KH Yayan Bunyamin di Pesantren Miftahul Huda Pesawahan: “Lima Rukun Islam, yang Gratis Hanya Membaca Syahadat”

KH Yahya Bunyamin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Barat di Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Ahad, (18/1/2026) malam.
KH Yahya Bunyamin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Barat di Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Ahad, (18/1/2026) malam.

RAWALO, nubanyumas.com – Pondok Pesantren Miftahul Huda Pesawahan, Rawalo, Banyumas menggelar Haul Masayyih dan Harlah ke-63 pada Ahad (18/1/2026) malam. Ribuan jamaah dari unsur santri, wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar hadir memadati lokasi acara di kompleks pesantren setempat.

KH Yayan Bunyamin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Barat, hadir sebagai penceramah utama dalam rangkaian acara yang digelar sejak Jumat itu. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan sejumlah pesan mulai dari keindonesiaan, kebangsaan, lingkungan, hingga kemandirian ekonomi umat.

Salah satunya adalah mendorong umat Islam, khususnya para santri, untuk mandiri secara ekonomi. Hal itu, menurutnya, sejalan dengan perintah Nabi Muhammad SAW. Dengan gaya penyampaian yang jenaka namun tajam, Kiai Yayan membedah rukun Islam dari segi “biaya” untuk melaksanakannya.

“Dari lima rukun Islam itu, yang benar-benar gratis hanya membaca syahadat. Sisanya? Butuh modal,” seloroh Kiai Yayan di hadapan ribuan jamaah.

Ia lalu merinci bahwa shalat memerlukan pakaian yang layak untuk menutup aurat, zakat membutuhkan kelebihan harta, puasa memerlukan asupan nutrisi saat sahur dan buka, sementara haji jelas membutuhkan biaya besar.

“Logikanya sederhana, bagaimana kita bisa melaksanakan zakat kalau kita sendiri yang harus menerima zakat? Bagaimana mau berangkat haji kalau untuk makan saja susah? Maka, santri harus kaya, umat Islam harus mandiri,” tegasnya.

Kiai Yayan kemudian meluruskan pandangan keliru sebagian umat Islam yang menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW hidup dalam keadaan miskin. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat kaya dan mandiri secara ekonomi. Hal itu, katanya, tercatat dalam Al-Qur’an.

“Pertama, Nabi itu dilarang menerima zakat dan dilarang mengambil upah dari dakwahnya. Kenapa? Karena Allah sudah menjamin kekayaannya,” tegas Kiai Yayan.

Lebih lanjut, ia memaparkan bukti sejarah bahwa Rasulullah SAW memiliki aset yang luar biasa, mulai dari kepemilikan banyak bidang tanah hingga ribuan ekor unta dan kambing. Etos kerja inilah yang seharusnya diteladani umat Islam saat ini.

“Nabi itu nasionalis dan kaya raya. Maka kita harus berusaha jadi kaya agar agama ini bisa tegak. Islam sangat mendorong umatnya bekerja keras mengumpulkan harta sebagai bekal utama dalam beribadah,” ujarnya.

Selain kemandirian ekonomi, Kiai Yayan juga menekankan pentingnya rasa syukur menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Baginya, mencintai tanah air adalah mandat agama yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi dalilnya.

“Kita tidak bisa memesan lahir di mana, tapi kita wajib bersyukur lahir di Indonesia. Di sini aman, shalat tenang, pengajian bahkan bisa sambil tiduran. Bandingkan dengan saudara kita di Timur Tengah, shalat saja taruhannya nyawa,” tuturnya.

Rasa cinta tanah air ini, lanjut Kiai Yayan, harus diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga ekosistem alam. Ia mengingatkan warga Nahdliyin agar memiliki sensitivitas tinggi terhadap kerusakan lingkungan.

“Bisakah kita hidup tanpa tanah dan air? Tidak bisa. Maka mencintai tanah air berarti tanahnya harus kita olah dan airnya harus kita jaga. Warga NU harus sensitif jika ada kerusakan lingkungan, karena itu adalah bagian dari hal yang kita cintai,” tegas Direktur Aswaja NU Center Jabar tersebut.

Kiai Yayan juga berpesan agar masyarakat tidak meributkan perbedaan latar belakang suku maupun asal-usul kelahiran. Menurutnya, kelahiran adalah bagian dari sejarah yang ‘terima jadi’ dan tidak bisa dipesan oleh manusia.

“Jangan meributkan apa yang tidak bisa kita pesan. Salah satu tujuan Islam adalah menghapus rasisme. Tidak ada rumusnya dalam Islam bahwa suatu suku lebih baik dari suku lainnya,” pungkas Kiai Yayan.

Peserta Khataman Putra Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Banyumas Ahad, (18/1/2026) malam.
Peserta Khataman Putra Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Banyumas Ahad, (18/1/2026) malam.

600 Santri Putra-Putri Ikuti Prosesi Khataman

Ketua Panitia Haul Masyayikh dan Harlah Pesantren Miftahul Huda, KH Hanan Maskur, mengatakan bahwa tahun ini sebanyak 600 santri putra dan putri mengikuti prosesi khataman. Jumlah tersebut mencakup khataman bil ghoib maupun kutubus salafiyah.

“Alhamdulillah, tahun ini peserta khataman mencapai enam ratus santri,” kata KH Hanan kepada nubanyumas.com.

Dari total peserta, santri yang menuntaskan khataman Al-Qur’an 30 juz berjumlah 9 santri putri dan 4 santri putra. Selain itu, ratusan santri lainnya mengikuti khataman kitab kuning, meliputi Jurjumiyah (Nahwu Jawa), Matan, Imtiti, dan kitab-kitab salaf lainnya. Pelaksanaan khataman santri putri diadakan pada Malam Minggu, sementara santri putra pada Malam Senin.

KH Hanan menyampaikan bahwa salah satu peserta khataman Al-Qur’an 30 juz, yaitu Ayu Nurasifah mengikuti pendadaran secara online karena sudah berangkat ke Mesir sekitar satu bulan lalu untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo.

“Pendadaran dilakukan secara daring karena yang bersangkutan sudah berada di Mesir,” jelasnya.

Ayu merupakan lulusan MA Miftahul Huda Rawalo Program Keagamaan (PK) tahun 2025 dan tahun ini berhasil memperoleh beasiswa penuh dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

editor: ahyar