NUBANYUMAS.COM – Setiap kali menjelang awal bulan Ramadhan, telinga kita pasti akrab dengan istilah “Sidang Isbat”. Di sana, para ahli berkumpul memantau hilal (bulan sabit muda) untuk menentukan kapan kita mulai puasa.
Mungkin terbersit di pikiran kita: “Kok sakti banget ya, cuma lihat bulan sebentar langsung tahu besok puasa?” Apa ada tanda rahasia di sana? Atau jangan-jangan di permukaan bulan ada tulisan “Besok Puasa, Bang!”? Tentu tidak sesederhana itu.
Ternyata, rahasia ketepatan waktu ini sudah dijelaskan dengan sangat indah di dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Hijr ayat 16:
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan gugusan bintang (buruj) di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang-orang yang memandang.”
Apa itu Buruj?
Dalam literatur Islam, istilah buruj sering diterjemahkan sebagai gugusan bintang atau zodiak. Buruj di sini merujuk pada kumpulan bintang tetap (thawabit) yang polanya tidak berubah jika dilihat dari bumi.
Karena bentuknya yang unik, manusia zaman dulu melihat pola-pola ini mirip hewan atau benda, lalu menamainya. Kelompok bintang inilah yang menjadi “jalur tol” bagi lintasan Matahari.
12 Gugusan Bintang Menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan bahwa buruj terdiri dari 12 gugusan utama yang mungkin kita kenal dengan nama zodiak versi Arab:
Al-Hamal (Aries)
Ats-Tsaur (Taurus)
Al-Jauza’ (Gemini)
As-Sarthan (Cancer)
Al-Asad (Leo)
As-Sunbulah (Virgo)
Al-Mizan (Libra)
Al-‘Aqrab (Scorpio)
Al-Qaus (Sagitarius)
Al-Jadi (Capricorn)
Ad-Dalwu (Aquarius)
Al-Hut (Pisces)
Uniknya, para ulama seperti Imam Asy-Syuthi dalam Hasyiyah ash-Shawi juga menyebutkan bahwa tujuh planet yang kita kenal memiliki “rumah” di gugusan bintang ini. Misalnya, Bulan (Al-Qamar) “berumah” di Cancer, sementara Matahari (Asy-Syams) bernaung di Leo.
Perspektif Ahli Falak
Bagi ahli falak, bintang-bintang ini bukan pajangan belaka. Mereka menyebutnya sebagai “persinggahan” matahari. Karena matahari tampak bergerak dalam lintasan melingkar (ekliptika) selama setahun, para ahli membagi lintasan itu menjadi 12 bagian—sesuai jumlah bulan.
Dari sinilah kita bisa tahu kapan musim berganti dan kapan bulan berganti. Para pendahulu kita mengamati posisi matahari di siang hari dan mencocokkannya dengan posisi bintang di malam hari secara berulang-ulang. Begitu matahari kembali ke titik awal (setelah melewati 12 rasi bintang), genaplah hitungan satu tahun (haul).
Contohnya, saat matahari berada di posisi Al-Hamal (Aries), itu biasanya bertepatan dengan masuknya musim semi atau sekitar bulan April.
Ilmu memetakan langit ini awalnya dipelopori oleh bangsa Kaldania (Chaldean), lalu disempurnakan oleh bangsa Arab. Al-Qur’an menggunakan fenomena buruj ini sebagai bukti nyata betapa akurat dan agungnya ciptaan Allah.
Jadi, penentuan awal Ramadhan lewat hilal bukanlah tebak-tebakan, melainkan bagian dari sistem alam semesta yang sangat presisi. Langit adalah jam raksasa yang Allah ciptakan agar manusia bisa mengatur waktu ibadah dan kehidupannya dengan teratur.
Penulis: Mujiburrohman
(Mahasantri Mahad Aly Andalusia Kebasen Banyumas)













