Beranda Keislaman

Kultum Ramadhan: Jangan Sampai Puasa Kita Hanya “Pindah Jam Makan”

Kultum Ramadhan: Jangan Sampai Puasa Kita Hanya "Pindah Jam Makan"
Kultum Ramadhan: Jangan Sampai Puasa Kita Hanya "Pindah Jam Makan"

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahil ladzii ja’alash shiyama jinnatan minan naar. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Sahabat pembaca nubanyumas.com yang dimuliakan Allah,

Bagaimana kabar iman hari ini? Rasanya baru kemarin kita saling berkirim pesan ucapan selamat menyambut bulan suci, dan kini kita sudah benar-benar berada di dalamnya. Ada rasa haru, ada juga rasa syukur yang membuncah. Namun, di balik keriuhan sahur dan manisnya takjil, ada satu hal yang seringkali luput dari penjagaan kita: Niat.

Seringkali, rutinitas membuat kita lupa esensi. Kita berpuasa karena kalender sudah menunjukkan tanggal 1 Ramadhan. Kita menahan lapar karena memang semua orang di sekitar kita melakukannya. Jika puasa hanya berhenti pada aspek fisik, kita khawatir terjebak dalam peringatan Rasulullah SAW tentang mereka yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Niat: Bukan Sekadar Lisan, Tapi Kesadaran

Dalam tradisi pesantren, kita diajarkan bahwa niat adalah qashdul shay’i muqtarinan bi fi’lihi—menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan perbuatannya. Niat bukan sekadar urusan melafalkan nawaitu shauma ghadin… saat tarawih usai. Lebih dalam dari itu, niat adalah kompas yang menentukan ke mana arah “kapal” ibadah kita akan berlabuh.

Syaikh Ibnu Atha’illah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang keikhlasan:

الأعمال صور قائمة، وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها

“Amal perbuatan itu ibarat jasad yang tegak berdiri, sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia ikhlas di dalamnya.”

Bayangkan sebuah raga tanpa nyawa. Ia ada, tapi tak bergerak. Ia terlihat, tapi tak bermakna. Begitulah puasa tanpa keikhlasan. Ia hanya menjadi ritual kosmetik yang melelahkan fisik, namun kering dari sentuhan Ilahi. Keikhlasan adalah “nyawa” yang membuat lapar kita menjadi cahaya, dan haus kita menjadi penggugur dosa.

Belajar Ikhlas dari Akar Pohon

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Menata hati di awal Ramadhan ini ibarat menanam pohon. Niat adalah akarnya. Akar itu tak terlihat, ia tersembunyi di dalam tanah yang gelap. Ia tidak butuh pujian orang yang melihat indahnya bunga atau rindangnya daun. Namun, karena akar yang kokoh dan ikhlas bekerja dalam senyap itulah, pohon bisa tetap tegak meski badai ujian datang menerjang.

Begitu pula dengan puasa kita. Di tengah tarikan keinginan untuk “memamerkan” kesalehan di ruang publik atau media sosial, mari kita sisakan ruang rahasia antara kita dan Allah. Biarlah rasa lapar kita menjadi rahasia yang paling manis, yang tidak perlu divalidasi oleh jempol orang lain.

Ingatlah firman Allah SWT dalam sebuah Hadits Qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberinya balasan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ayat ini adalah legitimasi bahwa puasa adalah ibadah yang sangat privat. Jika shalat, zakat, dan haji bisa terlihat oleh mata manusia, maka puasa adalah satu-satunya ibadah yang orang lain tidak akan tahu jika kita tidak mengatakannya. Inilah madrasah terbaik untuk belajar ikhlas.

Mengetuk Pintu Langit

Sahabat sekalian, mari kita jadikan hari-hari awal Ramadhan ini sebagai momentum untuk “mencuci” hati. Jangan biarkan hati kita kotor oleh rasa ingin dipuji (riya’), merasa lebih suci dari orang lain (’ujub), atau sekadar mengejar formalitas.

Mari kita berbisik pada diri sendiri di saat sahur: “Ya Allah, aku menahan lapar ini bukan karena adat, bukan karena sungkan pada tetangga, tapi murni karena perintah-Mu dan rindu pada ampunan-Mu.”

Semoga setiap detik yang kita lalui di bulan Ramadhan ini, mulai dari bangun sahur hingga terpejamnya mata setelah tadarus, selalu dalam dekapan niat yang tulus. Semoga Allah berkenan menerima puasa kita yang masih jauh dari sempurna ini.

Allahumma sallimna li Ramadhana, wa sallim Ramadhana lana, wa sallamhu minna mutaqabbala. Ya Allah, selamatkanlah kami untuk menyambut Ramadhan, serahkanlah Ramadhan kepada kami, dan terimalah amal ibadah kami di bulan Ramadhan.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.