PURWOKERTO, nubanyumas.com — Konferensi Cabang (Konfercab) XL PC PMII Purwokerto yang digelar pada 4-5 Maret 2026 di Aula PCNU Banyumas telah menetapkan Banu Ardy Prayogi sebagai ketua baru organisasi mahasiswa yang didirikan oleh Mahbub Junaidi itu.
Banu maju sebagai calon ketua tanpa tangan kosong, ia datang dengan visi yang tegas, “Bergerak dan Berdampak.” Bukan sekadar jargon, visi tersebut kemudian ia jabarkan dalam enam misi konkret yang akan menjadi peta jalan kepemimpinannya ke depan.
Lantas, mau apa PMII Purwokerto di bawah komando Banu? Dalam wawancara eksklusif bersama nubanyumas.com, ia menguraikan visi misinya dengan gamblang.
Berikut petikan lengkapnya:
Anda mengusung visi “Bergerak dan Berdampak”. Bisa dijelaskan makna di balik dua kata itu?
Visi “Bergerak dan Berdampak” merupakan komitmen kami untuk menghadirkan organisasi yang aktif, progresif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kader, kampus, serta masyarakat.
“Bergerak” kami maknai sebagai semangat kolektif seluruh kader untuk terus menjalankan roda organisasi secara dinamis, responsif terhadap perubahan zaman, serta konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai PMII dalam setiap langkah gerakan. Gerak ini tidak hanya terbatas pada aktivitas internal organisasi, tetapi juga mencakup keterlibatan aktif dalam merespons berbagai persoalan sosial, keumatan, dan kebangsaan.
Sementara “Berdampak” adalah orientasi dari setiap gerakan yang kami lakukan. Setiap program, kebijakan, dan aktivitas organisasi harus mampu memberikan pengaruh positif, baik dalam penguatan kualitas kader, distribusi peran kader di berbagai ruang strategis, maupun kontribusi nyata terhadap masyarakat.
Jadi, PMII Purwokerto ke depan harus seperti apa?
Organisasi ini tidak boleh hanya menjadi ruang berhimpun semata. PMII harus menjadi motor penggerak perubahan yang menghadirkan gagasan, gerakan, dan aksi nyata.
Setiap kader harus didorong untuk terus berinisiatif, berkolaborasi, serta memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk teknologi dan media sosial, guna memperluas jangkauan gerakan dan memastikan bahwa setiap langkah organisasi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Anda membawa enam misi. Mari kita bahas satu per satu. Misi pertama tentang nilai-nilai PMII. Mengapa ini penting?
Organisasi yang kuat tidak hanya dibangun dari semangat kolektif, tetapi juga dari nilai yang menjadi fondasi gerakan. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan langkah organisasi harus selalu menjunjung tinggi serta mengimplementasikan nilai-nilai PMII sebagai landasan berpikir dan bertindak.
Nilai tersebut menjadi kompas moral sekaligus ideologis agar setiap program, keputusan, dan arah gerakan tetap berorientasi pada penguatan kader, keberpihakan kepada masyarakat, serta konsistensi terhadap prinsip keislaman dan kebangsaan.
Misi kedua adalah membentuk sistem kaderisasi berbasis fakultatif dan profesional. Apa maksudnya?
Sistem ini kami rancang agar proses pengembangan kader tidak hanya berlangsung secara formal, tetapi juga memperhatikan minat, potensi akademik, serta kompetensi masing-masing kader sesuai bidangnya.
Dengan demikian, kaderisasi tidak sekadar menghasilkan kuantitas anggota, melainkan juga melahirkan kader yang memiliki kapasitas intelektual, keterampilan organisasi, serta profesionalitas dalam berbagai sektor.
Kami ingin kader PMII tidak hanya militan, tetapi juga kompeten.
Misi ketiga tentang penguatan ruang distribusi kader. Bisa dijelaskan?
Ini adalah agenda penting yang harus kami bentuk secara struktural. Tujuannya agar kader-kader yang telah melalui proses kaderisasi dapat ditempatkan dan berperan aktif dalam berbagai ruang strategis, baik di lingkungan kampus, organisasi kemasyarakatan, lembaga publik, maupun sektor profesional lainnya.
Dengan adanya sistem distribusi yang terstruktur, potensi kader dapat dimaksimalkan sekaligus memperluas pengaruh gerakan organisasi di berbagai lini kehidupan.

Misi keempat cukup menarik. Anda ingin PMII menjadi kolaborator sekaligus pengawas kebijakan publik. Bagaimana menyeimbangkan dua peran itu?
Peran ini menuntut organisasi untuk aktif membangun kerja sama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah daerah, lembaga masyarakat, serta komunitas lokal, tanpa kehilangan fungsi kritisnya sebagai pengontrol kebijakan.
Kami ingin memposisikan PMII Purwokerto sebagai mitra dialog yang konstruktif, namun tetap berani menyuarakan kritik ketika kebijakan tidak berpihak pada rakyat.
Dengan posisi tersebut, organisasi dapat turut memastikan bahwa setiap kebijakan publik berpihak pada kepentingan masyarakat dan mencerminkan prinsip keadilan sosial.
Misi kelima tentang advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Apa strateginya?
Program advokasi dan pemberdayaan masyarakat perlu dimasifkan secara terencana dan berkelanjutan. Advokasi tidak hanya kami lakukan sebagai respons terhadap persoalan yang muncul, tetapi juga sebagai upaya proaktif dalam mendampingi masyarakat, memperjuangkan hak-haknya, serta meningkatkan kapasitas komunitas agar lebih mandiri dan berdaya.
Program pemberdayaan ini menjadi manifestasi nyata dari komitmen organisasi dalam menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
PMII harus hadir di tengah rakyat, bukan hanya di ruang-ruang diskusi.
Misi terakhir tentang teknologi dan media sosial. Seberapa penting hal ini bagi PMII?
Sangat penting. Di tengah perkembangan zaman yang semakin digital, pemanfaatan teknologi dan media sosial menjadi instrumen krusial dalam ekspansi gerakan organisasi.
Platform digital dapat kami manfaatkan untuk menyebarkan gagasan, memperluas jaringan, membangun ruang diskusi publik, serta mengonsolidasikan kader secara lebih efektif.
Dengan strategi komunikasi yang adaptif dan kreatif, organisasi dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat sekaligus memperkuat eksistensi gerakan di era transformasi digital.
Terakhir, apa pesan Anda untuk seluruh kader PMII Purwokerto?
Pesan saya sederhana: mari bergerak bersama dan pastikan setiap langkah kita berdampak.
Jangan hanya aktif tanpa arah, dan jangan hanya berencana tanpa aksi. PMII Purwokerto harus menjadi organisasi yang benar-benar dirasakan kehadirannya, oleh kader, oleh kampus, dan oleh masyarakat.
Kita harus membuktikan bahwa PMII bukan sekadar nama, tapi gerakan nyata yang membawa perubahan.
Penulis: H Ahyar












