

Di sinilah KH Zuhurul Anam-lebih dikenal sebagai Gus Anam-mengawali ceramahnya. Ia membuka dengan sebuah pengalaman yang kelihatannya sepele, tetapi justru menjadi pintu bagi penjelasan panjang tentang hakikat ilmu batin. Suatu hari, dari dalam mobilnya, Gus Anam mendengar seorang ustaz di Purwokerto yang mengaji lewat radio, menyatakan bahwa dalam Islam tidak ada istilah hakikat dan makrifat. Bahkan lebih jauh, ustaz itu menyebut orang yang meyakini keberadaan hakikat dan makrifat sebagai “orang yang otaknya ditaruh di pantatnya.”

“Lha, tiba-tiba saya tidak sengaja membaca kitab Latāiful Minan,” ujar Gus Anam. Kitab karya Imam Ibn ‘Aṭāillah al-Sakandarī itu berisi riwayat tentang para guru besar tasawuf- menemukan jawaban yang telak terhadap klaim sang ustaz. Dalam kitab itu terdapat nukilan hadis ketika Rasulullah bertemu sahabat Haritsah.

“Likulli syai’in ḥaqīqah, famā ḥaqīqatu īmānik?” tanya Nabi. Di sinilah, kata Gus Anam, istilah hakikat justru muncul dari Rasulullah sendiri. Demikian pula dengan makrifat, muncul ketika Nabi menegaskan kepada Haritsah yang menggambarkan keadaan batinnya: “Arofta idzan falzam.” Maka “arif” -akar kata makrifat-lahir dari lisan Rasul sendiri.

Penjelasan Gus Anam tak berhenti di sana. Ia membawa para hadirin menelusuri kembali hadis Jibril yang menjadi fondasi tiga lapisan agama: Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya, kata dia, kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu: akidah, syariah, dan tazkiyah. Dari tazkiyah-lah lahir apa yang kemudian disebut tasawuf. Bahwa istilahnya mungkin baru muncul belakangan, tetapi esensinya setua perjalanan ruhani umat sejak zaman Nabi.

Di hadapan jamaah malam itu, Gus Anam menjelaskan bagaimana para ulama besar-dari mulai Uwais al-Qarni, Hasan al-Bashri, Habib al-Ajami, Ma’ruf al-Karkhi, hingga Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Bahauddin Naqsyabandi-menjadi sebuah mata rantai keilmuan yang panjang, menjadi jalan ihsan, kemudian menurunkannya kepada para murid-muridnya. Dari itu kemudian lahir puluhan tarekat, berbeda nama tetapi satu tujuan: mendekat kepada Allah.

Ia menyinggung bahwa tarekat bukanlah perjalanan sembarangan. Ada suhbah, rabitah, iltizam al-awrad, dan muraqabah. Ada mursyid dan ada idzn-otorisasi ruhani yang bersambung hingga Rasulullah. Ia menceritakan bagaimana Syekh Junaid al-Baghdadi enggan mengajar sebelum mendapatkan izin melalui mimpi bertemu Rasul. Cerita-cerita seperti itu melayang di udara Plaza Lobby PBNU, disambut dengan tawa kecil, decak kagum, dan sesekali keheningan yang panjang.

Dalam ceramahnya, Gus Anam menyentil realitas masa kini: betapa sulitnya mencapai maqam makrifat. “Orang yang makrifat itu tidak suka uang,” katanya sambil tertawa, membuat hadirin juga ikut tertawa. Tetapi pesan moralnya jelas: perjalanan menuju Allah menuntut pelepasan diri dari dominasi dunia. Ia mencontohkan kedermawanan Imam Malik yang menghadiahkan kudanya kepada Imam Syafi’i muda hanya karena sang murid terlihat menyukainya. “Ini kiai sekarang, insyaallah belum ada yang sanggup,” selorohnya.

Tawa kembali pecah, tetapi di balik humor itu ada kritik halus mengenai betapa beratnya perjalanan spiritual di zaman serba material ini. Bahkan para mursyid sekalipun, kata Gus Anam, kadang mungkin baru sampai pada tahap “ketua gerakan zikir”-belum tentu sampai pada derajat arif yang sesungguhnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tarekat tetap membuahkan sesuatu bagi para penempuhnya: istikamah. Dari baiat, dari rasa tanggung jawab, dari keterhubungan ruhani kepada para guru sebelumnya, tumbuh madad, bantuan batin yang pelan-pelan menuntun seseorang menuju ketenangan. Seperti lampu yang menyala karena terhubung dengan pusat listrik, demikian pula hati manusia bersinar ketika tersambung kepada bimbingan guru-guru saleh.

Malam itu, diskusi JATMAN seperti tak lagi jadi pengajian biasa. Ia seperti berubah menjadi sebuah lorong kecil yang membuka kembali jalan panjang yang telah ditempuh para orang-orang sholeh sejak berabad-abad lalu: perjalanan menundukkan diri, merawat hati, yang perlahan-lahan mendekat kepada ilahi rabbi.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta yang padat, ceramah Gus Anam seperti tanda koma, sebelum titik, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri: Sudah sejauh mana perjalanan iman ini kita?

(ahyar)