Membaca Mens Rea Pandji Pragiwaksono dalam Konteks Komunikasi Publik Digital

Membaca Mens Rea Pandji Pragiwaksono dalam Konteks Komunikasi Publik Digital
Dr. Turhamun, M.S.I

Kehadiran Mens Rea, pertunjukan stand-up comedy Pandji Pragiwaksono yang dirilis di Netflix, menandai perubahan penting dalam cara komunikasi publik diproduksi dan dikonsumsi di era digital.

Pertunjukan ini tidak sekadar hadir sebagai hiburan, tetapi sebagai teks sosial yang memantik perdebatan, refleksi, dan diskursus lintas ruang. Dalam perspektif tersebut, Mens Rea dapat dibaca sebagai praktik komunikasi yang kompleks, cair, tidak linier, sekaligus sebagai bentuk tindakan komunikatif sebagaimana dikemukakan Jürgen Habermas.

Judul Mens Rea—yang dalam terminologi hukum merujuk pada niat di balik suatu tindakan—menjadi kunci untuk memahami keseluruhan performa ini. Pandji tidak hanya mengajak audiens tertawa, tetapi juga mengajak mereka menimbang intensi di balik ujaran dan respons sosial.

Dengan demikian, Mens Rea menawarkan ruang interpretasi yang terbuka, tidak menutup makna pada satu titik, dan justru mendorong audiens untuk mempertanyakan kembali posisi mereka dalam dinamika komunikasi publik.

Komunikasi yang Cair dan Tidak Linier di Era Platform Digital

Dalam perspektif komunikasi kompleks, komunikasi tidak dipahami sebagai proses satu arah antara komunikator dan komunikan. Sebaliknya, ia merupakan proses dinamis yang melibatkan banyak aktor, konteks, medium, dan pengalaman subjektif secara simultan. Mens Rea bergerak dalam kerangka ini.

Kecairan komunikasi terlihat dari bagaimana pertunjukan ini berpindah lintas platform dan fungsi. Ia hadir sebagai komedi, tetapi sekaligus sebagai kritik sosial dan komentar politik. Saat ditayangkan di Netflix, Mens Rea tidak lagi terikat pada ruang fisik. Potongannya mudah disebarkan, dikutip, dan diperdebatkan di media sosial, menciptakan alur makna baru yang sering kali lepas dari konteks awal.

Ketidaklinieran komunikasi tampak dari respons publik yang beragam. Niat Pandji untuk mengajak audiens berpikir tidak selalu berujung pada kesepahaman. Tawa sebagian penonton dapat berubah menjadi kemarahan bagi pihak lain. Efek komunikasi tidak bergerak dari intensi menuju respons secara lurus, melainkan bercabang, berlapis, dan berulang—ciri khas komunikasi kompleks itu sendiri.

Platform global seperti Netflix memperkuat karakter ini. Audiens Indonesia membawa memori kolektif tentang politik dan identitas, sementara audiens internasional membaca Mens Rea dari lensa budaya lain. Satu teks menghasilkan banyak makna yang hidup berdampingan, bahkan saling bertentangan. Inilah wajah komunikasi publik digital: cair, terbuka, dan sulit dikendalikan.

Lapisan Humor, Kritik, dan Rasionalitas dalam Tindakan Komunikatif

Di balik kecairan komunikasi itu, Mens Rea juga memuat upaya membangun rasionalitas komunikasi sebagaimana dimaksud Habermas. Dalam Teori Tindakan Komunikatif, tindakan komunikatif berbeda dari tindakan strategis karena berorientasi pada pencapaian pemahaman bersama.

Dalam Mens Rea, humor berfungsi sebagai pintu masuk. Ia menciptakan kedekatan emosional dan menurunkan resistensi audiens. Namun di balik tawa, terdapat lapisan kritik yang mempertanyakan cara berpikir publik, pola reaktivitas masyarakat, hingga relasi kuasa dalam ruang sosial. Di lapisan paling dalam, Mens Rea memunculkan pertanyaan tentang kebebasan berekspresi, etika komunikasi, dan batas toleransi dalam ruang publik digital.

Setiap tindakan komunikatif mengandung klaim validitas: kebenaran, ketepatan normatif, kejujuran, dan keterpahaman. Pandji mengajukan semua klaim ini secara terbuka—menyampaikan pandangannya, mempertanyakan norma dominan, menunjukkan posisi personal, dan menggunakan bahasa populer agar mudah dipahami. Namun ia tidak memaksakan konsensus. Ia membuka ruang bagi audiens untuk menyetujui atau menolak. Di sinilah tindakan komunikatif bekerja: dialogis, bukan dominatif.

Ketegangan Makna dalam Ruang Publik Digital

Meski orientasinya menuju pemahaman, proses komunikasi di ruang publik digital tidak sederhana. Ruang publik kini terfragmentasi oleh polarisasi identitas, bias algoritmik, dan emosi kolektif yang mudah tersulut. Idealitas ruang diskursus rasional ala Habermas berhadapan dengan realitas komunikasi yang terpecah dan tidak stabil.

Kontroversi seputar Mens Rea memperlihatkan ketegangan ini. Ketika diperdebatkan di media sosial, pesan Pandji sering mengalami reduksi, distorsi, atau dibingkai ulang dalam konteks yang berbeda. Namun kondisi ini bukan kegagalan komunikasi. Justru ia menunjukkan bahwa pesan tersebut telah memasuki arena diskursus sosial yang lebih luas.

Komunikasi bersifat rekursif: pesan kembali kepada komunikator dalam bentuk kritik, dukungan, atau penolakan, lalu mempengaruhi komunikasi selanjutnya. Pandji sendiri menunjukkan kesadaran akan keterbatasan kontrol atas makna. Ia tidak memosisikan diri sebagai pemegang otoritas moral, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang juga memiliki bias. Sikap reflektif ini memperkuat dimensi dialogis dari tindakannya.

Dengan demikian, Mens Rea merepresentasikan kondisi masyarakat kontemporer: cair dalam identitas, berlapis dalam makna, dan tidak linier dalam dampak. Komunikasi yang bermakna tidak selalu menghasilkan kesepahaman instan. Justru dalam ketegangan, perdebatan, dan ambiguitas makna, ruang publik digital terus dibentuk.

Mens Rea bukan soal setuju atau tidak setuju terhadap materi Pandji Pragiwaksono. Ia adalah contoh bagaimana praktik komunikasi publik bekerja di era digital: penuh ambiguitas, rentan konflik, tetapi tetap menyimpan potensi dialog.

Dalam konteks ini, Mens Rea mengingatkan bahwa komunikasi publik bukan tentang menyampaikan pesan yang sempurna, melainkan tentang keberanian memasuki ruang kompleks di mana makna terus diproduksi, dipertanyakan, dan diperdebatkan bersama.

 

Penulis:
Dr. Turhamun, M.S.I
(Dosen Komunikasi Penyiaran Islam UINSIZU Purwokerto)

BACA JUGA: Opini Menarik Lainya di nubanyumas.com di Rubrik Opini.