Beranda Keislaman

Apakah Amal Ibadah Kita Diterima Allah?

Cerita (Orang) NU Desa
Cerita (Orang) NU Desa

Di bulan Ramadan yang penuh keberkahan ini, kita semua mengamalkan berbagai macam ibadah yang sangat banyak. Seperti puasa, salat tarawih, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.

Akan tetapi, apakah amal kita diterima? Ataupun terbersit di pikiran kita, “Akan diapakan amal kita oleh Allah?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah lebih dahulu menjelaskan penerimaan amal ini ketika memperingatkan Bani Israil.

QS. Al-Isra’: Ayat 7 (Juz 15)

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.”

Imam Ash-Shawi melanjutkan penjelasan di ayat ini. Arti dari أحسنتُم لأنفسكم (Kebaikan itu untuk dirimu sendiri) ialah:

فلا يصل إلي شيء من طاعتكم؛ إذ مستحيل على الله تعالى أن يصل له من عباده نفع أو ضر

“Tidak akan sampai satu pun ketaatan kalian kepada Allah, karena mustahil bagi Allah untuk sampai kepada-Nya manfaat ataupun bahaya dari hamba-Nya.”

Oleh karena itu, tidak sepatutnya bagi manusia untuk berbangga diri dengan ketaatannya, melainkan ia mengerjakan ketaatan-ketaatan tersebut sembari mengharap penerimaannya dari Tuhannya.

Karena hal itu (ketaatan) adalah tanda atas kebahagiaan yang langgeng bagi pelakunya, dan bahwa ia termasuk penduduk surga (kenikmatan).

Maka Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:

​يَا عِبَادِي؛ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu sampai pada tingkatan memberi bahaya kepada-Ku sehingga kalian bisa membahayakan-Ku, dan kalian tidak akan mampu sampai pada tingkatan memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian bisa memberi manfaat kepada-Ku.”

​وَإِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوفِيكُمْ إِيَّاهَا

“Sesungguhnya itu hanyalah amal-amal perbuatan kalian, Aku hitung (catat) untuk kalian kemudian Aku sempurnakan balasannya bagi kalian.”

​فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ الله، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلا يَلُومَنَّ إِلا نَفْسَهُ

“Maka barangsiapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.”

Semoga semua amal kita diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu a’lam.

Penulis: Mujiburrohman
(Mahasantri Mahad Aly Andalusia Kebasen Banyumas)