PURWOKERTO, nubanyumas.com- Berbeda dengan ormas keagamaan lain yang pergunakan Kalwnder Hijriah Global Tunggal (KHGT), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyumas menegaskan penetapan awal Ramadan 1447 H tetap mengacu pada metode rukyatul hilal dan istikmal.
Rois Syuriah PCNU Banyumas, KH Mughni Labib, MSi, menjelaskan NU memiliki mekanisme metode tersendiri dalam menentukan awal bulan hijriah, yang tidak serta-merta mengikuti kriteria derajat hilal sebagaimana dalam KHGT.
“Kalau dalam KHGT, di mana pun posisi hilal sudah mencapai 5 derajat, maka itu sudah dianggap masuk bulan baru. Itu yang dipakai Muhammadiyah,” ujar KH Mughni Labib, saat muqadimah Refleksi Satu Abad Nahdlatul Ulama PCNU Banyumas di Grand Karlita Hotel Purwokerto 31 Januari 2026.
Namun, menurutnya, NU tetap mengacu dhawuh para kiai termasuk kinerja dan keputusan Lembaga Falakiyah NU yang mendasarkan penetapan awal Ramadan pada hasil rukyatul hilal. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal.
“Kalau NU, kita istikmal bilangan Sya’ban 30 hari,” tegasnya.
Dengan metode tersebut, PCNU Banyumas menyampaikan bahwa awal puasa Ramadan berpotensi berbeda dengan Muhammadiyah atau ormas lainnya. Berdasarkan hasil hisab dan rukyat NU, umat Islam warga Nahdliyin di Banyumas akan memulai puasa pada hari Kamis, setelah Sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari.
KH Mughni Labib menambahkan, perbedaan metode ini perlu disampaikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kebingungan serta tetap menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan penetapan awal ibadah.
“Perbedaan ini sudah biasa dalam fikih. Yang penting saling menghormati dan menjaga persatuan,” pungkasnya.













